Sering Kewalahan dan Sehari Laku Puluhan, Sam Ingin Bonsai Kelapanya Go International

BETANEWS.ID, KUDUS – Ulur Rochim (37) tampak sibuk dengan berbagai macam tunas kelapa, pagi itu. Tanaman yang terjejer di teras rumahnya di Dukuh Ngemplak Wetan RT 3 RW 8, Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu memang tak pernah luput dari perhatiannya. Tanaman tersebut yakni bonsai kelapa yang banyak peminat.

Menurut pria yang akarb disapa Sam, bonsai kelapanya itu memang unik dan sangat menarik sehingga diminati banyak orang. Bahkan, tak jarang ia kewalahan dan kehabisan setok bonsai kelapa. Sebab proses untuk membuat bonsai kelapa butuh waktu yang lumayan. Untuk tumbuh tunas saja, butuh waktu sekitar 120 hari atau empat bulan. Jika pada rentang waktu tersebut tunas tidak tumbuh, berarti bisa dipastikan mati atau gagal.

Sam sedang merawat tanaman bonsai kelapa di rumahnya, Sabtu (1/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Tumbuh tunas saja itu sebenarnya sudah laku, dengan harga paling murah Rp 30 ribu. Namun untuk tumbuh batang kelapanya itu prosesnya lama lagi. Apalagi kalau proses penyayatan bisa tambah berbulan-bulan lagi,” bebernya kepada Betanews.id, Sabtu (1/7/2020).

-Advertisement-

Di tempatnya, dirinya menyediakan bibit dan bonsai kelapa beraneka jenis. Antara lain, jenis kelapa sayur, kelapa genjah hijau, kelapa genjah minion hijau, kelapa coklat, kelapa wulung, dan kelapa kopyor.

Baca juga: Bonsaiku, Jual Bonsai Cantik Harga Menarik

“Untuk harga sangat bervariasi. Mulai Rp 30 ribu sampai Rp 200 ribu. Harga tergantung uniknya akar dan batangnya,” jelasnya.

Dalam sehari, ia bisa menjual 10 hingga 15 pohon bonsai kelapa. Jumlah tersebut untuk penjualan di hari biasa. Kalau hari Jumat dan Ahad penjualan meningkat jadi 30 hingga 40 pohon.

“Pelanggan saya sudah banyak. Selain orang Kudus ada juga yang datang dari Jepara, Demak, Purwodadi, dan Pati. Beberapa kali saya juga kirim ke Semarang, Madiun, bahkan ke Pulau Sumatera,” tutup Sam.

Bonsai kelapanya sebenarnya banyak diminati warga manca negara. Namun, karena tidak bisa berbahasa Inggris, transaksi penjualannya pun tak pernah berhasil.

Baca juga: Meraup Untung dari Bisnis Bonsai

“Beberapa kali memang ada peminat dari luar negeri, di antaranya warga Thailand, India, dan Amerika. Namun kendalanya itu saya tidak bisa bahasa Inggris, jadi nggak bisa jelasin dan lainnya. Serta saya juga belum bisa cara pengirimannya,” ungkapnya.

Saat ini, dirinya sedang mempelajari bahasa Inggris dan proses pengiriman, termasuk selalu meningkatkan kemampuannya dalam membuat bonsai. Itu dilakukannya agar kelak bonsai kelapanya  bisa benar-benar go international.

“Semoga kelak bonsai kelapaku ini tidak hanya merajai pasar domestik. Tapi juga bisa ekspor beneran,” harapnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER