BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi jalan gang 11 Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tampak sebuah rumah. Di dalam rumah itu terlihat tumpukan ribuan tas yang tertata rapi. Sedangkan di sampingnya tampak seorang pria sedang mengecek dan merapikan jahitan pada beberapa tas. Pria tersebut adalah Ulil Absor (29), pemilik usaha produksi tas berlabel Pola Galaxy.
Di sela aktifitasnya, pria yang akrab disapa Ulil itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, merintis usaha pembuatan tas sejak 2016. Sebelum memiliki usaha sendiri, ia terlebih dulu ikut kerja orang lain, dan pernah ikut orang jualan pakaian di Bali.

“Namun, bos saya itu mengalami penurunan orderan, sehingga saya akhirnya pulang Kudus dan tidak diajak ke Pulau Dewata lagi,” katanya, kepada Betanews.id, Rabu (19/8/2020).
Selang beberapa waktu, dia ditelpon oleh salah satu pelanggan bosnya di Bali menanyakan alasan tidak mengirim pakaian lagi.
Baca juga: Pola Galaxy, Pusat Grosir Tas Termurah, Pemasaran Hingga Luar Negeri
“Sewaktu saya kasih tahu bahwa saya di Kudus, pelangganku itu malah bertanya, di Kudus ada barang murah apa yang laku dijual di Pulau Dewata. Berhubung saya kerja bikin tas sekolah, spontan saya jawab tas,” kata Ulil yang siang itu pakai kemeja pendek.
Pelangganya itu langsung pesan tas lima lusin. Setelah tas sampai di Bali dan tahu kualitasnya, orang Bali itu pesan lagi 50 lusin tas. “Katanya, tas 50 lusin itu pas dijual laris manis dalam waktu sepekan,” beber Ulil.
Karena laris, lanjutnya, pelanggannya itu langsung pesan lagi lebih banyak, dan menyarankan empat adiknya yang punya usaha serupa untuk membeli tas darinya.
“Adiknya pelanggan saya itu tersebar di Kota Palembang, Medan, Samarinda, dan Pontianak. Sekali pesan ratusan lusin,” ungkapnya.
Baca juga: Wong Djowo, Kaus Oleh-Oleh Khas Kudus untuk Lestarikan Bahasa Jawa
Pesanan ratusan lusin dalam waktu singkat itu ternyata tak bisa dipenuhi oleh bosnya di usaha tas. Sehingga, Ulil kemudian berinisiatif membuat tas sendiri dengan merek Pola Galaxy.
Untuk memenuhi pesanan, dirinya mengajak para ibu rumah tetangganya untuk jadi penjahit. Saat ini, ia mempekerjakan 30 orang, 25 tenaga jahit yang diupah sistem borongan, serta lima orang bagian potong dan finishing. Setiap harinya, ia mampu memproduksi 100 lusin tas.
“Mereka semua yang kerja para ibu rumah tangga. Setidaknya dengan usaha saya bisa bermanfaat dan bantu perekonomian warga sekitar,” ujarnya.
Dia bersyukur, dengan usahanya tersebut sudah mampu beli dua mobil, yaitu satu mobil operasional dan satu mobil keluarga.
“Selain itu, dari produksi tas saya juga mampu beli sawah dan bangun rumah. Semoga saja usaha saya makin lancar dan maju,” tukas Ulil.
Editor: Ahmad Muhlisin

