Beranda blog Halaman 1990

Daftar Desa dan Kelurahan di Kabupaten Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – gapura Kudus

SEPUTAR KUDUS – Berikut ini akan kami posting jumlah desa dan kelurahan yang terdapat di Kabupaten Kudus. Desa yang akan kami poskan ini berada di wilayah sembilan kecamatan. jumlah desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Kudus sebanyak 132 desa dan kelurahan.

KECAMATAN UNDAAN

  1. Berugenjang
  2. Glagahwaru
  3. Kalirejo
  4. Karangrowo
  5. Kutuk
  6. Lambangan
  7. Larikrejo
  8. Medini
  9. Ngemplak
  10. Sambung
  11. Terangmas
  12. Undaan Kidul
  13. Undaan Lor
  14. Undaan Tengah
  15. Wates
  16. Wonosoco

KECAMATAN MEJOBO

  1. Golantepus
  2. Gulang
  3. Hadiwarno
  4. Jepang
  5. Jojo
  6. Kesambi
  7. Kirig
  8. Mejobo
  9. Payaman
  10. Temulus
  11. Tenggeles

KECAMATAN KOTA

  1. Barongan
  2. Burikan
  3. Damaran
  4. Demaan
  5. Demangan
  6. Glantengan
  7. Janggalan
  8. Kajeksan
  9. Kaliputu
  10. Kauman
  11. Kerjasan
  12. Kramat
  13. Krandon
  14. Langgardalem
  15. Mlati Kidul
  16. Mlati Lor
  17. Mlati Norowito
  18. Nganguk
  19. Panjunan
  20. Purwosari
  21. Rendeng
  22. Singocandi
  23. Sunggingan
  24. Wergu Kulon
  25. Wergu Wetan
  26. Bakalankrapyak
  27. Banget
  28. Blimbing Kidul
  29. Gamong
  30. Garung Kidul
  31. Garung Lor
  32. Kaliwungu
  33. Karangampel
  34. Kedungdowo
  35. Mijen
  36. Papringan
  37. Prambatan Kidul
  38. Prambatan Lor
  39. Setrokalangan
  40. Sidorekso
  41. Bulung Kulon
  42. Bulungcangkring
  43. Gondoharum
  44. Hadipolo
  45. Honggosoco
  46. Jekulo
  47. Klaling
  48. Pladen
  49. Sadang
  50. Sidomulyo
  51. Tanjungrejo
  52. Terban

KECAMATAN JATI

  1. Getas Pejaten
  2. Jati Kulon
  3. Jati Wetan
  4. Jepangpakis
  5. Jetis Kapuan
  6. Loram Kulon
  7. Loram Wetan
  8. Megawon
  9. Ngembal Kulon
  10. Pasuruhan Kidul
  11. Pasuruhan Lor
  12. Ploso
  13. Tanjung Karang
  14. Tumpang Krasak

KECAMATAN GEBOG

  1. Besito
  2. Getasrabi
  3. Gondosari
  4. Gribig
  5. Jurang
  6. Karangmalang
  7. Kedungsari
  8. Klumpit
  9. Menawan
  10. Padurenan
  11. Rahtawu

KECAMATN
DAWE

  1. Cendono
  2. Colo
  3. Cranggang
  4. Dukuhwaringin
  5. Glagah
    Kulon
  6. Japan
  7. Kajar
  8. Kandangmas
  9. Kuwukan
  10. Lau
  11. Margorejo
  12. Piji
  13. Puyoh
  14. Rejosari
  15. Samirejo
  16. Soco
  17. Tergo
  18. Ternadi

KECAMATAN
BAE

  1. Bacin
  2. Bae
  3. Dersalam
  4. Gondangmanis
  5. Karangbener
  6. Ngembalrejo
  7. Panjang
  8. Pedawang
  9. Peganjaran
  10. Purworejo

- advertisement -

MRC Indonesia Mengarungi 12 Gunung Di Kawasan Muria

0
Anggota MRC Indonesia di Puncak 28 pada 2010, saat persiapan riset bencana guna melihat kondisi Pegunungan Muria. Foto: Dokumentasi MRC Indonesia.

SEPUTAR KUDUS Gunung Muria yang terletak di tiga kabupaten, Kudus, Pati dan Jepara tidak hanya sebagai identitas masyarakat di kawasan tersebut, namun juga sebagai entitas yang di dalamnya terdapat sebuah kultur masyarakat yang sangat menarik. Hal itulah yang mendasari Muria Research Center (MRC) Indonesia untuk melakukan identifikasi sosial, ekonomi, budaya, serta melakukan inventarisasi keaneragaman hayati yang ada di kawasan pegunungan Muria dengan tajuk Jelajah Muria.

Menurut Direktur MRC Indonesia, Mochamad Wijanarko, MRC Indonesia yang berdiri sejak tahun 2008 tersebut memang konsen terhadap perkembangan lingkungan dan sosial di kawasan Pegunungan Muria, dalam visinya organisasi yang berbasis komunitas tersebut mengusung kritik, kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan mendorongnya dalam sebuah kemandirian. Organisasi lingkungan yang beralamat di Jalan Mlati Norowito Gang 3, Nomor 3, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tersebut, juga ingin menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Menurut Wijanarko kegiatan Jelajah Muria tersebut akan mengarungi 12 gunung yang ada di kawasan Muria, di antaranya Argo Piloso, Argo Jembangan, Gunung Ringgit, Gunung Kelir, Gunung Sari, Watupayon, Termulus, Paluombo, Candi Angin Lor, Candi Angin Kidul, Saptorenggo dan Gajahmungkur. Kegiatan yang dimulai 5 Juni hingga 1 Agustus mendatang dengan melibatkan Tim Bio Fisik dan Tim Bio Sosial. “Dalam jelajah Muria kali ini kami tidak hanya mengobservasi keaneka ragaman hayati yang ada di kawasan Muria, namun juga melakukan dokumentasi sosial terhadap masyarakat yang tinggal di sana,” papar Wijanarko yang juga berprofesi sebagai dosen pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Muria Kudus (UMK) tersebut.

Ia menambahkan Pengumpulan data dalam jelajah Muria tim akan bergerak dari daerah satu ke daerah lainnya dengan durasi waktu tiga hari, hal tersebut akan diimulai dari Kabupaten Pati, kemudian Jepara dan Kudus. “Dalam melakukan penjelajahan tim akan melakukan live in atau tinggal bersama warga setempat, disana tim melakuak observasi, wawancara dan membawa beberapa pertanyaan dalam angket, serta melakukanobservasi burung dan iventarisasi jenis tumbuhan,” paparnya. Menurutnya semua data yang terkumpul akan dilakukan editing, coding yang disesuaikan dengan jenis datanya. Data wawancara akan ditranskrip dalam bentuk narasi sehingga bisa menghasilkan data utuh dalam bentuk cerita. Semua proses analisis akan dilakukan setelah melakuakn penjelajahan dan dilakuakn oleh tim analisis data secara menyeluruh.

Wijanarko menjelaskan Pegunungan Muria memiliki ketinggian 1602 meter dari permukaan laut, di dalamnya terdapat hutan tropis seluas 69.812,08 hektar, terdiri dari wilayah Kabupaten Jepara 20.096, 51 hektar, wilayah Kabupaten Pati  47.338 hektar dan 2.377,57 hektar berada dalam wilayah Kabupaten Kudus. Ia menambahkan berdasarkan catatan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati kawasan tersebut menyimpan kekayaan hayati sekitar 80 jenis pohon yang terdiri dari palem-paleman dan rumput-rumputan. Sedangkan kekayaan fauna, di sana dapat dijumpai paling tidak lima jenis ular senduk (Kobra Jawa), sanca hijau, kera, landak, tupai, trenggiling, bahkan babi hutan.

Berdasarkan Studi lapangan yang telah dilakukan Puslitbang MRC Indonesia di kawasan Pegunungan Muria dengan menjelajahi daerah Semliro, Puncak Songolikur, Tempur, Nduplak, Gunung Rowo, Colo, Air  Tiga Raksa & Semliro yang meliputi  Kabupaten Kudus, Pati dan Jepara,  telah  berhasil  mengidentifikasi adanya 68 jenis burung yang salah satu diantaranya adalah Elang Jawa (Spizaetus Bartelsi) yang kita kenal sebagai burung Garuda, yang menjadi burung endemik Jawa dan dilindungi serta dalam keadaan  bahaya kepunahan (endangered). Selain itu, tim peneliti juga berhasil menginventarisasi  adanya 109 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 51 famili, yang jenisnya meliputi rumput, anggrek dan pohon khas Muria: mranak, jenis buah-buahan seperti  mangga, durian, jambu monyet,  sirsat, pepaya, rambutan, dan tanaman khas Kudus, parijotho.

Berbagai kekayaan jenis satwa dan tumbuhan menurut Wijanarko merupakan aset, khususnya bagi masyarakat  lokal  yang ada di kawasan tersebut dan itu merupakan amunisi masyarakat lokal untuk dapat  berperan aktif dalam upaya melestarikan keanekaragaman hayati. (Suwoko)

- advertisement -

Basuki Sugitha: Kurikulum Indonesia, Kurikulum Nasi Rames

0
SEPUTAR KUDUS – (Dari kiri) Basuki Sugitha dan Muhamad Bahrudin saat menjadi pembicara dalam seminar nasional yang diselenggarakan BEM FKIP  UMK di Auditorium. 

SEPUTAR KUDUS – Kehebatan bibit-bibit muda Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan, tidak diragukan lagi. Namun, meski berhasil menelurkan banyak peraih medali di pelbagai olympiade tingkat dunia, peringkat Human Development Indek Indonesia, belum mau beranjak di angka 107 dunia. Ini dikarenakan, sistem pendidikan di Indonesia masih menggunakan kurikulum “sega rames”.

Hal tersebut disampaikan oleh Basuki Sugitha, dalam acara seminar nasional, yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muria Kudus (UMK), Kamis (24/11), di Auditorium. Menurut Basuki, yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMP Keluarga, Kudus tersebut, kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP) yang saat ini diterapkan masih seperti sega rames, atau nasi rames. Dimana, semua kompetensi disuguhkan kepada siswa, namun tidak mendetail, atau hanya sedikit.

“Kita tahu, sega rames diseuguhkan dengan berbagai varian lauk. Ada telurnya sedikit, ada ayamnya sedikit, mienya sedikit, semuanya sedikit. Seperti itulah kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah kita saat ini, banyak sekali mata pelajaran, namun semuanya serba sedikit,” kata Basuki, dihadapan ratusan mahasiswa yang datang dari berbagai universitas di Jata Tengah.

Akibatnya, menurut Basuki, anak didik tidak bisa menguasai kompetensi yang ia sukai. Karena, mereka dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran, dengan sekmentasi waktu yang terbatas. Tak jarang, banyak siswa yang akhirnya stres, bahkan frustasi, dan akhirnya mengabaikan semua pelajaran.

“Akibat dari ini semua, motivasi belajar siswa menjadi berkurang. Semua guru mata pelajaran memberi tugas yang harus dikerjakan di rumah. Tidak ada waktu lagi bagi siswa, untuk menekuni mata pelajaran yang ia sukai,” tuturnya.

Basuki menuturkan, setiap individu memiliki bakat dan kemampuannya masing-masing, karena setiap siswa memiliki keunikan bawaan sejak lahir. Ada siswa yang menyukai ilmu eksakta, ada siswa yang suka dengan ilmu bahasa, seni dan sebagainya. Maka, tidak seharusnya, kurikulum menyuguhkan semua mata pelajaran, dan menuntut siswa untuk mengusai semua bidang.

“Anak-anak yang juara olympiade, mereka berhasil karena apa yang mereka pelajari lebih sepesifik dan mendalam. Intensitas waktu mereka untuk mempelajari satu mata pelajaran sangat tinggi, dan tidak diperkenankan bagi mereka untuk terpecah kosentrasinya dengan hal lain, termasuk pelajaran,” katanya.

Parahnya lagi, menurut Basuki, guru sebagai pendidik mempunyai orientasi yang bermacam-macam. Dia menyebutkan, ada guru yang hanya berorientasi untuk mencari penghasilan, dan ada pula guru yang hanya mengejar target angka sesuai dengan yang ditentukan. Hal itu, menurutnya tidak ada gunanya, atau “nol besar”.

Perlu Kreativitas
Salah satu narasumber lain, Muhamad Bahrudin mengatakan, perlu ada kreativitas yang harus dibangun oleh para guru. Kurikulum KTSP yang ada saat ini, tidak harus ditelan mentah-mentah oleh guru, yang berakibat akan mengekang kreativitas siswa.

“Kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah saat ini mencakup seluruh wilayah di Indonesia. Padahal, setiap daerah, memiliki kemampuannya masing-masing. Jadi, jangan disamakan, antara sekolah yang ada di daerah pedalaman dengan sekolah yang ada di kota. Karena hasilnya pasti akan lain,” tutur Pengelola Lembaga Pendidikan Alternatif, Qaryah Thayyibah, di Salatiga itu.

Menurut Bahrudin, tidak semua mata pelajaran harus diajarkan kepada para siswa, karena hasilnya tidak akan tuntas. Hasunya, waktu pelajaran harus dibagi untuk mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Mata pelajaran wajib diberikan pada mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional, sedangkan mata pelajaran pilihan, harus memiliki spesifikasi waktu yang lebih dibandingkan mata pelajaran wajib.

“Ini akan memberikan kompetensi yang lebih besar kepada para siswa. Karena, mata pelajaran pilihan, tentu sesuai dengan keinginan hati dan kesukaan mereka. Sebagai contoh, siswa yang suka menggambar, jika diberikan spesifikasi waktu yang lebih, mereka akan mahir dalam bidangnya,” kata Bahrudin, di hadapan ratusan calon guru tersebut.

Ia menambahkan, guru bisa membuat terobosan dengan berbagai macam cara dan metode pengajaran. Terobosan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa. Dengan terobosan dan kreativitas, siswa akan mendapatkan pendidikan yang tuntas. (Suwoko)

- advertisement -

Nano Modifikasi Motor Honda Mega Pro Miliknya Menjadi Belalang Tempur

0
SEPUTAR KUDUS – Nano Yulianto.

SEPUTAR KUDUS – Untuk dapat tampil gagah dengan motor idaman memang harus mengeluarkan banyak biaya untuk membelinya, jika tidak mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli motor idaman tersebut modifikasi adalah solusinya. Salah seorang penggemar motor besar, Nano Yulianto (22) memodifikasi motor lamanya untuk dapat mewujudkan impiannya mengendarai motor dengan tampilan yang gagah.

Motor Mega Pro keluaran tahun 2002 milik alumni Fakultas Teknik Mesin Universitas Muria Kudus (UMK) tersebut kini tampil gagah dengan modifikasi belalang. Dengan mengubah hampir 75 persen bentuk dan mewarnainya dengan warna merah maroon dan kombinasi hitam pekat, kini motor tersebut terlihat garang saat dikendarainya. Nano yang bertubuh tinggi besar sangat cocok dengan motor idamannya tersebut.

“Dulu sebelum saya modifikasi, motor ini seperti tampak kecil saat saya kendarai. Dan hal itu mempuat saya tidak Percaya Diri (PD)” kata Nano saat ditemui (20/7) kemarin. Ia mengaku sangat kesemsem dengan motor-motor besar yang banyak dikeluarkan oleh beberapa pabrikan. Akhirnya ia memodifikasi motornya tersebut dengan tangannya sendiri.

“Karena saya mempunyai basic skill dibidang otomotif, maka modifikasi ini saya lakukan sendiri. Dari desainnya, merubah bodynya serta finishing pengecatannya” paparnya. Ia menambahkan untuk mendapat desain sesuai dengan yang ia inginkan, ia mengambil banyak referensi dari beberapa media cetak dan online, serta beberapa temannya yang mengetahui tentang modifikasi motor.

Nano menjelaskan untuk body motor ia rubah bentuk tangki, jok serta rangkanya. Sedangkan untuk menambah tinggi motor untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya ia mengganti shock braker motor dengan jenis mono shock unitrack yang lebih besar dan tinggi, serta mengganti ban depan dan belakang dengan ukuran 110/7-17 dan 130/70-17 sehingga tinggi motor bertambah tinggi hingga 9 centimeter dari standart semula. Tangki yang semula berukuran 11 liter, kini ia perbesar sehingga mampu menampung bahan bakar sebanyak 20 liter.

