31 C
Kudus
Rabu, Juni 29, 2022
spot_img
BerandaBISNISEdy Sulap Limbah...

Edy Sulap Limbah Rokok Jadi Boneka Lilit Bernilai Jual Tinggi, Rambah Jepang dan Eropa

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat duduk sambil memilin kertas tipping rokok (CTP) di teras rumah RT 2 RW 2 Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Setelah terpilin semua, dengan telaten pria tersebut melilitkannya pada kawat yang sudah terbentuk menyerupai manusia lidi. Pria tersebut yakni Edy Purwanto (42) pengrajin boneka lilit dari limbah kertas rokok.

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Edy itu sudi berbagi kisah tentang kerajinan yang dibuatnya. Dia mengatakan, mulai bikin boneka lilit sejak tiga tahun yang lalu. Menurutnya, ide membuat boneka lilit itu berawal dari keinginannya memanfaatkan limbah tali dari kertas rokok produksinya.

Edy sedang membuat boneka lilit di teras rumahnya. Foto: Rabu Sipan.

“Sebelumnya saya itu punya usaha pembuatan tas. Untuk kebutuhan talinya saya bikin sendiri dengan mesin pemintal, tapi malah banyak limbahnya. Padahal niat awal ingin memanfaatkan limbah, kok malah menghasilkan limbah baru,” ujar Edy kepada Betanews.id, Selasa (6/10/2020).

- Ads Banner -

Baca juga: Miniatur Rumah Adat Kudus dari Limbah Mebel Ini Siap Dilepas Rp 20 Juta

Pria yang juga ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Jurang itu menuturkan, dari limbah proses pembuatan tali itu, ia kemudian berpikir untuk memanfaatkannya agar jadi barang bernilai jual. Kemudian muncullah ide untuk membuat boneka lilit. Sebab, boneka itu lebih mudah dan simpel. Dengan berjalannya waktu, ia pun berkreasi lagi dengan membuat aneka kerajinan lainnya.

Di antaranya, ada asbak, figura foto, gantungan kunci, wadah korek, dan aneka kerajinan lainnya. Harga kerajinan tersebut dibanderol antara Rp 50 ribu sampa Rp 60 ribu. Sedangkan untuk boneka lilit ia tawarkan mulai Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu. Namun, untuk boneka souvenir pernikahan ia banderol mulai Rp 3.500.

“Kalau yang paling mahal itu harganya Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Berupa boneka lilit yang dipadupadankan dengan media lain dan mengandung cerita serta filosofi,” jelas pria yang mengenakan kaus merah tersebut.

Baca juga: Sering Kewalahan dan Sehari Laku Puluhan, Sam Ingin Bonsai Kelapanya Go International

Pria yang dikaruniai tiga anak itu menuturkan, meski di zaman sudah serba internet, ia tidak mengandalkan media daring untuk memasarkan produknya. Dia mengaku hanya memasarkan produknya dari mulut ke mulut para pelanggan. Sebab kata dia, rencananya boneka lilit akan dijadikan souvenir wisata Desa Jurang.

“Selama ini pemasaran, ya dari mulut ke mulut. Peminat paling banyak, ya kota sekitar. Luar negeri juga ada, kemarin yang beli dari Jepang dan Eropa, sewaktu ikut Borobudur Art sebagai karya original dari limbah,” ungkapnya.

Untuk proses pembuatan boneka lilit, ia mengaku tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 sampai 15 menit sudah jadi. Kalau sehari ia bisa bikin sekitar 60 boneka lilit. Untuk pengerjaannya, ia juga mengajak anak-anak tetangga berkreasi bikin boneka lilit. Selain belajar berkreasi mereka juga dikasih uang jajan untuk hasil karya yang mereka buat.

“Saya berharap kerajinan dari limbah ini semakin diminati banyak orang. Serta semoga saja akan banyak bermunculan pengrajin-pengrajin yang memanfaatkan limbah jadi barang berekonomi tinggi,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler