Dr. Laksmi Hartajanie, MP

*Fakultas Teknologi Pertanian UNIKA Soegijapranata

Mengenal covid-19

Sejak Desember 2019, diketahui terjadi radang paru-paru yang mematikan terjadi pada sejumlah pasien. Kemudian 7 Januari 2020, dari hasil swab test tenggorokan diketahui penyakit ini disebabkan oleh virus corona baru (SARS-CoV-2). SARS-Cov-2 adalah molekul RNA yang terbungkus protein, apabila menyerang manusia melalui saluran pernafasan bisa menyebabkan kerusakan paru-paru. Selain itu, pada kondisi parah dapat menyebabkan kematian. Pada 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) resmi mengumumkan Covid-19 (penyakit infeksi yang disebabkan SARS-CoV-2) sebagai pandemi.

Ribuan kasus Covid-19 yang terjadi dicatat polanya sehingga diperoleh informasi. Catatan antara lain terkait berapa lama masa inkubasi, penularannya lewat apa, kapan deman muncul, kapan batuk kering muncul, kapan terjadi infeksi paru. Selain itu juga dicatat kelompok usia berapa yang rentan, penyakit penyerta yang memperberat, dan lainnya. Tanpa faktor penyerta yang memperberat, Covid-19 merupakan self limiting disease (penyakit yang sembuh sendiri). Biasanya dokter hanya menyarankan istirahat, makan makanan bergizi, dan banyak minum air putih.

Hubungan mikrobiota usus dan covid-19

Gao, et al. (2020) dalam Journal of Digestive Disease menyebutkan, berdasarkan laporan RS Universitas Wuhan, virus Covid-19 terdeteksi pada feses dan hasil swab test anus pasien Covid-19. Oleh karena itu, ada kemungkinan penularan infeksi Covid-19 melalui feses-oral, sehingga perlu diperhatikan kebersihan tangan dan desinfeksi muntahan dan feses pasien. Para peneliti juga menyebutkan, pada pasien Covid-19 diperkirakan terjadi disbiosis, yang ditandai dengan turunnya populasi bakteri baik yaitu lactobacillus dan bifidobacterium.

Penelitian Bradley et al. (2019) yang dimuat Cell Reports menunjukkan, modulasi mikrobiota usus dapat mengurangi enteritis dan ventilator-associated pneumonia, serta mencegah replikasi virus tahap awal di epitel sel paru. Dengan demikian modulasi mikrobiota usus dengan probiotik dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi Covid-19.

Mikrobiota usus yang sehat untuk tubuh yang sehat

Fungsi gizi dan kesehatan usus harus dijaga pada pasien Covid-19 dan disarankan makanan bergizi dan aplikasi probiotik maupun prebiotik untuk mengatur keragaman mikrobiota usus. Keragaman mikrobiota usus dapat ditingkatkan dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi serat, seperti sayur, buah, dan kacang-kacangan serta membatasi makanan olahan dan junk food. Jika tidak tersedia produk segar, buah dan sayuran beku sama sehatnya dengan yang segar.

Mengkonsumsi yogurt secara teratur dapat mempebaiki keanekaragaman mikrobiota usus, karena yogurt mengandung probiotik. Sumber probiotik yang lain adalah kefir dan teh kambucha. Makanan berbasis sayuran atau yang difermentasi, seperti kimchi, sauerkraut, dan tempoyak adalah pilihan lain yang baik.

Kesimpulan

Memilih makanan yang mendukung mikrobiota usus yang sehat, mengelola kesehatan mental, tetap aktif secara fisik dan cukup tidur akan membantu menjaga sistem imun. Dengan meningkatnya imunitas, diharapkan Covid-19 dapat diatasi. Tentu saja perlu penelitian yang mendukung peran probiotik di dalam mengatasi Covid-19, khususnya jenis probiotik serta dosis yang tepat.

Tinggalkan Balasan