“Untuk mengganti tangki dan body, saya menggunakan fiber glass dengan serat optik yang kuat, sehingga saya mudah membentuknya dengan desain yang telah saya buat” paparnya. Ia menambahkan untuk jok motor ia menggantinya dengan dua temapt duduk yang berlapis mitasi kualitas bagus. Sedang untuk pengecatan ia mempergunakan jenis cat Pegasus Candy Tone dengan laminasi clear doft, sehingga motor tidak tampak mengkilat namun redup sesuai dengan garangnya warna motor dan bodynya.

Untuk mendapatkan lampu yang tampak seperti kepala belalang, ia menggantinya dengan lampu kharisma. Sedang untuk menambah kemewahan motor ia mengganti velk jari-jari lama dengan velk racing sprin berwarna merah maroon sehingga terlihat eksklusif dan elegan.

Untuk memodifikasi motor belalangnya tersebut, Nano hanya mengeluarkan biaya tak lebih dari Rp 4 juta. “Daripada membeli motor baru seharga puluhan juta, mending saya modifikasi sendiri motor lama saya. Toh saya mampu melakukannya” tuturnya dengan bangga. (Suwoko)

- advertisement -

Temukan Pembeku Darah, Siswa SD Cahaya Nur Kudus Sabet Juara Nasional

0
SEPUTAR KUDUS – Krisna sedang mempraktekan pembuatan formula pembeku darah dengan kulit telur ayam, di SD Cahaya Nur Kudus.

KUDUS-Kulit telur bagi masyarakat umum adalah sampah yang tidak bisa dimanfaatkan, namun tidak bagi Louis Krisna Waedana. Siswa Kelas 6 di SD Cahaya Nur itu memanfaatkan sampah kulit telur menjadi sebuah formula untuk mempercepat pembekuan darah. Penemuan yang dilakukannya membuat putra pasangan Nancy Feronica dan Yohanes Wahyu Wardana itu berhasil menjuarai lomba Science yang diselenggarakan Kalbe Farma, pada 20 sampai 21 Agustus yang lalu di Jakarta.

Krisna menceritakan, awalnya dirinya berpikir bagaimana untuk memanfaatkan limbah kulit telur menjadi sesuatu yang berguna. Pria yang gemar makan telur ceplok itu kemudia mencari referensi tentang kandungan kulit telur di buku dan browsing di internet. “Kulit telur mempunyai kandungan kalsium yang tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai formula untuk mempercepat pembekuan darah” papar anak yang suka pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam itu disela-sela peragaan pembuatan formula pembeku darah, di SD Cahaya Nur, Jalan Jendral Sudirman, Kudus, Selasa (13/9) kemarin.

Saat peragaan berlangsung, Krisna tampak seperti seorang ahli kimia yang begitu terampil meracik hasil temuannya itu dengan sejumlah peralatan pendukung. Dia menjelaskan bahan dan kandungan kulit telur, serta peralatan yang dipergunakan satu persatu. Setelah itu dia menjelaskan tahap demi tahap proses pembuatan formula pembeku darah yang ia temukan, mulai dari memblender kulit telur menjadi serbuk halus, hingga meletakkannya ke dalam darah. Krisna menambahkan, pada eksperimen yang telah ia lakukan, pada darah yang diberikan formula kulit telur, pembekuannya lebih cepat dibanding darah yang tidak diberikan formula. “Selisihnya sekitar 3 menit,” ujarnya.

Menurut ibunda Krisna, Nancy mengungkapkan, Krisna adalah anak yang tidak bisa diam. Setiap waktu luang ia pergunakan untuk berselancar di internet, mencari pengetahuan untuk bahan bereksperimen. “Krisna selalu bertanya dan berpikir memanfaatkan sesuatu untuk bisa dimanfaatkan. Salah satu eksperimen yang berhasil membawanya sebagai juara di dalam perlombaan tingkat nasional adalah formula pembeku darah itu,” kata Nancy yang berprofesi sebagai dokter gigi di Rumah Sakit Mardirahayu, Kudus, saat mendampingi Krisna kemarin.

Ditambahkan oleh Nancy, meski selalu berselancar di internet, namun Krisna adalah seorang anak seperti kebanyakan anak-anak lain yang suka bermain. Meski begitu, Krisna selalu disiplin untuk belajar tentang materi yang diajarkan di sekolahan. “Krisna memang tidak bisa diam dan selalu berbuat sesuatu, namun jika waktu belajar tiba, ia selalu disiplin untuk belajar materi yang didapat dari sekolanya” papar perempuan yang tinggal di Perum Jati Indah nomor 24, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Cahaya Nur, Benedigtha Sri Lestari Yohanita mengungkapkan, kebetulan saat Krisna menghasilkan temuannya, tak berapa lama mendapat info lomba Science tingkat nasional di Jakarta. Dari 199 peserta, hasil temuan Krisna itu mampu malju hingga ke 9 besar dan meraih juara. “Dari 199 peserta di seluruh Indonesia, tahap pertama diseleksi menjadi 18 besar. Kemudian, hasil penemuan yang masuk 18 itu diminta penyelenggara untuk dilakukan presentasi. Krisna mampu mempresentasikan dengan baik dan meraih juara” katanya.

Benedigtha menambahkan, di SD Cahaya Nur di sediakan dua laboratorium yang bisa dimanfaatkan siswanya. Satu laboratorium alam yang menyediakan berbagai macam tanaman dan laboratorium dalam ruangan yang menyediakan peralatan pendukung. Setiap tahun sekolah itu selalu mengirimkan delegasi ke perlombaan olimpiade tingkat nasional, dan beberapa di antaranya berhasil meraih juara. (suwoko)

- advertisement -

Rangkul Anak Punk di Kudus, Kholid Mawardi Gunakan Pendekatan Personal

1
SEPUTAR KUDUS – Kholid Mawardi bersama anak-anak Punk binaannya di kolam budi daya ikan nila di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

KUDUS-Anak jalanan sering menjadi masalah bagi pemerintah di perkotaan, tak terkecuali keberadaan anak-anak Punk. Keberadaannya selalu dianggap beban dengan dalih mengganggu keindahan dan menambah kesemerawutan jalanan. Namun, pemerintah jarang memiliki solusi yang tepat agar mereka tidak lagi hidup di jalanan dan menggantungkan hidup dari mengamen. Langkah penggerebekan tidak membuat mereka jera, bahkan menganggap sebagai arogansi penguasa kepada mereka.

Ketua Front Perjuangan Rakyat Muskin (FPRM) Kudus, Kholid Mawardi mempunyai gagasan dan langkah yang berbeda. Pria yang lebih dikenal sebagai aktivis ini merangkul anak-anak Punk di Kudus untuk diajak berwira usaha. “Sebenarnya mereka butuh, eksistensi, perhatian dan butuh pengakuan masyarakat. Sehingga pendekatan personal terhadap anak-anak yang sedang mencari jati diri seperti mereka akan lebih efektif,” tutur Kholid saat ditemui di rumahnya, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Minggu (18/9).

Kholid menceritakan, awalnya dia cukup prihatin dengan perlakuan pemerintah terhadap anak-anak Punk. Mereka sering diuber Satpol PP dan ditangkap, tak jarang pula rambut mohak mereka dipotong. “Hal itu tidak akan membuat mereka berubah, karena style berpakaian adalah ciri khas mereka. Jika ingin mereka tidak hidup dijalan, seyogyanya Pemerintah memberi solusi agar mereka mempunyai kegiatan positif, lebih-lebih dapat memberi penghidupan bagi mereka,” tutur pria yang suka mengenakan topi itu.

Ajak Berwira Usaha
Di Kudus, ada beberapa titik berkumpulnya anak-anak marjinal ini. Lampu merah Taman Ngedok, Lampu merah Ngembal, dan belakang Mall Ramayana adalah tempat yang sering dapat dijumpai. Awalnya kholid mendekati beberapa anak Punk di belakang Mall Ramayana di tahun 2008. Berawal dari perkenalan, mereka diajak berdiskusi tentang segala hal, termasuk berwira usaha.

