BETANEWS.ID, DEMAK – Penurunan harga bawang merah yang terjadi sejak dua bulan lalu, membuat petani di Demak merugi. Banyaknya stok dan panen melimpah menjadi pemicu anjloknya harga.
Ketua Kelompok Tani Mekar Sari, Desa Pasir, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Supriyadi, mengatakan, harga bawang merah di petani mencapai Rp14 ribu per kilogram. Padahal dalam kondisi normal, bawang merah dapat dijual Rp20 ribu per kilogram.
Baca Juga: Pilkada Dipercepat, Badan Adhoc Pemilu 2024 Double Job?
“Karena faktornya stok melimpah, saat panen raya daerah penghasil bawang merah itu kan banyak. Kemudian minat pembeli juga menurun,” katanya, (5/10/2023).
Menurutnya, kondisi merosotnya harga bawang tidak hanya terjadi di wilayah Kabupaten Demak saja. Persaingan kualitas dan harga jual inilah, yang menjadi tantangan petani dalam menjual bawang merah di pasaran.
“Sekarang yang lainnya juga harganya murah, seperti di Nganjuk itu dari petani Rp10 ribu per kilogram lebih mending kualitas di sini. Tapi untuk harga segitu masih merugikan petani,” terangnya.
Inisiatif menjual bawang merah dalam keadaan kering, telah dilakukan para petani untuk menyelamatkan harga jual bawang merah mereka. Akan tetapi, situasi itu justru membuat kualitas bobot bawang merah semakin menyusut.
Sementara itu untuk menanam bawang merah, petani harus mengeluarkan modal sekitar Rp40 juta dan berharap bisa menjual dalam keadaan segar senilai Rp126 juta. Akan tetapi, karena harga yang tak kunjung berubah, membuat petani terpaksa menjualnya dalam bentuk kering dengan harga Rp15 ribu per kilogram.
Sementara itu, Pengepul bawang merah Desa Pasir, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Rohman (43), mengatakan karena melimpahnya stok setelah MT 3 membuat penurunan harga bawang.
Biasanya tidak butuh waktu lama untuk menjual bawang merah. Akan tetapi, saat ini, dari 10 ton bawang merahnya baru laku satu kwintal.
“Biasanya kan Rp20 ribu itu askip usia 15 hari, terus harga turun-turun sampai dua bulan Rp16 ribu, saya naikin saja semua ke gudang. Jadi mau saya jual juga mikir-mikir, sekarang masih banyak stoknya, “paparnya.
Ia khawatir, jika stok miliknya tidak kunjung laku akan membuat bobot bawang merah semakin berkurang.
“Efeknya kalau kelamaan ditimbun ya, nanti tumbuh tunas. Biasanya maksimal dua bulan timbun, tapi ini sudah masuk bulan ketiga. Kalau harganya gini terus ya, bakal saya tanam sendiri,” terangnya.
Baca Juga: Dindikbud Demak Sebut UU Perlindungan Guru Butuh Penguatan
Tidak hanya itu, bawang merah yang dijual murah di online shop juga berimbas pada harga di pasaran. Pengepul yang memiliki pelanggan tetap, justru tidak berani menurunkan harga jual mereka demi menjaga kestabilan harga.
“Kalau tidak ada postingan seperti itu kita bisa menaikkan. Kalau saya ikut, saya tidak enak dengan pelanggan, masa dengan harga postingan berbeda dengan yang saya kirim, “pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

