BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus membatalkan rencana Penilaian Tengah Semester (PTS) yang akan digelar secara tatap muka. Dibatalkannya rencana tatap muka tersebut dikarenakan saat ini Kudus berada di zona merah penyebaran Covid-19.
Plt Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada menuturkan, pihaknya merencakan akan menyelenggarakan PTS di SD dan SMP secara tatap muka. Namun, karena adanya informasi yang didapat dari covid19.go.id menyatakan Kudus berada pada risiko tinggi, akhirnya penyelenggaraan PTS dilakukan secara daring atau luring.
Baca juga : SMPN 1 Kudus Siapkan Skema Penilaian Tengah Semester Secara Tatap Muka
“Saat ini Kudus masih berada di zona merah. Jadi PTS tetap dilakukan, namun dengan cara daring atau luring,” tuturnya, Senin (7/9/2020).
Mengenai jadwal, PTS untuk SD dilaksanakan mulai tanggal 7 September hingga 18 September 2020. Sementara, PTS untuk SMP dilakukan tanggal 14 September hingga 25 September 2020. “Jadi masing-masing (SD dan SMP) akan dilakukan selama 12 hari,” jelasnya.
Harjuna meminta kepada orang tua dan sekolah agar PTS secara daring atau luring agar dilaksanakan secara jujur. Menurutnya, orang tua dilarang membantu anaknya untuk mengerjakan tugas.
“Ini bagian dari pembentukan karakter anak. Jadi biarkan anak mengerjakan sendiri,” tuturnya.
Selanjutnya untuk penilaian PTS, pihaknya mengarahkan guru agar melakukan penilaian secara mandiri. Hal tersebut tetap mengacu pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang dibuat oleh satuan pendidikan pada tahun pelajaran 2020-2021.
“Terpenting lagi harus selalu menerapkan protokol kesehatan dan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Agar penyebaran Covid-19 bisa dikendalikan,” jelasnya.
Baca juga : Tiga SMA di Tegal Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka
Sebelumnya diberitakan, Plt Bupati Kudus HM Hartopo meminta agar PTS SD dan SMP dilakukan secara tatap muka. Menurutnya, jika dilaksanakan secara daring proses tes dirasa kurang efektif. Dirinya juga khawatir kegiatan tes berpotensi mendapatkan bantuan dari orang tua.
“Mid semesteran atau tengah semesteran ada kebijakan dari saya harus masuk sekolah. Nanti tesnya di sekolah, tapi tidak usah pakai seragam karena tidak resmi sekolah. Menjalani tes di sekolah dan saat berangkat diantar orang tua,” tuturnya.
Editor : Kholistiono