“Program pertama, mereka sekitar 20 anak Punk kami ajak untuk belajar sablon. Saya sendiri sebetulnya tidak memiliki keterampilan itu, saya menggandeng seorang teman yang memiliki keahlian menyablon,” ujar Kholid. Tak hanya keterampilan menyablon, anak-anak binaannya juga diajari untuk membuat gambar vektor dan grafiti.

Dengan kegiatan-kegiatan tersebut, intensitas anak-anak Punk binaannya hidup di jalan, sedikit demi sedikit berkurang. Hasil dari keterampilan yang diberikan, anak-anak Punk yang dibina oleh Kholid kemudian sedikit mempunyai penghasilan, utamanya dari menyablon kaos dan emblem, yang mereka jual saat ada acara pentas musik dan pesanan.

Beternak Ikan Nila
Di bulan Mei tahun 2011 yang lalu, Kholid menjalin kemitraan dengan Balai Pelatihan Kerja (BLK) Kabupaten Kudus untuk mewadahi anak-anak Punk binaannya. Proposal yang diajukan Kholid, ditanggapi positif oleh BLK. Akhirnya BLK memberikan peltihan keterampilan budi daya ikan nila, beserta perlengkapan pembuatan kolam, bibit, dan pakan selama tiga bulan.

“Pertengahan bulan Agustus lalu, kolam telah mereka buat. Saat ini ikan telah berumur sekitar satu bulan. Dua bulan lagi, anak-anak Punk panen ikan nila,” Ujar Kholid, bangga. Ia menambahkan, sebagian hasil panen ikan nila akan dipergunakan untuk modal pengembangan usaha. Selebihnya akan dibagi anak-anak Punk yang ikut mengurus kolam setiap harinya.

Kinerja yang baik selama mengelola budi daya ikan nila oleh anak-anak binaannya, ditanggapi positif oleh pihak BLK. Rencananya, bersama BLK, Kholid akan menggaet anak-anak Punk lain untuk diberikan keterampilan lain. Di antaranya, pelatihan pertukangan dan otomotif. “Memberantas anak jalanan bukan berarti menghardik mereka, justru kita harus merangkulnya,” pungkasnya. (Suwoko)

- advertisement -

Anak-Anak Punk di Kabupaten Kudus Membudidayakan Ikan Nila

0
SEPUTAR KUDUS – Kholid Mawardi, pendamping komunitas anak-anak Punk di Kudus melihat kolam ikan nila hasil budidaya yang dilakukan anak-anak binaannya. Dia berharap mereka bisa hidup mandiri dengan berwirausaha. 
KUDUS-Penampilan anak Punk yang cenderung lusuh dan awut-awutan, sering memberi kesan negatif bagi masyarakat umum. Rambut mohak berwarna-warni, kaos dan celana robek, serta lusuh tentu sangat  mencolok dibanding pakaian masyarakat pada umumnya. Kehidupan jalanan dan terpisah dari orang tua, menuntut mereka untuk mencari penghidupan dari jalanan yang keras, salah satunya dengan mengamen. Hal ini sering memaksa mereka kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP.
Di Kudus, ada banyak anak Punk yang hidup berkelompok dan nye-trit di jalan.
Keberadaan mereka sering memancing petugas Satpol PP untuk melakukan
pengejaran dan penangkapan. Berdasarkan catatan Warta Jateng, ada puluhan anak Punk yang ditangkap petugas Satpol PP dan dilakukan pendataan. Mereka yang tertangkap, selain diminta untuk tidak hidup di jalan dan kembali kepada
keluarganya, juga mencukur rambut mohak mereka.
Pendekatan lain yang dilakukan Front Perjuangan Rakyat Miskin (FPRM) Kudus
terhadap anak-anak Punk dilakukan dengan pemberdayaan mereka dengan berwira usaha. Ketua FPRM Kudus, Kholid Mawardi mengataan, pembinaan terhadap anak-anak yang mencari jati diri itu seharusnya dilakukan dengan pendekatan yang lebih baik. “Kami mengajak mereka untuk berwira usaha dengan budi daya ikan nila” papar Kholid saat ditemui di tempat budi daya ikan nila, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Minggu (11/9). Ia berharap, dengan hidup berwira usaha anak- anak Punk dapat hidup mandiri.
Menurut Kholid, budi daya ikan nila tersebut difasilitasi oleh Unit Pelayanan
Terpadu (UPT) Balai Pelatihan Kerja (BLK) Kabupaten Kudus. Di lembaga itu
banyak memberikan fasilitas pelatihan skill dan modal kerja bagi masyarakat yang membutuhkan. “Peluang itu kemudian saya tindak lanjuti untuk mengajukan proposal pelatihan dan modal kerja budi daya ikan nila” ujar lelaki yang sering mengenakan topi tersebut.
Ditambahkan Kholid, Budi daya ikan nila dianggap paling prospektif. Pasalnya,
budi daya ikan nila dirasa relatif mudah dibanding dengan usaha lain, mengingat anak-anak Punk yang rata-rata berpendidikan rendah. Dari pendekatan tersebut, menurut Kholid, anak-anak Punk sangat antusias dan keinginan mereka untuk mau belajar sangat tinggi.
Sementara ini, anak-anak Punk yang masuk dalam daftar binaan ada sekitar dua puluh orang. Setiap hari mereka secara bergantian datang ke kolam budi daya ikan nila untuk mengurus dan merawat kolam bantuan Pemkab Kudus itu. “Agar program budi daya ikan nila ini berhasil, kami membentuk kepengurusan terhadap mereka. Ada lima orang pengurus inti yang secara serius melakukan perawatan dan pemantauan kualitas ikan, sedang yang lain hanya membantu secara bergiliran setiap hari” katanya.
Salah satu anak Punk yang menjadi pengurus inti, Kijup (27) mengaku sangat
berterima kasih atas usaha budi daya ikan nila yang diberikan. Ia mengungkapkan, sekarang ini, anak-anak Punk di Kudus yang masuk dalam komunitasnya memiliki kegiatan yang positif. Selain tidak hidup di jalan lagi, juga dapat mendapatkan bekal pengetahuan usaha untuk masa depan hidup mereka kelak. “Kami ingin membuktikan, bahwa kami mampu menjalankan usaha ini dengan baik. Harapan saya, tidak hanya budi daya ikan nila, namun juga usaha-usaha lain,” pintanya.
Sebelum budi daya ikan nila tersebut berjalan selama hampir satu bulan itu, mereka mendapat pelatihan tentang teknis perawatan dan administrasi usaha yang dilakukan pada Bulan Agustus yang lalu. Saat ini, mereka merawat lima kolam ikan nilai, masing-masing kolam memiliki luas 4,5 x 6,5 meter. Setiap kolam diisi bibit ikan nila sebanyak 18 kilogram, dengan rincian, setiap 1 kologram berisi 60 bibit ikan nila.
Jadi Kolam Percontohan
 
Menurut Ketua BLK Kudus, Sajad mengungkapkan, dari sejumlah budi daya ikan nila yang diberikan kepada masyarakat Kudus, kolam yang dikelola anak-anak Punk tersebut dinilai sebagai yang paling baik. Bahkan kolam yang dikelola anak- anak Punk itu dibuat percontohan. “Banyak penerima bantuan budi daya ikan nila di desa lain yang datang untuk melihat dan mencontoh, karena perkembangan ikan sangat bagus jika dibanding kolam di desa lain” paparnya.
Sajad menambahkan, dari satu kuintal bibit ikan nilam, akan dihasilkan lima kuintal ikan nila dalam waktu tiga bulan. Sebagai gambaran, harga ikan nila saat ini mencapai Rp 15 ribu/kilogram. “Itu adalah hitungan terburuk kami, jika dihitung tingkat kematian ikan mencapai 50 persen” tuur Sajad.
Selain budi daya ikan nila, Sajad berjanji akan memberikan pelatihan skill lain
kepada anak-anak Punk lain, di antaranya pelatihan skill otomotif dan pertukangan. Hal itu dilakukan karena sejauh ini anak-anak Punk dapat menunjukkan kinerja yang baik. Diharapkan pelatihan-pelatihan lain dapat memberi jalan hidup yang lebih baik, daripada hidup di jalanan. (suwoko)
- advertisement -

Isi Liburan Sekolah, Anak-Anak Desa Rejosari Kabupaten Kudus Ikuti Festival Layang-layang

0
SEPUTAR KUDUS – Sejumlah anak mengikuti Festival Layang-layang di Desa Rejosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Festival itu dibuat untuk mengisi liburan sekolah. 

