31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Kipasoak, Bisnis Kaus Bahasa Khas Daerah yang Menjanjikan

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan kaus dengan warna beragam terlihat memenuhi sebuah toko di Jalan Mr Iskandar Nomor 54 A, Desa Blaru, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Di dalamnya, beberapa orang tengah memilih kaus yang hendak dibeli. Sedangkan beberapa karyawan sedang memasang label di pojok kanan ruangan. Di sisi lain, seorang pria yang mengenakan kaus hitam tampak memperhatikan semua aktivitas di toko berdinding hitam itu. Dia adalah DS Priyadi (42), owner Kipasoak.

Dia menjelaskan, usaha kaus yang berdiri sejak 2015 silam itu memang mengedepankan lokalitas untuk menggaet pasar. Itu bisa dilihat dari penggunaan bahasa atau logat khas Pati, kearifan lokal, dan pendekatan lain dalam setiap desain yang dibuat.

Karyawan toko Kipasoak sedang merapikan stok kaus, Sabtu (1/8/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Soal nama, dirinya juga menggunakan bahasa Jawa yang pengucapannya dibalik. Jadi kata kipasoak itu asalnya dari kaos apik.

-Advertisement-

“Mulai dari merek hingga desain itu sebagian besar memang kekuatan bahasa. Apalagi dari awal tujuannya memang Building Identity, karena melihat semakin ke sini masyarakat semakin kehilangan identitasnya. Melalui Kipasoak, kami mencoba mengangkat kembali identitas itu. Karena kami original dan asli orang Pati, kami mengangkat dan mengambil sebagian besar bahasa khas Pati,” papar dia, Sabtu (1/8/2020).

Baca juga: Pati Oblong, Cara Fatmi Kenalkan Logat Khas Daerah

Dalam membangun citra produk, pihaknya menggunakan tiga pendekatan, yaitu kreatif, estetik yang baik, serta mengangkat tema-tema yang mengandung nilai-nilai yang ada di masyarakat. Selain itu, Priyadi yang merupakan orang sastra, membuatnya piawai memilih kata-kata yang menjadi kekuatan produk Kipasoak.

“Menggunakan bahasa daerah sebagai desain, itu malah jadi sebuah strategi bisnis. Kalau Kipasoak, susahnya di awal membangun branding. Setelah itu, alhamdulilah mulai lancar bahkan banyak pelanggan bukan orang asli Pati yang awalnya juga tidak mengerti arti dari bahasa yang tertera,” ungkapnya.

Baca juga: Harga Mulai Rp 85 Ribuan, Dadiwae Jadi Solusi Cetak Kaus Hasil Desain Sendiri

Hingga saat ini, Kipasoak yang mulai populer dengan desain awal “Pati Cilik Ngangeni” tersebut sudah memiliki banyak pelanggan. Bahkan jangkauan pasar yang ia miliki tidak hanya di Kabupaten Pati, tetapi juga hingga nasional bahkan internasional.

“Sekarang mulai ramai (penjualan) di ranah online seperti marketplace. Kami juga tidak mengesampingkan kreativitas dan sisi estetik. Jadi meskipun orang tidak tahu arti bahasa yang kami desain, minimal mereka suka dengan estetika yang kami buat,” pungkas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER