Beranda blog Halaman 1977

Bencana Banjir dan Longsor di Kabupaten Kudus Tahun 2014 Ini Memilukan

0
SEPUTAR KUDUS – Sejumlah warga terpaksa menuntun kendaraan yang mogok karena banjir di kawasan Colombo, Jati, Kudus, Rabu (22/1/2014). 

KUDUS-Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Kudus yang terjadi pekan ini (Januari 2014) begitu menyisakan duka mendalam, tidak hanya para korban, tapi juga masyarakat secara keseluruhan. Bencana yang mengakibatkan sejumlah korban jiwa, dan ribuan warga mengungsi ini, menjadi keprihatianan seluruh masyarakat Kudus, dan sebagian masyarakat di Jawa Tengah.

Bencana banjir dan tanah longsor, seolah menjadi hal yang lumrah terjadi setiap tahun, meski tak sebesar tahun 2014 ini. Bencana yang terjadi saat ini, mengingatkan masyarakat pada bencana banjir Desember 2007 dan Januari 2008. Sepertinya, bencana ini mirip siklus lima tahunan.

Banjir yang terjadi di Kabupaten Kudus ini, membuat akses jalan Pantura macet total, sejak Rabu (22/1/2014) pagi, dan diperkirakan akan terjadi hingga beberapa hari berikutnya. Kemacetan total tersebut disebabkan terputusnya akses lalu lintas di kawasan Terminal Induk Kudus. Antrean kendaraan, bahkan mengular di Jalan R Agil Kusumadya, sekitar kawasan Kencing hingga Jalan Ahmad Yani di depan kantor DPRD Jateng. Terputusnya akses lalu lintas di karenakan banjir stinggi pinggang orang dewasa.

Banjir tersebut juga menyebabkan kemacetan total di perbatasan Kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak, tepatnya di kawasan Jembatan Tanggulangin. Pengendara yang akan melintas di Kudus harus tertahan, karena kedalaman air yang terjadi di kawasan tersebut.

Banjir juga terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus. Di antaranya, Desa Jetis Kapuan, sebagian desa di Kecamatan Undaan, termasuk Desa Karangrowo, Desa Mejobo, dan sebagian di sejumlah Desa di Kecamatan Jekulo. Akibat banjir ini, ribuan warga terkena banjir diungsikan ke sejumlah posko pengungsian.

Sedangkan bencana longsor terjadi di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog. Sebanyak 12 warga dukuh tersebut tertimbun longsor. Kejadian ini menyita perhatian banyak kalangan, tak hanya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, namun juga sejumlah media nasional. (Suwoko)

Video Banjir Kudus

- advertisement -

Merasakan Kemewahan Bus Omah Mlayu di Kudus, Bus Termewah di Indonesia

0
SEPUTAR KUDUS- Bus Omah Mlayu tampak depan.

SEPUTAR KUDUS-Meski libur panjang masih lama lagi, namun tidak ada salahnya jika kita merencanakan dan mempersiapkannya sejak awal. Untuk menuju tempat-tempat wisata yang telah kita tentukan, kemewahan yang ditawarkan bus Omah Mlayu, mungkin bisa menjadi alternatif pilihan.

Sarana transportasi yang dimiliki Perusahaan Otobus (PO) Nusantara ini, memang sudah diakui sebagai bus termewah yang ada di Indonesia, saat ini. Dengan mengusung konsep luxury atau kemewahan, bus ini akan menjamin kenyamanan bagi siapa saja yang mengendarainya. Pelbagai sarana layaknya rumah berjalan, disediakan di dalam bus yang super mewah ini. Tak jarang, artis kenamaan dan para pejabat tingkat nasional, pernah menjajal kenyamanannya.

Menurut Manajer PO Nusantara, Andy Darmawan, bus Omah Mlayu sangat tepat untuk digunakan berlibur bersama keluarga. Pengguna tidak perlu mencari tempat penginapan atau hotel, karena bus ini telah didesain sebagaimana rumah dengan kemewahan layaknya hotel berbintang.

“Pengguna tinggal menentukan tempat wisata yang akan dituju, memarkirnya di dekat tempat wisata, jika sudah puas berwisata, mereka tinggal beristirahat di dlam bus,” ujar Andy, saat ditemui di Pool PO Nusantara, Jalan Kudus Demak, kilometer 5, Kudus, beberapa waktu lalu.

Andy menjelaskan, di dalam bus Omah Mlayu terdapat fasilitas yang sangat lengkap, yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di ruang depan adalah tempat kemudi yang dipisahkan dengan sebuah pintu dengan ruang tengah. Sedangkan di ruang tengah, terdapat kursi sofa ukuran besar, kursi pijat elektrik, LCD TV 32 inchi dan DVD Player yang dilengkapi fasilitas karaoke. Selain itu, di ruang tersebut juga terdapat dapur kering yang dilengkapi dengan lemari es, microwave, pemanas air, dan pemanggang roti, serta meja dan kursi untuk makan.

“Di ruang belakang tak halah mewah. Di sana kami sediakan sebuah sofa ukuran sedang, sebuah LCD TV, dua tempat tidur, dan satu toilet,” tutur Andy.

Untuk melengkapi fasilitas IT bagi pengguna yang ingin terhubung dengan jaringan internet, bus Omah Mlayu memanjakan pengguna dengan menyediakan jaringan hotspot, yang dapat diakses melalui netbook atau ponsel. Selain itu, Omah Mlayu juga dilengkapi dengan GPS, yang terhubung dengan LCD monitor yang terdapat di ruang tengah, sehingga pengendara dapat mengetahui keberadaan mereka melalui alat tersebut.

Kemwahan dan kenyamanan tidak hanya ada di dalam bus saja, namun juga terdapat di bagian luar bus. Omah Mlayu telah menggunakan mesin jesis Scania, yang begitu halus namun sangat kuat. Kenyamanan bus juga didukung dengan suspensi angin, sehingga pengguna tidak akan merasakan hentakan apapun, saat melalui jalan berlubang sekalipun.

Menurut Andy, PO Nusantara saat ini telah memiliki satu unit bus Omah Mlayu dengan konsep luxury, dengan warna domonan merah marun. Namun, selain Omah Mlayu, pihaknya juga memiliki satu unit bus Omah Mlaku, dengan desain klasik, dengan warna dominan coklat muda.

“Meski berbeda, namun dua bus tersebut sama mewahnya. Hanya terdapat perbedaan konsep desainnya saja. Faslitas, mesin, dan suspensi, semuanya sama,” ujar Andy.

Ia menambaghkan, ntuk dapat menggunakan dua bus yang super mewah itu, pihaknya mematok harga Rp 7,5 juta setiap hari pada masa liburan kali ini. Namun, bagi pemesan diharuskan menyewa minimal tiga hari. Harga tersebut, pengguna hanya diperbolehkan untuk menjangkau kota-kota di sekitar Jawa Tengah dan Jogjakarta.

“Untuk hari-hari biasa, kami mematok harga Rp 6 juta untuk satu hari, dan minimal penggunaan tiga hari. Kami menaikkan harga di masa liburan kali ini, karena minat pemesak cukup banyak,” kata Andy. (suwoko)

- advertisement -

Data Administrasi dan Kepegawaian di Kabupaten Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Ilustrasi pertanian

SEPUTAR KUDUSKabupaten Kudus terbagi dalam 9 Kecamatan, 123 Desa dan 9 kelurahan, serta 713 Rukun Warga (RW), 3.752 Rukun Tetangga (RT) dan 414 Dukuh/Lingkungan.

Kecamatan Kota merupakan kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan terbanyak yaitu 25 desa/kelurahan sedangkan Kecamatan Bae adalah kecamatan dengan jumlah desa terkecil (10 Desa).

Pada akhir Tahun 2011 jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Kudus sebanyak 11.314 orang. Bila dilihat menurut pendidikan yang di tamatkan adalah tamat SD 3,82 persen, tamat SLTP / Sederajat 4,61 persen, tamat SLTA / Sederajat 24,19 persen, D2 11,54 persen, D37,81 persen, sedangkan sarjana S1/D4 40,91 persen dan S2 3,80 persen.

Sedangkan bila dilihat menurut golongan adalah 4,95 persen PNS golongan I; 24,01 persen golongan II;37,39 persen golongan III; dan 33,65 persen merupakan PNS golongan IV.

Kecamatan
Desa
Kelurahan
Jumlah
RT
RW
Dukuh
Kaliwungu      
15
0
15
67
441
48
Kota  
16
9
25
110
497
60
Jati
14
0
14
78
375
41
Undaan
16
0
16
63
357
31
Mejobo
11
0
11
69
341
32
Jekulo
12
0
12
85
443
47
Bae
10
0
10
51
284
48
Gebog
11
0
11
81
433
38
D a w e
18
0
18
109
581
71

Sumber: Pemkab Kudus 2011
- advertisement -

Bripka Bondhan, Polisi Kudus yang Jago Ndalang

0
SEPUTAR KUDUS – Anggota Polres Kudus Bripka Bondan mendalang dalam cara sunatan di Kudus, tahun 2011 lalu. Dengan mengenakan seragam polisinya, dia mbabar wayang di depan para tamu undangan.

SEPUTAR KUDUS – Tak hanya Briptu Norman Kamaru yang mempunyai bakat seni dalam korps kepolisian yang terlihat elegan dan sangar, namun di jajaran Polisi Resor (Polres) Kudus ada salah seorang personil, Bripka Bondhan Hari Tunggal yang juga tak kalah jagonya dalam hal mengekspresikan jiwa seninya. Namun personil polisi yang ini tak bisa menari dan menyanyi lagu India sebagaimana personil Brimob asal Gorontalo, Ia jago mbabar wayang sebagai seorang dalang.

Polisi berkumis tebal tersebut terlihat sangat mahir memainkan wayang saat diundang sebagai dalang di sebuah pesta pernikahan seorang warga Desa Soco, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Hardi (48) hari Rabu (29/6) kemarin. Dengan memakai seragam polisi lengkap Bondhan sangat piawai bercerita layaknya dalang sungguhan dan juga begitu merdu ketika melantunkan tembang Jawa dalam pewayangan yang dikenal sangat sulit.

Dalam pementasan tersebut Bondhan memilih lakon “Wahyu Cokroningrat”, yang menggambarkan kepemimpinan seorang tokoh dalam pewayangan. Siang itu tamu undangan yang menyaksikan aksi Bondhan  terlihat menikmati pertunjukan tersebut. Tak hanya dari kalangan orang dewasa, para remaja pun terlihat antusias.

Bondhan menceritakan awalnya ia tertarik dengan wayang karena sejak kecil ayahnya seorang pensiunan TNI yang juga ndalang mengenalkannya pada sosok-sosok wayang dan tertarik dengan cerita yang dilakonkan. “Saya tertarik terhadap wayang bukan hanya karena wayang warisan budaya leluhur semata, namun juga karena cerita yang diangkat dalam pewayangan dapat memberi tuntunan kepada kita meski kita hidup di zaman yang katanya modern ini” paprnya.

Pria Kelahiran Cilacap, 7 Juli 1959 tersebut menceritakan saat ia masuk dalam jajaran kepolisian tahun 1981 gaji pertamanya sebagian ia belikan wayang untuk dikoleksi. “Setiap kali gajian saya menyisihkan uang Rp 2000 untuk membeli wayang, pada saat itu uang tersebut dapat membeli sebuah wayang dengan kualitas yang bagus” katanya. Akhirnya satu demi satu wayang ia kumpulkan dengan lengkap setelah beberapa tahun kemudian.

Saat ditempatkan di Polres Kudus, hobinya tersebut akhirnya diseriusi, ia mengambil les privat kepada Ki Dalang Bambang Hadi Wijoyo. Meski telah sedikit memahami cerita wayang dan penokohannya, Bondhan harus belajar teknis sebagai seorang dalang dengan berlatih melantunkan cerita, menggerakkan wayang dan nembang Jawa. “Awalnya sulit untuk bisa melantunkan cerita sebagaimana dalang profesional, namun lama kelamaan akhirnya saya bisa melakukannya dan bahkan bisa tampil di depan penonton” katanya.

Di pementasan tersebut Bondhan mengaku grogi karena 2 tahun tidak pernah tampil di depan penonton. Terakhir kali ia ndalang pada tahun 2009 di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Polsek Kecamatan Dawe. “Lama tidak ndalang grogi juga, namun karena sudah punya pengalaman saya bisa mengatasinya” tuturnya.

Sejauh ini atasan Bondhan di Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Kudus mendukung hobinya tersebut, bahkan ketika ia diundang seperti sekarang ia diijinkan. “Namun saya tidak lantas mengesampingkan tugas dan kewajiban sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, tugas saya di kepolisian tetap nomor satu” ujarnya.

Bondhan berharap pada perayaan hari Bayangkara yang ke 65 ini institusi kepolisian dapat kembali dekat dengan rakyat, salah satunya melalui pendekatan kebudayaan dan kesenian. “Salah satu manfaat ketika personil polisi bisa ndalang, kami bisa menyampaikan hal-hal yang menjadi program kepolisian, di samping itu juga masyarakat akan lebih bisa menerima kami karena kesenian dan kebudayaan dapat menyatukan keduanya” pungkasnya. (Suwoko)

- advertisement -

KH Turaichan Adjhury, Ahli Falak dari Kudus (3) Sosok yang Tak Tergantikan

0
SEPUTAR KUDUS – KH Turaichan

Sosok yang Tak Tergantikan

SEPUTAR KUDUS – Pengamat sekaligus akademisi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Saechan Muchit menyatakan belum ada satu pun pengganti KH Turaichan Adjhury di bidang ilmu falakiyah. Dengan ketegunan dan keilmuan Mbah Tur — sebutan KH Turaichan Adjhury — yang selalu tepat dalam penentuan tanggal dan fenomena-fenomena alam yang valid, menjadikan beliau sangat disegani dan kharismatik.

“Hingga saat ini saya belum menemukan ahli falak sekaliber beliau. Ketokohan Mbah Tur sebagai ahli falak dan sekaligus menjadi ulama panutan masyarakat, rasanya sulit untuk mencari penggantinya” papar salah satu dosen Fakultas Syariah tersebut saat ditemui di kediamannya (31/7/2011). Pernyataan Saechan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, menurut dia setelah meninggalnya beliau pada tahun 1999 masyarakat tidak lagi peduli dengan ketentuan-ketentuan syar’i dalam hal ubudiyah.

Ia menceritakan dulu masyarakat Kudus dan sekitarnya sangat percaya dan meyakini ketentuan-ketentuan Mbah Tur yang tercetak dalam kalender hasil percetakan Menara Kudus yang hingga sekarang masih berproduksi. “Dulu di setiap dinding rumah orang Kudus pasti terdapat kalender Menara, namun sekarang tidak banyak lagi. Masyarakat sekarang tidak terlalu mempedulikan jadwal waktu sholat sesuai dengan hitungan falakiyah, atau jam yang sesuai dengan waktu istiwak” katanya.

Menurutnya masyarakat sekarang menggantungkan pada informasi media elektronik yang tidak jelas rujukannya, atau sekedar percaya begitu saja dengan keputusan-keputusan tokoh dan lembaga lain yang belum mempunyai kredibilitas yang mumpuni. “Ini problem yang serius, karena waktu yang harus ditentukan melalui perhitungan falakiyah sangat menentukan sah dan tidaknya ibadah seseorang” tuturnya.

Saechan menambahkan, eksistensi kalender Menara Kudus harus tetap dipertahankan agar entitas Kudus sebagai kota yang dikenal sangat mumpuni dalam bidang falakiyah tetap terjaga. Kalender Menara Kudus hingga saat ini masih dipercayakan putra Mbah Tur, Syiril Aufa atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Tajus Syarof. Syril sekarang mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai dosen pengajar ilmu falak.

“Karena sangat pentingnya ilmu falak, pemerintah melalui Departemen Agama harus melakukan terobosan baru agar ilmu falak lebih disukai oleh generasi yang akan datang. Depag dapat memasukkan mata pelajaran ilmu falak di lembaga pendidikan di sekolah-sekolah agama atau perguruan tinggi agama” pungkasnya. (Suwoko)

- advertisement -

KH Turaichan Adjhury, Ahli Falak dari Kudus (2) Dicekal Pemerintah Karena Gerhana Matahari

0
KH TURAICHAN ADHJURY
SEPUTAR KUDUS (Repro)

Dicekal Pemerintah Karena Gerhana Matahari

SEPUTAR KUDUS – Salah satu sepupu KH Turaichan Adjhury yang juga menekuni ilmu falak, Kiai Ahmad Rofiq (80) mengungkapkan, Mbah Tur adalah seorang ulma yang teguh memegang prinsip dan pendapat yang ia yakini. Saat tergabung dalam tim Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), beberapa kali terlibat silang pendapat dengan pendapat ulama-ulama mayoritas. Namun ia tetap kukuh mempertahankan pendapatnya.

“Karena terbukti pendapat-pendapat Mbah Tur (KH Turaichan Adjhury) lebih banyak yang sesuai dengan kenyataan, maka inilah yang membuat kharisma dan kealiman serta ketelitiannya semakin diperhitungkan dalam penentuan penanggalan hijriyah. Karena itu Mbah Tur menjadi sangat masyhur di kalangan ahli falak di Indonesia dan banyak mempunyai murid yang masih tekun mempelajari ilmu yang dikenal masyarakat sangat sulit ini” papar Kyai Rofiq saat ditemui di kediamannya, Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus (2011).

Kiai Rofiq menceritakan, meski banyak ulama yang menentang keputusan yang ia buat, namun Mbah Tur tetap bersikap baik terhadap ulama yang berbeda pendapat dengan dirinya. Bahkan beliau sangat akomodatif terhadap sikap pemerintah yang terkesan represif karena menolak keputusan penguasa saat itu dalam penentuan awal Bulan Syawal. “Pada satu waktu dulu pemerintah sering mencekal Mbah Tur karena pendapatnya sering kontroversi. Bahkan beliau diancam akan disidang ke pengadilan karena berbeda pendapat dengan keputusan pemerintah” tuturnya.

Lebih lanjut ia menceritakan pada sekitar tahun 1984 pemerintah pernah mencekal Mbah Tur untuk tidak keluar dari rumah saat akan terjadi gerhana matahari total. Pemerintah khawatir dengan pendapat beliau yang menyatakan gerhana matahari adalah fenomena alam yang setiap orang boleh melihatnya secara langsung. Sedangkan pemerintah dan sebagian tokoh berpendapat masyarakat tidak diperbolehkan menyaksikannya karena akan berdampak buruk karena turunnya penyakit. “Jangankan berdiam diri di rumah, Mbah Tur justru mengundang masyarakat untuk datang ke Masjid Menara Kudus untuk salat gerhana dan mendengarkan khutbah khushufusy syamsy beliau” ungkapnya.

Pada waktu terjadi peristiwa gerhana Matahari total tersebut, Mbah Tur mengungkapkan dalam khutbahnya kepada masyarakat yang datang, bahwa gerhana matahari total adalah fenomena alam yang tidak akan menimbulkan dampak penyakit apapun bagi manusia jika ingin melihatnya. Bahkan menurut Mbah Tur, Allah lah yang memerintahkan untuk melihatnya secara langsung, karena redaksi pengabaran fenomena yang menunjukkan keagungan Allah ini difirmankan menggunakan kata ”abshara”. Artinya, perintah melihat secara langsung dengan mata, bukan makna denotatif.

“Bahkan saat itu Mbah Tur mengajak jamaah untuk keluar dan menyaksikan gerhana matahari yang terjadi secara langsung. Setelah beberapa saat, para jamaah kembali ke tempatnya semula, khutbah pun dilanjutkan dan tidak terjadi suatu musibah apapun” ungkap Kiai Rofiq. Ia menambahkan karena keberaniannya ini, Mbah Tur harus menghadap dan mempertanggungjawabkan tindakannya di depan aparat negara yang sedemikian represif waktu itu. Meski demikian sama sekali Mbah Tur tidak menunjukkan tabiat mendendam terhadap pemerintah. (Suwoko)

- advertisement -

KH Turaichan Adjhury, Ahli Falak dari Kudus (1) Tak Pernah Mondok di Pesantren

0

SEPUTAR KUDUS – Nama KH Turaichan Adjhury atau sering dipanggil Mbah Tur, seorang alhi falak atau astronomi sangat melekat bagi ahli falak di Indonesia, khususnya masyarakat Kudus dan sekitarnya. Ketika masih hidup, beliau menjadi rujukan bagi masyarakat dan ahli falak lain dalam penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal dalam penanggalan Hijriyah. Masyarakat merujuk beliau melalui kalender cetakan Menara Kudus yang sangat melekat sejak puluhan tahun yang lalu.

Ilmu falak bagi masyarakat Muslim sangatlah penting, karena banyak ubudiyah atau ibadah sehari-hari yang ditentukan melalui waktu-waktu penanggalan Hijriyah. Waktu salat, jadwal adzan, dan penanggalan, bahkan penentuan arah kiblat ditentukan dengan perhitungan ilmu falak. Sehingga ahli falak sangat dibutuhkan peranannya meski sekarang peralatan canggih dalam ilmu perbintangan sudah banyak digunakan.

Penanggalan Hijriyah atau sering juga disebut tanggal Qomariyah, mendasarkan perhitungan pada perputaran bulan pada porosnya. Sedang penanggalan masehi atau miladiyah yang umum dipergunakan masyarakat dihitung berdasarkan putaran matahari atau syamsiyah dari porosnya. Kedua jenis penanggalan ini sangat berbeda dalam metode perhitungannya, banyak terjadi selisih hari sehingga penanggalan masehi dan Hijriyah tidak pernah sama.

Kelahiran

KH Turaichan Adjhury adalah ulama dari Kudus yang sangat disegani pada masanya. Beliau dilahirkan pada 10 Maret 1915 dari pasangan Adjhuri dan Sukainah di Desa Langgardalem RT 3 RW 1, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus yang hanya berjarak sekitar 25 meter dari Masjid Menara Kudus. Terlahir dari keluarga kiai dan hidup dilingkungan agamis, Mbah Tur –Sapaan Turaichan Adjhury– pada masa kecilnya belajar dari para ulama di lingkungan tempat tinggalnya yang sejak dulu terkenal sebagai lingkungan santri.

Salah satu cucunya, Aufa Dzaka (24) saat ditemui (31/7/2011) di kediamannya yang dulu ditempati Mbah Tur semasa hidup, menceritakan, ulama salaf tersebut berbeda dengan ulama-ulama dari daerah lain. Umumnya para ulama masa kecilnya belajar di pesantren atau mondok, namun Mbah Tur semasa hidupnya tidak pernah mondok.

“Simbah dulu belajar di sekolah formal, yakni Tasywiqut Thulab Salafiyah (TBS) Kudus pada umur belasan tahun. Beliau generasi pertama sekolah tersebut yang berdiri sekitar tahun 1928″ katanya. Menurut Dzaka, Mbah Tur juga ikut membantu mengajar kepada adik-adik kelasnya, karena dianggap mempunyai kemampuan di atas rata-rata murid yang lain. Selain belajar dan mengajar di sekolah tersbut beliau juga banyak menimba ilmu dari ulama lain di Kudus.

Dzaka menambahkan bakat menjadi seorang ahli astronomi dalam perhitungan penanggalan hijriyah, atau dikenal dengan sebutan ahli falakiyah sudah muncul sejak kecil. Kecintaannya terhadap ilmu eksakta tersebut membawanya menjadi totoh falkiyah yang sangat disegani, selain juga menjadi ulama kharismatik yang menguasai ilmu fikih yang memuat tentang hukum Islam yang mengatur ubudiyah dan ilmu tasawuf atau filsafat. (Suwoko)

- advertisement -

KH Arwani Amin, Sang Penjaga Wahyu dari Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – KH Arwani Amin 

SEPUTAR KUDUS – Tak Jauh dari Masjid Menara Kudus, tepatnya di Desa Madureksan, Kerjasan, Kabupaten Kudus, dulu tersebutlah pasangan keluarga saleh yang sangat mencintai al-Qur’an. Pasangan keluarga ini adalah KH Amin Sa’id dan Hj Wanifah. KH Amin Sa’id ini sangat dikenal di Kudus Kulon terutama di kalangan santri. Karena beliau memiliki sebuah toko kitab yang cukup dikenal, yakni toko kitab Al-Amin. Dari hasil berdagang inilah, kehidupan keluarga mereka tercukupi.

Meski keduanya (H Amin Sa’id dan istrinya) tidak hafal al-Qur’an, namun mereka sangat gemar membaca al-Qur’an. Bahkan, dalam seminggu mereka bisa katam satu kali. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang kebanyakan, bahkan oleh orang yang hafal al-Qur’an sekalipun.

Kelahiran KH Arwani Amin

Amin Sa’id dan Hj Wanifah dikaruniai 12 anak. Satu di antaranya merupakan kiai kharismatik, yang sangat dikenal kealimannya, serta keilmuannya dalam bidang al-Quran. Dia adalah KH Arwani Amin. Beliau dilahirkan pada Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H, yang bertepatan dengan tanggal 5 September 1905 M di Desa MAdureksan, Kerjasan, Kudus. KH Arwani Amin merupakan ulama yang sangat masyhur dan dihormati di Kudus. Selain karena kedalaman ilmunya, beliau juga dikenal sebagai sosok yang santun dan lemah lembut.

KH Arwani merupakan anak kedua dari 12 bersaudara. Kakaknya yang pertama seorang perempuan bernama Muzainah. Sementara adik-adiknya secara berurutan adalah Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhak dan Ulya. Dari kedua belas ini, ada tiga yang paling menonjol, yaitu Arwan, Farkhan dan Ahmad Da’in. ketiga-tiganya hafal al-Qur’an. Arwan kecil hidup di lingkungan yang sangat taat beragama (religius). Kakek dari ayahnya adalah salah satu ulama besar di Kudus, yaitu KH Imam Kharamain. Sementara garis nasabnya dari ibu, sampai pada pahlawan nasional yang juga ulama besar Pangeran Dipenegoro yang bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.

Beliau dikenal karena Pondok Huffadh Yanbu’ul Qur’an yang didirikannya, menjadi tujuan para santri yang ingin belajar menghafal al-Qur’an dan belajar Qira’at Sab’ah. Selain itu, beliau juga seorang mursyid (pimpinan) Thoriqah yang mempunyai ribuan jama’ah.

Menuntut Ilmu ke Berbagai Daerah

KH Arwani Amin dan adik-adiknya sejak kecil hanya mengenyam pendidikan di madrasah dan pondok pesantren. Arwani kecil memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan, sebelah utara Menara Kudus. Beliau masuk di madrasah ini sewaktu berumur 7 tahun. Madrasah ini merupakan madrasah tertua yang ada di Kudus yang didirikan oleh Syarikat Islam (SI) pada tahun 1912. Salah satu pimpinan madrasah ini di awal-awal didirikannya adalah KH Abdullah Sajad.

Setelah sudah semakin beranjak dewasa, dia memutuskan untuk meneruskan ilmu agama Islam ke berbagai pesantren di tanah Jawa, antara lain Solo, Jombang, Jogjakarta dan sejumlah daerah lainnya. Dari perjalanannya berkelana dari satu pesantren ke pesantren itu, talah mempertemukannya dengan banyak kiai yang akhirnya menjadi gurunya (masyayikh).

Sebagian guru KH Arwani di antaranya KH Abdullah Sajad (Kudus), KH Imam Kharamain (Kudus), KH Raden Asnawi (Kudus), KH Hasyim Asy’ari (Jombang), KH Muhammad Manshur (Solo), Kiai Munawir (Yogyakarta) dan lain sebagainya.

Perilaku Santun

Selama berkelana mencari ilmu baik di Kudus maupun di berbagai pondok pesantren yang disinggahinya, KH Arwani Amin dikenal sebagai pribadi yang santun dan cerdas. Karena kecerdasannya dan sopan santunnya yang halus itulah, banyak kiainya yang terpikat. Karena itulah pada saat mondok beliau sering dimintai kiainya membantu mengajar santri-santri lain. Lalu memunculkan rasa sayang di hati para kiainya.

Sekitar tahun 1935, KH Arwani Amin menikah dengan salah seorang putri Kudus, yang kebetulan cucu dari guru atau kiainya sendiri yaitu KH Abdullah Sajad. Perempuan salehah yang disuntingnya itu yakni ibu Naqiyul Khud. Dari pernikahannya dengan Naqiyul Khud ini, KH Arwani dikaruniai dua putri dan dua putra. Putri pertama dan kedua beliau itu adalah Ummi dan Zukhali (Ulya), namun kedua putri beliau ini menginggal dunia sewaktu masih bayi.

Yang masih hidup hingga kini adalah kedua putra beliau yang meneruskan perjuangan beliau dalam mengelola pondok pesantren yang didirikannya. Kedua putra beliau itu adalah KH Ulin Nuha (Gus Ulin) dan KH Ulil Albab Arwani (Gus Bab). Dalam menahkodai pesantren itu, mereka dibantu KH Muhammad Manshur, yang merupakan khadam KH Arwani yang dijadikan sebagai anak angkatnya.

KH Arwani Amin meninggalkan sebuah kitab yang diberi nama Faidl al-Barakat fi al-Sabi’a Qira’at. Kitab ini berisi panduan belajar Qira’at Sab’ah.

Setelah sekian lama berjuang untuk agama, masyarakat, dan negaranya, akhirnya beliau pun harus kembali menghadap ke haribaan-Nya. Beliau wafat pada 1 Oktober 1994 M, yang bertepatan dengan 25 Rabi’ul Akhir 1415 H, dalam usia 92 tahun. Beliau dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an.

Sejarah hidup KH Arwani Amin relah ditulis dalam sebuah buku. Buku tersebut oleh penulisnya, Rosidi, diberi judul “Penjaga Wahyu dari Kudus”.

Diolah dari sumber: Yanbuulquran Kebumen

- advertisement -

Motor Vespa Masih Jadi Idaman di Kabupaten Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Fery penggemar vespa asal kudus masinh menganggap vespa sebagai tunggangan idaman.