KUDUS-Masa libur panjang sekolah biasanya dimanfaatkan anak-anak untuk berwisata ke suatu tempat, sehingga tak jarang tempat seperti water boom atau tempat wisata lain terlihat penuh sesak saat musim liburan tiba. Namun tidak untuk anak-anak di Dukuh Sumber Rejo, Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus , mereka lebih memilih untuk mengisi liburan dengan menggelar festival layang-layang. Layang-layang yang dibuat pun berbeda dengan kebanyakan yang ada, layang-layang tersebut mereka sebut dengan Sowangan.

Layang-layang Sowangan dibuat dengan menggunakan kertas minyak, berrangka bambu, dan dibuat dengan bermacam bentuk, diantaranya burung, ikan dan segi lima. Yang sangat membedakan dengan yang lain, Sowangan mempunyai sebuah alat berbentuk busur panah yang dilengkungkan dengan sebuah pita, bisa pita kaset atau lainnya. Dengan busur itu layang-layang yang terbang bisa mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring terdengar sampai bawah dikarenakan getaran pita yang diakibatkan oleh gesekan pita dengan angin. Bunyi nyaring tersebut seperti suara kumbang, mungkin karena itulah layang-layang tersebut disebut Sowangan.

Festival tersebut diikuti belasan anak mulai dari tingkat Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah Atas. Menurut Penyenggara, Iwhan Miftahudin (28) saat ditemui beberapa hari yang lalu di acara tersebut, ini digelar untuk menumbuhkan kolektifitas anak kampung setempat dan nguri-nguri budaya dolanan yang semakin tergerus.

“Anak-anak sangat antusias dengan acara yang digelar, mereka memotong bambunya sendiri di kebun, merautnya, hingga melapisinya dengan kertas minyak dengan berbagai bentuk yang mereka sukai,” paparnya.

Iwhan menambahkan saat liburan ini kebetulan musim kemarau, dimana hujan jarang turun dan angin bagus untuk menerbangkan layang-layang. Dalam festival yang baru diselenggarakan untuk pertama kalinya ini, Iwhan mengatakan acara tidak membutuhkan banyak biaya, karena bahan yang dipergunakan bisa diperoleh dari lingkungan sekitar.

“Anak-anak hanya mengeluarkan recehan untuk membeli kertas minyak dan benang untuk mengulur layangan,” katanya.

Untuk menerbangkannya mereka memanfaatkan kebun tebu milik warga yang telah kosong karena dipanen. Saat festival digelar terlihat wajah-wajah ceria anak-anak yang begitu bersemangat untuk menjalankan instruksi dari Iwhan. Mereka dibagi dalam dua kelompok dan mengikuti prosedur serta langkah yang telah ditetapkan dalam pembuatan layang-layang oleh penyelenggara, pasalnya kebanyakan peserta banyak yang kurang paham tentang pembuatannya.

“Membuat layang-layang, terutama sowangan dibutuhkan keahlian dan kesabaran. Jika tidak diberi prosedur dan pendampingan kami khawatir layang-layang yang mereka buat tidak bisa terbang nanti,” tuturnya.

Sementara salah satu peserta, Ibnu Choirun Ni’am (15) mengaku sangat senang dengan acara yang digelar. Menurut siswa MTs Negeri 1 Kudus tersebut dapat melepaskan semua beban setelah mengikuti Ujian Nasional.

“Saya sangat senang karena bisa bermain rame-rame dengan teman sekampung, karena aktivitas sekolah saya jarang berkumpul dan bermain dengan teman-teman,” katanya.

Saat diterbangkan banyak layang-layang peserta yang tidak dapat terbang dengan sempurna meski angin siang itu sangat bagus, hal itu dikarenakan beberapa layang-layang tidak seimbang dalam saat dibuat. Beberapa yang lain dapat meluncur ke udara dengan mulus, namun beberapa juga ada yang menyangkut pohon di sekitar kebun. Warga sekitar terlihat banyak yang datang untuk menyaksikan dan juga memberi semangat kepada peserta. (Suwoko)

- advertisement -

Pergelaran Fashion Show Busana yang Pernah Diselenggarakan di Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Seorang siswa memeragakan baju bertema fauna dalam acara Karshival yang berlangsung di Alun-Alun Kabupaten Kudus pada tahun 2011 lalu. Acara ini menyedot perhatian ribuan masyarakat.

Kudus-Perhelatan akbar Kudus Art and Fashion Carnival (Karshival) yang digelas Sabtu (9/7/2011) malam yang terpusat di Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus berlangsung sangat meriah, ribuan warga Kudus tumpah ruah memadati sepanjang Jalan Lukmono Hadi, Jalan Dr Ramelan, Simpang Tujuh, dan Jalan Jendral Sudirman. Dalam sambutannya Bupati Kudus, Musthofa berjanji akan menjadikan Karshival sebagai event tahunan sebagai wadah kreasi masyarakat Kudus.

“Digelarnya event terbesar di Kudus untuk yang pertama kalinya ini diharapkan dapat menjadi wadah kreasi di bidang fashion yang berhubungan dengan industri bordir dan pakaian yang ada di Kudus. Saya melihat masyarakat sangat antusias, oleh karenanya kami harapkan event ini dapat digelar setiap tahun untuk masa yang akan datang,” ujarnya di hadapan ribuan warga yang menyaksikan event tersebut.

Gelaran kesenian dan fashion yang dimulai pukul 19.30 tersebut diawali dengan penampilan atraksi kembang api dan penampilan marcing band dari Semarang, kemudian dilanjutkan parade fashion dari 27 kontingen yang menampilkan berbagai kreasi mode dengan display yang diiringi lagu-lagu selama 3 menit secara bergantian. 

Berbagai bentuk pakaian ala karnaval di tampilkan masing-masing kontingen dengan tema flora dan fauna sebagaimana yang diminta oleh panitia. 27 Kontingen tersebut terbagi dalam beberapa golongan, 15 kontingen dari Sekolah Menengah Atas, 9 kontingen dari masyarakat yang diwakili per kecamatan, 1 kontingen dari Penggerak PKK, 1 kontingen dari Akbid Pemda Kudus dan 1 kontingen dari Marching Band yang diundang. Disamping itu juga beberapa kontingen mengambil ciri khas dari daerahnya masing-masing, seperti contoh Kecamatan Undaan yang menampilkan hasil pertanian dalam kostum mereka untuk melambangkan ciri khas Undaan sebagai lumbung pangan Kabupaten Kudus.



Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Brata Subagya menyampaika terima kasihnya kepada kontingen yang sangat antusias untuk menyaksikan gelaran akbar tersebut. Brata yang juga menjabat Asisten I Bidang Pemerintahan di Kabupaten Kudus tersebut juga menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat yang telah mendukung suksesnya acara.

“Kami masih merasa acara ini ada kekurangan disana-sini, karena event seperti ini baru pertama kalinya digelar. Kami berharap di tahun-tahun mendatang Karshival dapat lebih baik” katanya. 

Sebelumnya Brata mengungkapkan Karshival yang digelar menggunakan alokasi dana dari Pemda Kudus sebesar Rp 223 juta, dana tersebut tidak seberapa jika dibandingkan kegembiraan masyarakat yang sangat antusias menyaksikan Karshival. Namun ia merasa beruntung karena kontingen yang terlibat bersedia berswadaya untuk menutup kekurangan dana yang dibagikan. 

“Saya bersyukur dengan antusiasme para kontingen, meski dana yang dibagikan minim namun mereka bisa menyiasatinya dengan berswadaya” katanya.

Ia menambahkan untuk menambah keindahan dalam display di panggung untama dan penerangan di pusat acara pihaknya menyediakan daya listrik sebesar 100 ribu watt agar pagelaran dapat berjalan sempurna. Daya tersebut disediakan oleh PLN Kudus yang turut mendukung acara tersebut. Selain dari PLN pihak panitia juga mendapat dukungan dari sponsor yang menggelar berbagai acara di stan-stan yang telah disediakan panitia di alun-alun Kudus. 

Acara tesebut juga tidak dilewatkan para fotografer yang datang dari berbagai daerah untuk mengabadikan keindahan momen malam itu yang disediakan tempat khusus oleh panitia. Acara berjalan dengan tertib dan lancar dengan penjagaan aparat Kepolisian Polres Kudus dan Satpol PP Kabupaten Kudus. Acara berakhir pada pukul 22.00 dan ditutup dengan pesta kembang api selama kurang lebih 30 menit. (Suwoko)

- advertisement -

Kirab Bwee Gee Warga Tionghoa di Kabupaten Kudus Berlangsung Meriah

0
Sejumlah masyarakat Tionghoa di kabupaten Kudus mengikuti kirab Bwee Gee di Kabupaten Kudus, pada tahun 2011.

KUDUS-Kirab merupakan hal yang sering dilakukan masyarakat Indonesia dalam sebuah perayaan hari-hari tertentu. Termasuk masyarakat Tiong Hoa di Kudus, yang merayakan Bwee Gee untuk menyambut hari raya Imlek, dengan melakukan kirab, Minggu (8/1) kemarin.

Kirab yang diselenggarakan salah satu Klenteng tertua di Kudus itu, yakni Klenteng Hok Hien Bio di Jalan A Yani, berlangsung sangat meriah. Kirab dimulai dari klenteng, hingga Alun-Alun Simpang Tujuh, dengan mengusung patung Dewa Bumi. Menurut Ketua Yayasan Hok Hien Bio, Liong Kuo Tjan, acara Bwee Gee merupakan perayaan sebelum tahun baru imlek.

“Ini sebagai bentuk rasa terima kasih kami kepada Dewa Bumi. Kami mengarak patung Dewa Bumi, sebagai simbol kesejahteraan,” kata Liong, saat ditemui di sela-sela acara kirab, kemarin.

Liong menjelaskan, untuk menunjukkan rasa berterima kasih mereka kepada Dewa Bumi, ada tiga hal yang harus menjadi persyaratan, yakni memberikan persembahan atau sesaji. Sesaji diberikan dalam bentuk tiga hal, yakni buah, ikan dan berbagai jenis manisan.

Menurut Liong, kirab yang diselenggarakan kemarin, tidak hanya diikuti oleh masyarakat Kudus saja, namun juga diikuti oleh perwakilan klenteng dari berbagai daerah. Di antaranya, Semarang, Jepara, Yogyakarta, Surabaya, Magelang, dan salah satu klenteng yang ada di Manado. Masing-masing dari mereka, membawa bendera dan berbagai ornamen lain dari masing-masing klenteng, dan tak ketinggalan patung Dewa Bumi.

“Perayaan Bwee Gee ini biasa kami lakukan, dua minggu menjelang hari raya Imlek,” tutur Liong.

Sementara, masyarakat Kudus lainnya, tampak antusias melihat pelaksanaan kirab yang dilaksanakan siang kemarin. Mereka berkerumun di sepanjang jalan yang digunakan untuk mengarak patung Dewa Bumi.

Berkat Gus Dur

Menurut Liong, perayaan Bwee Gee di Kudus kemarin, merupakan kali kelima semenjak masa Reformasi. Hal itu tak lepas dari jasa besar Presiden Indonesia keempat, Abdurahman Wahid, atau lebih dikenal masyarakat sebagai Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur sangat berjasa besar bagi masyarakat Tiong Hoa, yang mengijinkan perayaan bernuansa China di Indonesia.

“Bagi kami, Gus Dur adalah pahlawan. Berkat beliaulah, kami dapat melakukan perayaan-perayaan secara terbuka di tengah-tengah masyarakat. Beliau telah mengembalikan pluralitas bangsa Indonesia, yang sejak puluhan tahun dihilangkan oleh pemerintahan Orde Baru,” tutur Liong.

Liong Berharap, tidak akan ada lagi sekat antara masyarakat Tiong Hoa keturunan dengan masyarakat yang lainnya. Masayarakat Tiong Hoa di Kudus selama ini telah berusaha membaur dengan warga masyarakat lainnya, dengan melibatkan diri dalam proses interaksi sosial. (Suwoko)

- advertisement -

Nikmatnya Kopi di Kedai Nusantara Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Seorang peracik kopi tengah menyiapkan sajian kopi di Kedai Kopi Nusantara, di kudus.
Sejak ratusan tahun yang lalu, pemerintahan
kolonial Belanda telah menguasai pasar dunia dengan berbagai macam hasil
rempah-rempah yang di tanam di tanah Nusantara, salah satunya kopi. Sebagai
negara tropis Indonesia memang  mempunyai
banyak daerah yang dikenal dengan kebun kopinya. Salah satu kedai kopi di Kudus
yang menyediakan kopi dari penjuru tanah air adalah Raja Kopi. Kedai kecil
tersebut terletak di Jalan Kolonel Tit Sudono, Gang 4, Desa Wergu Kulon,
Kecamatan Kota, Kudus yang menempati rumah berukuran 8 x 9 meter di tepi jalan.
Menurut Lukman (23) salah seorang karyawan
yang bertugas meracik kopi di kedai tersebut mengungkapkan di tempatnya
tersedia bermacam jenis kopi yang didatangkan dari penjuru Nusantara dari Sabang
sampai Merauke, di antaranya Kopi asal kebun Aceh Gayo, Lintong Mandheling,
Lampung, Bangka, Jolong Kudus, Java Jampit, Kintamani, Toraja Kalosi, Wamena
dan Amungme. Proses pembuatannya dan penyajiannya pun bermacam cara, ada
espresso, cappuccino dengan campuran berbagai macam susu krim dan bubuk.
“Kami juga menyediakan kopi luwak dengan rasa original, namun persediaan
di sini terbatas, karena stok dari penyuplai juga terbatas kepada kami”
papar Lukman kepada Warta Jateng (1007) kemarin. Ia menambahkan proses
penyajian dan pembuatannya ia buat di temapt itu yang dapat disaksikan oleh
pemesan.
Harga yang ditawarkan di kedai tersebut
menurut Lukman tergolong murah jika dibandingkan dengan yang ada di kota-kota
besar, yakni Rp 6 ribu hingga Rp 25 ribu. Selain kopi di kedai tersebut juga
tersedia teh poci, dan berbagai kudapan seperti roti bakar, french fries dan
sandwich. “Di sini memang pusatnya kopi, namun kami juga menyediakan teh
dan kudapan sebagai pelengkap” katanya.

Menurut Lukman kopi tidak hanya soal minuman,
namun juga soal rasa dan filosfi. Lebih lanjut ia menjelaskan bagi penikmat
kopi tidak terbatas pada sebuah minuman yang dapat dikonsumsi oleh penikmatnya,
namun kopi juga membawa sebuah identitas dari daerah tertentu yang melekat pada
jenis, rasa dan proses pembuatannya yang dapat menunjukkan karakteristik
masyarakat setempat. “Setiap penikmat kopi sejati tidak dapat merasakan
kenikmatan jika diminum sendirian atau di tempat dan suasana yang tidak
kondusif. Para penikmat kopi biasanya menikmatinya dalam suasana kebersamaan
dalam ditempat yang nyaman. Itulah filosifi kopi, kebersamaan” tuturnya.
Salah seorang penikmat kopi yang datang sore
kemarin, Kholid Mawardi (33) mengungkapkan dirinya sangat ketagihan dengan rasa
kopi torabica espresso, menurutnya proses pembuatannya unik, dan rasa yang
dihasilkannya juga unik. Setiap minggu sekali ia bersama dengan sesama penikmat
kopi datang untuk sekedar menyeruput secangkir kopi sambil ngorol ngalor
ngidul. “Disini suasananya sangat enak, tata ruangnya tidak begitu mewah
dengan tata lampu temaram yang nikmat jika ada secangkir kopi untuk teman
ngobrol” katanya. Ia menambahkan tempat kedai tersebut pun jauh dari suara
bising kendaraan meski terletak di tengah kota.

