Penulis: Meiliana

Dosen Program Nutrisi dan Teknologi Kuliner, Unika Soegijapranata

Singkong (Manihot esculenta) adalah salah satu jenis umbi pangan yang banyak ditemui di berbagai negara dengan iklim tropis, seperti Nigeria, Thailand, Brasil, dan Indonesia. Singkong dapat tumbuh pada tanah yang tidak subur dan tahan pada lahan yang kering.

Bahan pangan umbi berpati ini tergolong makanan pokok karena kandungan karbohidratnya yang tinggi (36,4 g per 100 g). Dengan kandungan serat sebesar 1,3 g per 100 g, singkong memiliki manfaat kesehatan untuk sistem pencernaan. Serat dan resistant starch pada singkong berfungsi sebagai sumber makanan (prebiotik) bagi flora usus dan mencegah inflamasi atau peradangan yang berefek negatif bagi kesehatan tubuh. Singkong juga mengandung mikronutrien seperti vitamin C (20 mg per 100 g), kalium (345,3 mg per 100 g), dan kalsium (56 mg per 100 g).

Setelah direbus atau dikukus, singkong dapat dikonsumsi sebagai makanan sumber energi yang menyediakan 153 kkal per 100 g. Singkong dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif pengganti nasi yang mengenyangkan. Selain itu, singkong bebas gluten sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku produk makanan khusus bagi pasien dengan kelainan autism dan penyakit celiac.

Tepung MOCAF (Modified Cassava Flour) adalah salah satu tepung olahan singkong yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif substitusi tepung terigu. Berbagai bahan kudapan, seperti bolu kukus, semprit, kukis, dan brownies, dapat dibuat menggunakan tepung olahan singkong ini.  

Meskipun bergizi dan memiliki banyak manfaat, singkong mengandung senyawa racun alami bernama glikosida sianogen yang menghasilkan sianida di dalam tubuh manusia. Keracunan sianida dapat menyebabkan gejala muntah, mual, pusing, sakit perut, sakit kepala, dan bahkan berakibat kematian.

Senyawa racun ini dapat dihilangkan melalui beberapa proses pengolahan. Pengupasan, pengeringan dengan sinar matahari, perendaman, dan perebusan dapat mengurangi kadar senyawa racun sianida pada singkong. Oleh karena itu, singkong wajib dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk mengurangi risiko keracunan sianida.

Indonesia merupakan negara penghasil singkong keempat terbesar di dunia. Singkong digunakan sebagai produk pangan, pakan ternak, alkohol, maupun kemasan. Meski demikian, masyarakat Indonesia masih menganggap singkong merupakan makanan rendahan.

Penambahan nilai ekonomi suatu bahan pangan dapat dilakukan melalui pengolahan bahan mentah menjadi produk pangan yang menarik. Penyajian makanan dengan kemasan yang bersih juga dapat dilakukan untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap produk olahan singkong. Promosi diversifikasi bahan pangan lokal perlu terus-menerus dilakukan guna mencapai ketahanan pangan dan pola pangan seimbang. Dengan demikian, nilai ekonomi singkong sebagai bahan pangan lokal dapat meningkat dan para petani Indonesia menjadi lebih sejahtera.

Tinggalkan Balasan