SEPUTAR KUDUS – Bagi sebagian masyarakat, Vespa merupakan kendaraan yang sangat unik. Kendaraan roda dua buatan Italy itu, masih sangat banyak digemari, tidak hanya bagi orang tua, namun juga bagi kalangan muda. Salah satu penggemar berat Vespa, Ferry (22) mengaku sangat kesengsem dengan kendaraan scooter tersebut karena keantikannya. Menurutnya semakin lama tahun keluaran Vespa, semakin kendaraan berbahan logam itu digemari. Di Kudus banyak sekali penggemar Vespa yang tergabung dalam komunitas.

Ferry yang bertempat tinggal di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengungkapkan, dirinya mulai kenal kendaraan beroda kecil itu sejak tahun 2003. Di tahun itu, teman-teman kakak Ferry sering datang ke rumahnya dengan mengendarai Vespa. “Bentuk Vespa sangat unik, beda dengan kendaraan motor yang lain, kata Ferry saat ditemui di rumahnya, Rabu (7/9). Bagi Ferry mengendarai Vespa sama dengan masuk ke dalam masa lampau yang jarang orang menggunakan sepeda motor. Meski hidup di zaman yang berbeda dengan masa kejayaan Vespa, rasa itu tetap sama.

Di rumahnya, Ferry mengkoleksi 4 buah Vespa dengan berbagai merek dan tahun keluarannya. Di antaranya, Vespa Special P 100 TS keluaran tahun 1980, Super keluaran tahun 1976, Super keluaran tahun 1975, dan Super keluaran tahun 1967. Di antara keempat Vespa tersebut, Ferry sangat mengistimewakan Vespa Special P 100 TS, pasalnya scooter tersebut adalah sepeda motor pertama yang ia beli dengan keringatnya sendiri di tahun 2003.

Saking cintanya terhadapt kendaraannya itu, bahkan Ferry menekuni seluk beluk mesin dan segala sesuatu tentang Vespa. Ia sangat mahir memperbaiki mesin motornya ketika ngadat, dan sering juga diminta bantuan sesama kawan penggemar Vespa untuk memperbaiki mesin Vespa yang rusak. Ferry juga paham betul tentang bagian-bagian Vespa secara detil, ia tahu asesoris orisinil atau tidak.

Selain mencintai Vespa karena keantikannya, Ferry juga sangat menyukai Vespa karena komunitas yang ia ikuti. Ferry adalah salah satu anggota aktif di salah satu komunitas penggila Vespa di Kudus, Gembel Necis. “Di komunitas ini kami tidak hanya bisa berbagi pengetahuan tentang Vespa, namun juga bisa bertukar pengetahuan lain di luar Vespa,” tutur pria yang gemar mengenakan jaket wall tersebut. Ditambahkan Ferry, di Gembel Necis dia dapat menemukan kawan positif. Tidak seperti geng motor yang sering membuat keributan, komunitas penggemar Vespa justru sering melakukan kegiatan sosial untuk masyarakata.

Sementara itu, salah satu penggemar Vespa lain, Agus Wahyu (26) mengungkapkan, kegemarannya terhadap Vespa karena untuk hal bisnis. Pria warga Desa Megawon, Kecamatan Jati tersebut adalah pemburu barang-barang Vespa orisinil untuk dijual kembali kepada sesama peminat Vespa. “Selain suka dengan bentuk dan keunikannya, saya memanfaatkan peluang yang ada untuk mendapatkan keuntungan secara materi,” papar Wahyu yang juga aktif sebagai anggota Gembel Necis itu.

Untuk mendapatkan barang-barang yang ia cari, Agus juga tak segan untuk selalu mengikuti event-event pameran Vespa di luar kota. “Saya pernah ke Jakarta, Pasuruan, Wonosobo dan berbagai kota lain di Jawa untuk berburu barang ori. Di samping itu juga untuk menjual stok barang yang masih saya miliki,” ujarnya. Hal yang sangat ia sukai ketika mengikuti event-event diluar kota tersebut adalah ketika menikmati perjalanan berpuluh kilometer dengan mengendarai Vespa kesayangannya. (Suwoko)

- advertisement -

Mencari Pemimpin di Kudus Ala Platon

1
SEPUTAR KUDUS – Romo Setyo sedang menjelaskan pendapat-pendapat Plato dalam bedah buku yang dilaksanakan di Sekretariat Marem.

SEPUTAR KUDUS – Bagi sebagian orang, pemimpin dipercaya datang dari “suara langit”. Namun, ada pula sebagian masyrakat percaya, pemimpin berasal dari sebuah penempaan dan proses panjang. Sebagaimana pendapat Romo Setyo Wibowo, merujuk pendapat Socrates, bahwa pemimpin harus dipersiapkan. Pendapat itu disampaikan dalam bedah buku “Mari Berbincang Bersama Platon”, di sekretariat Masyarakat Reksa Bumi (Marem), baru-baru ini.

Menurut Setyo, pendapat Plato tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Pasalnya, dari sekian pemimpin yang ada, belum mampu memunculkan keberanian dalam setiap kebijakan yang diputuskan. Pemimpin yang ada saat ini, cenderung lemah, banyak pertimbangan dan tidak ada keberanian. Padahal, keberanian sangat penting bagi seorang pemimpin.

“Setiap pemimpin harus berani berubah (progresif), dan berani bertindak. Keberanian ini tidak serta merta datang datang dari langit, namun harus melalui penempaan dan proses yang panjang,” ujar Setyo, di hadapan peserta diskusi yang lain.

Setyo menambahkan, menurut pendapat Plato, setiap orang tua atau siapapun yang peduli terhadap pendidikan kaum muda, perlu memahami apa itu keberanian. Selain itu, harus memahami keberanian dan relasinya terhadap kebaikan dalam tata nilai kehidupan sosial.

Doktor ilmu filosofi di Universitas Sorbonne, perancis, itu, tidak mengingkari bakat seorang pemimpin yang datang secara alamiah atau bawaan sejak lahir. Namun, tak semua orang memiliki karunia khusus tersebut. Selain itu, sangat sulit untuk mengetahui potensi yang datang dari “suara langit” tersebut. Mendasarkan penapatnya dari pendapat Plato, seorang pemimpin harus dibentuk.

“Plato bukanlah orang yang memaksakan kehendak atas pendapat-pendapatnya. Namun, ia bergerak sendiri dengan membuat sebuah akademi, yang di dalamnya terdapat orang-orang terpilih, yang diproyeksikan sebagai seorang pemimpin di kemudian hari,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, setiap siswa yang ada dalam akdemi tersebut diberikan pendidikan tentang filosofi kehidupan, teori-teori tentang pengetahuan dan kesenian, setelah itu mereka diterjunkan di tengah-tengah masyarakat selama lebih kurang 15 tahun. Di sanalah mereka akan mempraktikkan teori yang didapat di Akademi.

Sementara itu, salah satu peserta diskusi lain, Kholid Mawardi mempertanyakan pola pembentukan kepemimpinan ala Platon tersebut. Menurutnya, dalam buku tersebut Plato mentolelir penghapusan generasi, dan itu dianggap sebagai satu hal anti-demokrasi.