Menurut
Kholid selain kopi torabica espresso favoritnya, di sana ia juga dapat
menikmati kopi dari penjuru Nusantara, sejarah persebaran kebun kopi di
Indonesia, dan yang lebih menarik bisa melihat langsung proses pembuatannya.
“Di sini kami tidak khawatir akan rasa kopi yang dihasilkan, lebih nikmat
lagi karena kami dapat melihat proses pembuatan dengan bermacam alat dan
kepiawaian sang oeracik peracik dihadapan kami” pungkasnya. (Suwoko)

- advertisement -

Data Kependudukan Kabupaten Kudus Terbaru

0

Data kependudukan merupakan data pokok yang dibutuhkan baik kalangan pemerintah maupun swasta
sebagai bahan untuk perencanaan dan evaluasi hasil-hasil pembangunan. Hampir setiap aspek perencanaan
pembangunan baik di bidang sosial, ekonomi maupun politik memerlukan data penduduk karena penduduk
merupakan subjek sekaligus objek dari pembangunan.

Jumlah penduduk Kabupaten Kudus pada tahun 2011 tercatat sebesar 769.904 jiwa, terdiri dari 382.021 jiwa laki-laki (49,62 persen) dan 387.883 jiwa perempuan (50,38 persen). Apabila dilihat penyebarannya,
maka kecamatan yang paling tinggi persentase jumlah penduduknya adalah Kecamatan Jekulo yakni sebesar 12,84 persen dari jumlah penduduk yang ada di Kabupaten Kudus, kemudian berturut-turut Kecamatan Jati 12,77 persen dan Kecamatan Gebog 12,27 persen. Sedangkan kecamatan yang terkecil jumlah penduduknya adalah Kecamatan Bae sebesar 8,12 persen.

Bila dilihat dari perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuannya, maka diperoleh rasio jenis kelamin pada tahun 2011 sebesar 98,49 yang berarti bahwa setiap 100 penduduk perempuan terdapat 98
penduduk laki-laki. Dengan perkataan lain bahwa penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan dengan penduduk laki-laki, ini bisa dilihat hampir di semua kecamatan (kecuali kecamatan Gebog dan Dawe) bahwa angka rasio jenis kelamin di bawah 100 persen, yaitu berkisar antara 93,52 dan 99,92 persen.

Kepadatan penduduk dalam kurun waktu lima tahun (2007 – 2011) cenderung mengalami kenaikan seiring
dengan kenaikan jumlah penduduk. Pada tahun 2011 tercatat sebesar 1.811 jiwa setiap satu kilo meter persegi. Di sisi lain persebaran penduduk masih belum merata, Kecamatan Kota merupakan kecamatan yang terpadat yaitu 8.718 jiwa per km2. Undaan paling rendah kepadatan penduduknya yaitu 967 jiwa per km2. Jumlah rumah tangga tahun 2011 ada sebanyak 186.818 rumah tangga, dan diperoleh rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebesar 4,12.

Angka ini sama bila dibandingkan dengan angka tahun sebelumnya. Jumlah kelahiran selama tahun 2011 sebanyak 10.930 bayi, terdiri dari 5.735 bayi laki-laki dan 5.195 bayi perempuan. Pada tahun 2011 ini
diperoleh angka kelahiran kasar (CBR) sebesar 14,25 yang artinya dari 1000 orang penduduk terdapat kelahiran sebanyak 14 orang/bayi. Sedangkan jumlah kematian selama tahun 2011 sebanyak 5.448 jiwa terdiri dari 2.797 laki-laki dan 2.651 perempuan. Dengan angka kematian kasar (CDR) nya
sebesar 7,10.

Sumber: Pemkab Kudus 2012

- advertisement -

Tradisi Bulusan, Awal Berdirinya Dukuh Sumber di Kabupaten Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Pengunjung sedang melihat beberapa ekor bulus yang dipercaya
masyarakat Dukuh sumber sebagai penjelmaan murid Kyai Dudo.
Diperingati setiap tanggal 7 Syawal, bertepatan dengan Lebaran Ketupat
Bagi masyarakat Kudus, Tradisi Bulusan
merupakan tempat favorit masyarakat saat merayakan Syawalan atau Lebaran
Ketupat, meski banyak event di tempat lain yang diselenggarakan. Tradisi yang
bertempat di petilasan Kyai Dudo, Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo
tersebut sejak Minggu (4/9) kemarin telah dimulai dengan melakukan resik-resik
sendang . Sendang dengan mata air yang tidak pernah mengering meski di musim
kemarau itu, dihuni beberapa ekor bulus yang dipercaya warga Dukuh Sumber
sebagai penjelmaan murid Kyai Dudo, sesepuh desa yang dikeramatkan.
Menurut juru kunci Bulusan, Sudasih (56)
menceritakan, tradisi bulusan telah dilestarikan sejak ratusan tahun lampau,
tradisi tersebut dimaksudkan untuk mendoakan Kyai Dudo dan bulus yang dipercaya
penjelmaan pasutri, Umara dan Umari, dua orang murid Kyai Dudo. Sudasih
menambahkan, Kyai Dudo atau Joko Samudro bernama asli Sayid Hasan. Kyai Dudo
merupakan orang pertama yang tinggal di Dukuh Sumber beberapa ratus tahun yang
lampau.
Lebih lanjut Sudasih menceritakan, penjelmaan
dua orang murid Kyai Dudo menjadi seokor bulus, berawal dari niatnya untuk
menanam padi di tempat yang masih berupa hutan belantara tersebut. Karena saat
itu bulan puasa, Kyai Dudo meminta Umara dan Umari untuk memulai kerja di malam
hari, setelah sholat tarawih. Saat kedua pasutri tersebut bekerja di sawah,
Sunan Muria berkunjung ke tempat Kyai Dudo yang saat ini menjadi petilasannya.
Mendengar suara orang yang beraktivitas di air, Suanan Muria Bertanya kepada
Kyai Dudo,
“Suara apa itu, kok seperti bulus yang sedang berenang di
air?”. erkataan Suanan Muria tersebut, lantas menjadi sabda yang kemudian
merubah wujud kedua orang Murid Kyai Dudo menjadi dua ekor bulus.
Sudasih menambahkan Kyai Dudo pun sedih dengan
menjelmanya kedua orang muridnya menjadi hewan amfibi tersebut. Namun Sunan
Muria memintanya untuk tidak bersedih, dimintanya Kyai Dudo untuk mencabut
sebuah tongkat yang tertanam di sawah yang terletak beberapa meter dari
petilasan, maka keluarlah air yang menyembur ke atas.
“Keluarnya air
tersebut kemudian diabadikannya menjadi sebuah nama tempat, yaitu Dukuh Sumber.
Setelah tempat tersebut dihuni masyarakat, Kyai Dudo kemudian meminta setiap
tanggal 7 Syawal untuk membuat ritual guna mendoakan dua orang muridnya yang
menjadi bulus” kata Sudasih.
SEPUTAR KUDUS – Para pedagang menggelar lapak mereka di jalan menuju tempat diselenggarakanannya tradisi bulusan.
Ritual doa yang diikuti seluruh masyarakat
Dukuh Sumber yang kemudian disebut sebagai tradisi Bulusan, menjadi tontonan
menarik masyarakat Kudus hingga saat ini. Tradisi Bulusaan saat ini tidak hanya
menyuguhkan ritual doa di petilasan Kyai Dudo saja, namun juga ada kegiatan
resik-resik sendang dan berbagai kegiatan lain, di antaranya parade musik dan
hiburan panggung lainnya.
Dipenuhi PKL
Ramainya pengunjung yang datang, kemudian
menarik para pedagang untuk menggelar dagangan mereka di sekitar sendang. Kini
tradisi Bulusan sudah menjadi agenda tahunan bagi para pedgang, bahkan
sepanjang jalan mulai dari Jlan Kudus Pati hingga tempat petilasan yang
berjarak sekitar 500 meter, dipenuhi para pedagang di tepi-tepi jalan. Umumnya
para pedagang menjual beraneka ragam guci tanah liat, boneka, dan aneka macam
makanan.

Tak hanya itu, tradisi yang kini dikelola
Dewan Kesenian Kudus (DKK) bekerjasama dengan Pemkab tersebut juga menarik
minat para penjual jasa wahana permainan, seperti komedi putar dan pertunjukan
ular. Tradisi tersebut menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Kudus yang
ikut berjualan, khususnya masyarakat Dukuh Sumber dengan kedatangan ratusan
pengunjung. (suwoko)
- advertisement -

Sensasi Segar Di Terminal Es di Kabupaten Kudus

0
Sajian es campur di Terminal Es, Jalan Lingkar Utara Panjang, kilometer 1, Kabupaten Kudus.

KUDUS-Terminal Es, warung sederhana yang terletak di kilometer 1 Jalan Lingkar Utara
Panjang, Kudus, menyediakan berbagai macam minuman es untuk
melepas penat dan menikmati sensasi segar dan dinginnya. Di warung yang buka
mulai pukul 10.00 hingga pukul 21.00 tersebut tampak ramai dan belasan meja
terlihat penuh setiap harinya, terlebih saat akhir pekan.

Tak hanya remaja, namun juga kalangan dewasa
yang sering datang bersama keluarga. Di sana pengunjung
dimanjakan dengan puluhan menu es yang menyegargan, di antaranya es campur, es
teller, es klamud, sub buah dan berbagai macam es jus yang dapat dipesan
beberapa menit saja.
Pengunjung tinggal menunjuk menu yang telah
disediakan dan tampak dalam sebuah lemari kaca yang berjajar berbagai buah
segar, serta dapat melihat secara langsung pembuatannya, mulai dari proses pengupasan
buah hingga proses penyajiannya.
Menurut pengelola Teminal Es, Agus setiawan
(30) menu favorit yang sering diminta pengunjung adalah es campur dan sub buah.
Ia tidak mematok harga yang mahal pada kedua menu favorit tersebut, pengunjung
hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp 3.000 saja untuk dapat
menikmati segarnya kedua menu tersebut. Untuk menu lain, pengunjung hanya cukup
menyiapkan uang dari Rp 1.500 hingga Rp 4.000 saja untuk
berbagai sajian es jus yang beraneka macam rasa buah dan yang mix dengan susu
dan krim.
Agus mengungkapkan di warung sederhananya
tersebut dalam satu hari dapat menghabiskan 5 balok es saat ramai dan saat sepi
ia menghabiskan sekitar 3 balok es. Jika dihitung jumlah gelas dalam sajian
aneka ragam es yang terjual warung tersebut dapat menyajikan ratusan gelas
dalam satu hari.

“Kami tidak bisa menghitung berapa gelas
setiap harinya, tapi yang jelas ada ratusan” katanya. Warung tersebut
sangat ramai oelh pengunjung tidak hanya siang hari saat cuaca terasa panas,
namun juga malam hari yang juga dipadati pengunjung.
Terminal Es yang telah ada sejak tahun 1971
tersebut merupakan nama warung es yang cukup dikenal masyarakat Kudus, tak
hanya dapat ditemui di Jalan Lingkar Utara, namun juga di tempat lain. Menurut
Agus Terminal Es mempunyai 6 cabang yang tersebar di seluruh Kudus, di
antaranya di Kompleks Gedung Olahraga (Gor) Wergu Wetan Kudus yang juga ramai
dikunjungi pelanggan setia. Agus menambahkan di Jalan Lingkar Utara saja,
Terminal Es mempunyai 20 karyawan, yang terdiri dari pembuat sajian puluhan
menu es, penyaji hingga petugas kebersihan.
“Setiap hari mereka bekerja selama 11
jam, namun karena semua pekerjaan dilakukan bersama dengan penuh semangat dan
kekeluargaan hal tersebut tidak menjadi masalah” tuturnya.
Demi untuk melayani pelanggan setianya, Agus
menjelaskan Terminal Es tidak mengenal libur. Pasalnya warungnya tersebut
selalu ramai didatangi pelanggan baik hari libur maupun hari-hari biasa. Namun
menghilangkan penat karyawan pihaknya meberikan libur untuk seluruh karyawan
dua minggu sekali di hari Rabu.
“Hari Rabu kami pilih dengan alasan di
hari tersebut pelanggan tidak pegitu banyak dibanding dengan akhir pekan”
ujarnya.

Selain
berbagai menu es, Terminal Es juga menyediakan menu makanan untuk bisa dipesan.
Diantaranya mie ayam, bakso, mie jamur, sup jamur, nasi goreng dan nasi rawut.
Harga yang ditetapkan cukup murah, yakni Rp 4.000
hingga Rp 9.000. (Suwoko)

- advertisement -

Warna-warni Tas Cantik untuk Wanita di Rumah Warna Kudus

0
Dua orang pengnjung tampak mengamati produk tas yang dijual di Rumah Warna Kudus.

KUDUS-Bagi sebagian orang, tas tidak hanya memiliki fungsi tempat barang bawaan. Ada di antara masyarakat yang menjadikan tas sebagai salah satu gaya hidup. Tak heran, jika Rumah Warna, salah satu toko tas di Kudus, menyediakan tas dengan berbagai macam bentuk dan aksesoris, dengan warna-warna pilihan yang sangat menarik.

Toko yang terletak di Jalan Sunan Muria itu, telah didesain sedemikian rupa dan mencerminkan warna-warni produk tas yang dijual. Di etalase toko, berjajar berbagai macam dan bentuk tas yang menarik, dengan warna-warni yang cukup mencolok.

Menurut salah satu penjaga toko Rumah Warna, Naliyal Hikmah (19), toko itu telah ada sejak tahun 2010 yang lalu. Bidikan pasar yang menjadi target, adalah para remaja perempuan dan anak-anak. Target itu dipilih, karena keduanya memiliki kecenderungan untuk menjadikan tas sebagai gaya hidup.

“Perempuan remaja, biasanya memiliki banyak tas. Mereka cenderung menyesuaikan tempat, acara dan waktu, untuk menggunakan tas yang sesuai dengan hal tersebut. Khusus untuk anak-anak, biasanya, mereka akan berganti-ganti tas, jika ada model baru yang lebih menarik,” ujar Naliyal, saat ditemui di Rumah Warna, Senin (9/1) kemarin.

Produk yang ditawarkan di Rumah Warna, menurut Naliyal ada beberapa ragam dan corak, serta aksesoris sebegai pelengkap. Sebagian besar, produk yang ditawarkan berwarna cerah. Itu disesuaikan dengan selera remaja dan anak-anak. Jenis produk meliputi, tas santai, tas kuliyah, tas kerja, dan tas sekolah.

“Kisaran harga yang kami tawarkan bervariasi, yakni berkisar antara Rp 75.000, hingga Rp 225.000. Tergantung kualitas bahan dan aksesoris yang menjadi ciri khasnya,” ujar Naliyal.

Ia menjelaskan, setiap hari rata-rata omzet yang didapat bisa mencapai Rp 2 juta. Kebanyakan produk yang diminati adalah tas remaja, dengan penjualan rata-rata 20 tas setiap hari. Untuk produk tas anak-anak, ramai terjual saat libur sekolah dan kenaikan kelas.

Selain menyediakan tas yang berukuran besar, Rumah Warna juga menyediakan tas berukuran kecil. Menurut Naliyal, produk tas tersebut berupa tas ponsel, tas peralatan kecantikan, dan tas peralatan tulis bagi anak-anak. Produk tas mini ini, didesain dengan sangat simpel, namun sangat menarik, karena dilengkapi dengan aksesoris sebagai hiasan.

“Harga yang kami tawarkan untuk produk tas mini ini, berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 25.000,” kata perempuan berjilbab itu.

Ready Stok

Meski produk tas yang dibuat memiliki keunikan, namun Rumah Warna tidak memproduksinya secara limit. Dari sekian banyak bentuk, corak dan aksesoris yang ada, pihak Rumah Warna mengaku memiliki stok tas cukup banyaka, atau ready stok.

“Hal ini sebagai strategi kami, untuk mengantisipasi pembeli yang menginginkan tas, dengan bentuk dan warna yang sama. Karena, tas bukanlah produk yang sama seperti pakaian, yang dipergunakan secara primer,” ungkap Naliyal. (Suwoko)

- advertisement -