“Saya belum dapat menyimpulkan arah dan tujuan ideologis Plato dalam buku ini. Sebuah ajaran, atau pendapat yang menyangkut filosofi, yang didalamnya terdapat bebeberapa unsur, salah satunya kepemimpinan, selalu bermuara pada ajaran ideologis. Dan saya tidak menemukannya di sini,” ujar Kholid, salah satu aktivis di Kudus itu. (Suwoko)

- advertisement -

Percantik Rumah dengan Kaca Grafir Bergambar

0
SEPUTAR KUDUS – Seorang penggambar di Grafindo Glass menata kaca hasil grafir.

SEPUTAR KUDUS – Setiap orang pasti mengidamkan rumah yang nyaman dan elok dipandang mata, apalagi bisa membuat tamu yang datang merasa nyaman dengan suasana ruang tamu kita. Ruang tamu yang lazimnya terletak di bagian rumah terdepan, sering tak bisa terlepas dengan ornamen kaca yang berfungsi sebagai penutup pintu atau jendela. Namun kaca yang cenderung polos, tidak bertekstur mungkin membuat kita merasa bosan karena terlihat biasa saja, kaca gambar mungkin salah satu solusinya.

Di galeri Grafindo Glass yang terletak di Desa Tanjung Rejo RT 1 RW 9, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus berbagai macam kaca gambar diproduksi. Jenisnya pun bermacam-macam, dari teknik pengerjaan dengan grafir, air brush bahkan painting pun dibuat.

Menurut pemiliknya, Aji Gondes (30) mengungkapkan untuk jenis Grafir, gambar yang di letakkan dalam media kaca dapat terlihat timbul atau 3 dimensi. Karena media kaca di grafir atau bisa dikatakan dilukai untuk mendapatkan tekstur yang lebih kasar agar cat yang dituang ke media tidak mengelupas dan akan tampak lebih hidup dengan gambar yang timbul karena proses pengurangan ketebalan.

Untuk jenis air brush, menurut gondes proses pengerjaannya lebih mudah. Karena media kaca yang digunakan tinggal disemprot dengan cat dan disesuaikan dengan gambar yang dipola. Adapun painting lebih mudah lagi, cat tinggal di tutupkan pada pola yang dibuat sesuai desain gambar.

SEPUTAR KUDUS – kaca grafir

Pelanggan yang datang ke tempatnya bisa memilih motif yang tersedia dalam katalog yang ia sediakan, atau dapat membuat desain sendiri sesuai dengan keinginannya. “Di tempat kami menyediakan beberapa jenis motif, ada tumbuhan, bunga, hewan, kaligrafi dan jenis minimalis hanya motif garis” paparnya saat di temui Seputar Kudus (23/6) kemarin.

Harga yang ia tawarkan disesuaikan dengan jenis proses pengejaan. Untuk teknik garfir ia patok Rp 240 ribu/meter persegi, untuk teknik air brush ia hargai Rp 300/meter persegi ribu dan teknik painting Rp 200 ribu/meter persegi.

Aji mengungkapkan pelanggan yang datang ke galerinya tak hanya datang dari Kudus, tapi juga dari Pati, Lasem, Rembang, Jepara, bahkan Semarang. “Jika saya amati setiap daerah mempunyai cirri khas kesukaan yang berbeda, orang Pati ke timur cenderung memilih motif hewan, tumbuhan, bunga da warna yang mereka pilih biasanya cenderung mencolok atau cerah. Kalau orang Kudus, Jepara dan Semarang cenderung memilih motif minimalis dan elegan” paparnya.

Dalam proses pengerjaanya Aji dibantu 3 orang karyawan yang memiliki kemampuan berbeda-beda. Ada yang khusus menggambar pola, melakukan pewarnaan dan menggarfir media kaca. (Suwoko)

- advertisement -

Kampus Lokal di Kudus Semakin Diminati Masyarakat Jawa Tengah

0
SEPUTAR KUDUS – Gedung Universitas Muria Kudus (UMK)

SEPUTAR KUDUS – Kampus lokal di Kudus saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata lagi, pasalnya ribuan lulusan SMA atau sederajat melabuhkan pilihan perguruan tinggi mereka di Kudus. Di tahun ajaran baru 2011-2012 ribuan calon mahasiswa baru diterima di dua kampus terbesar di Kudus, yakni Universitas Muria Kudus (UMK) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kudus.

Dua kampus tersebut sekarang menjadi tujuan utama bagi lulusan SMA atau sederajat dari berbagai daerah di pantura timur, diantaranya Jepara, Pati, Rembang, Grobogan, Demak, Blora dan Kudus sendiri. Tak bisa dipungkiri alasan biaya kuliyah dan biaya hidup menjadi persoalan saat menuntut ilmu jauh dari rumah, juga semakin meningkatnya kualitas sarana dan prasarana, serta kualitas lulusan pada dua kampus lokal tersebut.

UMK melalui Pembantu Rektor (PR) I, Masluri mengungkapkan di gelombang 1 pihaknya menerima 2143 pendaftar setelah 25 Juni pendaftaran ditutup dan 554 diantaranya diterima tanpa mengikuti tes karena nilai Ujian Nasional mereka melampui standar yang ditetapkan.

“Dari hasil tes seleksi gelombang 1 yang diselenggarakan pada tanggal 2 Juli yang lalu kami menerima 1770 calon mahasiswa baru yang tersebar di 12 program studi (progdi) dan 31 orang masuk dalam daftar calon mahasiswa baru cadangan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), hasil tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Rektor UMK nomor 10/R.UMK/Sek/Kep./A.52.01/VII/2011 ” paparnya beberapa waktu lalu. Ia menambahkan jumlah tersebut meningkat dari target semula sebanyak 1634 mahasiswa.

Secara rinci Masluri menjelaskan jumlah calon mahasiswa baru yang terterima pada gelombang 1 tersebar di Progdi Manajemen (S1) sebanyak 213 mahasiswa, Progdi Akuntansi S1 203, Progdi Ilmu Hukum (S1) 92, Progdi Agroteknologi (S1) 43, Progdi Bimbingan Konseling (S1) 194, Progdi Pendidikan Bahasa Inggris (S1) 234, Progdi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (S1) 298, Progdi Teknik Informatika (S1) 235, Progdi Sistem Informasi (S1) 158, Progdi Teknik Mesin (D3) 48, Progdi Teknik Elektro (S1) 14, dan Progdi Psikologi (S1) 38. Mereka telah melakukan herregistrasi pada 20 hingga 21 Juli yang lalu.

Menurut Masluri dari 12 Progdi, 4 diantaranya menjadi unggulan yang sangat diminati masyarakat. “Progdi tersebut adalah Progdi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Progdi Teknik Informatika (TI) pada Fakultas Teknik (FT), Progdi Manajemen dan Progdi Akuntansi pada Fakultas Ekonomi (FE).

“Lulusan kami kini banyak menempati perusahaan-perusahaan besar di Kudus, di antaranya perusahaan rokok seperti Djarum, Nojorono dan Sukun. Di perusahaan elektronik dan percetakan lulusan kami banyak bekerja di Polytron, Profotex dan PT Pura. Lulusan FKIP juga mendomonasi sekolah-sekolah yang ada di Kudus” paparnya.

Sementara itu Koordinator Pengmuman dan Olah Niilai pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) STAIN Kudus, Saechan Muchit mengungkapkan di tahun ajaran baru ini pihaknya mnerima 645 calon mahasiswa baru pada Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), 98 pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (BA), 160 pada Jurusan Tarbiyah Program Studi Ekonomi Islam (EI) 100 pada Manajemen Bisnis Syariah (MBS), 66 pada Awwalu Syakhsiyyah (AS), 28 pada Studi Tafsir Hadist (TH), dan 80 pada Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI).

Saechan menambahkan untuk pendaftar yang mengisi formulir ada sebanyak 1726 orang, jumlah tersebut meningkat sekitar 25 persen jika dibanding dengan pendaftar di tahun ajaran sebelumnya, itu berarti di tahun ini pihaknya menolak 457 pendaftar. “Peningkatan jumlah pendaftar dari tahun ke tahun selalu bertambah, hal tersebut seiring dengan pembenahan Pola Ilmiah Pokok (PIP), serta pembenahan fasilitas pengajaran yang ada” katanya.

Selain UMK dan STAIN, beberapa perguruan tinggi banyak bermunculan di Kudus. Di antaranya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Cendikia Utama, STIKES Muhammadiyah, Akademi Kebidanan (AKBID) Pemda Kudus, AKBID Muslimat NU, AKBID RS Mardirahayu yang juga mampu menampung lulusan SMA atau sederajat. (Suwoko)

- advertisement -

Sejarah Penolakan MTA di Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Ilustrasi

SEPUTAR KUDUS – Beberapa hari terakhir ini, warga Nahdhatul Ulama (NU) di Kudus diresahkan keberadaan Jamaah Majlis Tafsir Alquran (MTA). Pasalnya, organisasi tersebut menyatakan, tahlilan merupakan kegiatan sesat dan lebih berdosa dari perbuatan zina. Oleh karenanya, Pengurus NU Cabang Kudus, menolak kehadiran MTA di Kabupaten Kudus.

Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Kudus, KH Chusnan menyatakan penolakan keberadaan jamaah atau organisasi yang berdiri sejak tahun 1972 di Surakarta tersebut di Kabupaten Kudus. Menurutnya, banyak warga NU di Kudus, khususnya kalangan pemuda, merasa resah dengan berbagai pernyataan MTA, terkait dengan amaliyah warga NU yang dinyatakan tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadist.

“Banyak kalangan muda NU yang mendengar pernyataan MTA tersebut dari siaran radio milik MTA. Di antara pernyataan yang meresahkan, antara lain, tahlilan yang dianggapnya sesat dan lebih berdosa dari zina. Selain itu, organisasi tersebut menghalalkan daging anjing dan kalong, menurut kami, ini sudah sangat meresahkan kami,” kata Chusnan, Minggu (29/1/2012) kemarin.

Bagi warga NU secara umum, menurut Chusnan, tahlilan merupakan amaliyah atau kegiatan keagamaan yang telah menjadi tradisi. Dalam kegiatan tersebut, masyarakan Nahdhiyyin membaca kalimat-kalimat tahlil, yang mengagungkan ke-esa-an Tuhan. Jika hal itu dianggap sesat dan berdosa oleh MTA, hal itu sama artinya dengan mengganggu ketentraman warga Nahdhiyyin.

“Kami sangat menghargai perbedaan, dan menganggap khilafiyah atau beda pendapat sebagai hal yang biasa. Buktinya, selama ini kami hidup berdampingan dengan warga jamaah lain, seperti Muhamadiyah dengan sangat baik. Namun, jika ada seseorang atau sebuah organiasasi yang menjelek-jelekkan perbedaan tersebut, jelas kami tidak terima,” tegas Chusnan.

Dibubarkan Paksa

Sementara itu, Sabtu (28/1/2012) kemarin, acara pengukuhan MTA perwakilan Kudus di Gedung Ngasirah, Jalan Jenderal Sudirman, Kudus, dihentikan paksa sekitar pukul 11.00. Ratusan masa yang mengatasnamakan Gerakan Aksi Damai Anti-MTA, gabungan dari sejumlah organisasi di bawah NU, antara lain, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan Fatayat, serta organisasi kemahasiswaan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus, meminta acara tersebut dihentikan.

Sekitar 200 personil kepolisian Polres Kudus, disiagakan di depan pintu gerbang Gedung Ngasirah, untuk mencegah massa agar tidak masuk ke dalam gedung. Selain itu, juga disiagakan puluhan personil Brimob, di Mapolres Kudus.  Sementara, Jalan Jenderal Sudirman ditutup dan pengguna jalan dialihkan ke jalan lain. Dalam aksi tersebut, tidak ada kerushuhan yang terjadi. Jamaah MTA meninggalkan gedung, dengan kendaraan bus dan kendaraan pribadi, dengan kawalan aparat kepolisian.

Menurut salah satu tokoh muda NU di Kudus yang turut dalam aksi tersebut, Amir Faisol mengatakan, MTA telah membuat masyarakat yang saat ini hidup damai dalam perbedaan dan pluralisme menjadi terusik. Oleh karenanya, kalangan muda NU sepakat untuk menggagalkan deklarasi yang akan diselenggarakan di tempat tersebut.

“Dalam aksi itu, kami tidak melakukan kekerasan apapun, karena hal itu pantang bagi kami. Kami hanya meminta, agar MTA tidak membuat suasana di Kudus semakin panas, dengan melakukan deklarasi di Kudus,” tutur Faisol, Sabtu (28/1/2012) kemarin.

Menurut Faisol, dari ribuan jamaah yang hadir dalam acara pengukuhan tersebut, hanya segelintir warga Kudus yang datang kesana. Di lihat dari plat nomor kendaraan yang ada, kebanyakan datang dari Solo. Selain itu, MTA juga telah menyiagakan puluhan Satgas yang menggunakan baju loreng mirip tentara, yang membuat massa semakin marah, dan menganggap MTA sengaja membuat kegiatan tersebut untuk memancing kemarahan.

Saat dihubungi terpisah, perwakilan MTA Kabupaten Kudus, Rozaq Al-Abat mengaku tidak menyebarkan pernyataan-pernyataan yang telah dituduhkan. Menurutnya, MTA hanya mengajarkan ajaran Islam yang sesuai dengan Alquran dan Hadist.

“Kami menyayangkan kejadian kemarin, karena kegiatan yang kami selenggarakan telah melalui prosedur yang berlaku. Di antaranya pemberitahuan ke pihak kepolisian, serta Pemerintah Daerah. Perwakilan Bupati juga datang memberikan sambutan kok,” ujar Rozak.

Terkait dengan pembubaran sekitar 5.000 jamaah MTA, Rozaq mengaku tidak menaruh dendam sedikitpun. Baginya, sesama Muslim adalah saudara. Setelah ini, pihaknya akan menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat dan para kyai, agar terjalin komunikasi dengan baik Antara MTA dan organisasi Islam lain di Kudus. (Suwoko)

- advertisement -

Kisah Pilu Para Buruh Rokok Jambu Bol Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Buruh Rokok Jambu Bol Sutarmi

SEPUTAR KUDUS – Nasib ribuan buruh rokok Jambu Bol berada dalam ketidak pastian, selama itu pula mereka meratapi kepiluan. Semenjak tahun 2007 silam buruh yang menggantungkan hidup dari mengolah tembakau dan cengkeh tersebut tidak lagi bisa bekerja. Apakah benar alasannya perusahaan mengalami kebangkrutan dan tidak bisa melanjutkan proses produksi, mereka tidak pernah tahu pasti.

Tiga tahun sudah buruh mengharapkan jawaban pasti akan nasib mereka, namun yang mereka dapatkan hanyalah janji-janji kosong perusahaan. Berbagai langkah mereka tempuh, antara lain melakukan aksi, mengadu ke DPRD, mengadu ke Bupati, namun hingga sekarang tidak ada titik terang. Mereka telah jenuh dan letih, tidak tahu lagi harus kemana lagi harus mengadukan nasib mereka selain kepada Tuhan.

Salah satu buruh Jambu Bol yang merasa hidup dalam kepiluan tersebut yakni Sutarmi. Perempuan berumur 51 tahun yang tinggal di Desa Gondangmanis RT 4 RW 8, Kecamatan Bae, merasa nasibnya sangat dipermainkan. Karena pengabdiannya selama 32 tahun di perusahaan tersebut tidak dihargai. Dulu dengan penghasilan bekerja sebagai tukang bathil dia bisa menghidupi keluarga dan anak-anaknya. Sekarang dia hanya bisa menggantungkan hidup dari para tetangga yang membutuhkan tenaga rentanya itu. Meskipun tak sekuat ketika masih muda dulu, sekarang Ia harus rela bekerja di sawah sebagai buruh tani dan terkadang menjadi buruh cuci piring.

Dengan penghasilan yang tak seberapa bekerja sebagai kuli serabutan tersebut, dia harus memberi makan anak-anaknya dan menyekolahkannya. Untungnya dia mempunyai satu anak yang sekarang sudah bekerja di Jakarta sebagai kuli bangunan. Namun dia harus mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan anak ke tiganya, Sapuan, yang tahun ini lulus dari bangku SMP karena saat ini Ia juga menanggung beban pendidikan Milan yang sekarang duduk di kelas 2 Sekolah Dasar.

Satu tahun lalu bahkan rumah yang dia tinggali hampir rubuh. Rumah kecil yang hanya terbuat dari kayu dan bambu itu tidak mampu melawan usia. Namun simpati dari tetangga dan Pemerintah Desa Gondangmanis membuatnya tersenyum lega. Pemerintah Desa memberinya dana untuk membeli material yang Ia butuhkan untuk merehap kembali rumahnya, sedangkan para tetangga dengan penuh keikhlasan bersedia sambatan untuk memberikan tenaganya.

Sekarang harapan satu-satunya adalah gaji dan pesangon dari Jambu Bol untuk meringankan beban hidupnya. Jika Tuhan mengabulkan hak-haknya bisa diterima, dia akan membeli kambing untuk dipelihara.

SEPUTAR KUDUS – Ngatini

Kisah pilu lainnya datang dari Ngatini, perempuan berumur 50 tahun yang tinggal tak jauh dari rumah Sutarmi itu nasibnya tak jauh beda. Selain menjadi buruh tani seperti yang dilakukan Sutarmi, terkadang Ia juga mengumpulkan kertas bekas untuk kemudian dijual ke pengepul. Satu kilogram kertas tersebut dihargai Rp 100, tak pasti seminggu ia dapat mengumpulkan 10 kilogram karena tidak mudah untuk mencari kertas untuk Ia jual.

Beberapa minggu yang lalu dia baru saja mendapatkan pinjaman modal dari saudaranya sebesar Rp 100 ribu. Uang tersebut Ia belikan jajanan anak-anak untuk dijualnya kembali di teras rumahnya yang berukuran tak lebih dari 1 meter. Usahanya tersebut sedikit membantu untuk menghidupi Ibu dan kakaknya yang sama-sama renta. Di rumah berukuran 4×6 meter tersebut Ia tinggal bertiga bersama mereka, dan ketiganya sudah menjanda.

Ia sangat berharap usaha yang Ia lakukan dengan kawan-kawan buruhnya bisa menuai keberhasilan. Ia tak tahu tentang aksi, Ia pun tak tahu tentang proses hukum, karena Ia tak pernah mengenyam pendidikan sekalipun, yang Ia tahu hanyalah setiap hak dan kewajiban harus dibayarkan. (Suwoko)

Dokumen tahun 2011.

- advertisement -

Prastowo Sulap Joglo Khas Kudus Usang Menjadi Barang Antik Bernilai Tinggi

0
SEPUTAR KUDUS – Pengukir mengerjakan joglo di bengkel kayu milik Prastowo, di Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Joglo usang tersebut direstorasi sehingga bernilai tinggi. 
SEPUTAR KUDUS – Sejak dulu Kudus dikenal dengan rumah adatnya
yang khas dengan joglo bermotif ukir Sungging yang halus dan detil. Tak jarang para kolektor memburunya dengan harga yang sangat tinggi.
Namun karena rata-rata benda antik tersebut berumur puluhan hingga ratusan
tahun, terkadang benda dengan empat tiang sebagai penyangga tersebut terlihat
usang dan tampak tak bernilai jika sang pemilik tak merawatnya dengan baik.

Salah satu perajin
yang  jeli melihat peluang usaha untuk
mengubah joglo usang menjadi terlihat bersih tanpa menghilangkan citra antik
dan kuno ini adalah Prastowo. Pria 59 tahun yang membuka bengkel kayu di Desa
Prambatan Lor RT 7 RW 1 ini telah menekuni usaha tersebut puluhan tahun. “Dulu awalnya
hanya menjadi sopir  pengangkut kayu
ukiran. Karena usia sudah menua dan punya pengtahuan tentang ukir, maka saya
memberanikan diri untuk memulai usaha ini,” tuturnya.
Joglo khas Kudus, menurut Prastowo
mempunyai kelebihan jika dibanding dengan joglo-joglo dari daerah lain. Di antaranya
jenis ukirannya yang lebih halus dan detil, serta mempunyai historisitas yang
panjang. “Ukiran joglo Kudus disebut sungging karena awalnya motif ukiran
tersebut dibuat pertama kali oleh Kyai Telingsing, anak dari Sunan Sungging
yang memperistri perempuan dari Tiongkok,” ungkapnya.
Menurut  Prastowo, joglo usang ia dapatkan
dari masyarakat Kudus yang ingin memperbarui rumahnya dengan model yang lebih
modern. Satu joglo ia harus merogoh kocek Rp 40 juta – Rp 50 juta. Joglo-joglo
yang Prastowo buat dijual dengan harga berfariasi. Joglo dengan ukuran tinggi 4
meter dengan luas sama sisi 2,5 meter  ia
jual Rp 50 juta, hingga yang paling mahal dihargainya Rp 80 juta perbuah.

“Tergantung umur kayu dan detil ukirannya mas” ujar Prastowo saat ditemui dibengkel
kayu yang berdekatan langsung dengan tempat tinggalnya.
Proses tersebut ia dibantu tujuh pekerja, yakni tiga pengukir dan empat
tukang kayu. Pengukir ia beri upah dengan sistim borong sebesar Rp 20 ribu/meter.
Sedangkan  tukang kayu ia beri upah
dengan sistim harian sebesar Rp 40 ribu/hari.
Menurut Kustur (32), mandor di bengkel Prastowo yang bekerja dari pukul 08.00
hingga pukul 16.00, mengungkapkan untuk satu joglo rata-rata memakan waktu satu
hingga satu setengah bulan. “Lama
pengerjaannya tergantung joglo aslinya. Jika joglo yang masih utuh bentuknya
kami bisa mengerjakannya lebih singkat dibanding joglo yang permukaannya
keropos, karena kami harus menggantinya dengan yang baru” ungkapnya.
Prastowo mengungkapkan bahwa hasil karyanya telah terjual ke berbagai
daerah di Indonesia, diantanya Solo, Jogja, Bandung, Jakarta dan Bali. “Produk
ini kami pasarkan dari mulut kemulut. Umumnya pembeli datang ke rumah dan
melihat langsung barang yang kami buat” ujarnya.
Sebetulnya produk Prastowo juga di pamerkan melalui Facebook oleh
anaknya, Arif Suryanto (30). Namun ia mengatakan usaha anaknya tersebut sejauh ini belum ada hasilnya.
“Meskipun ada yang sampai menawar di Facebook, tapi belum
pernah ada yang jadi. Kalau saya sih lebih suka pembeli
datang ke sini, melihat dan kemudian membayarnya” uangkapnya sambil tertawa.
Dibalik
kepiawaiannya dalam menyulap joglo usang tersebut, sebenarnya Prastowo menyayangkan
joglo khas Kudus yang semakin hari semakin menyusut jumlahnya. Menurutnya
warisan nenek moyang tersebut harus tetap dipertahankan. Dengan alasan itulah
ia bertekad untuk tidak hanya memperbarui joglo yang telah usang, namun ia juga
akan memproduksi joglo khas Kudus dengan bahan baku yang baru. (Suwoko)

- advertisement -