Calon Arang Singgah ke Kudus, Sudah Ada yang Kena Santet?

BETANEWS.ID, KUDUS – Ibu Nyi Rande atau yang beken dengan nama Calon Arang, Minggu (17/9/2023) malam singgah ke Kudus. Sontak saja, kehadiran dukun santet legendaris tersebut menyedot perhatian masyarakat Kota Kretek, terutama muda-mudi.

Tenang saja, tidak yang terkena santet dalam kunjungan Calon Arang tersebut. Calon Arang yang singgah hanyalah sebuah lakon drama musikal yang dimainkan oleh Teater Keliling yang berkolaborasi dengan Teater Kuncup Mekar mementaskan Musikal Calon Arang di Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR) Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Baca Juga: Kisah Janda Jatuh Cinta Pada Pria Penolak Wanita dalam Pentas Teater Beruang Menagih Utang

-Advertisement-

Meski pementasan sempat terhenti oleh hujan, tapi lakon diangkat dari cerita rakyat Bali itu tetap mampu memukau ratusan penonton.

Ketua Yayasan Teater Keliling, Dolfry Inda Suri mengatakan, Musikal Calon Arang bercerita tentang kisah seorang ibu dan anak. Calon Arang memiliki seorang putri berparas cantik bernama Dyah Ayu Ratna Manggali.

“Tapi sayangnya, meski cantik tak ada pria yang berani mempersuntingnya menjadi istri. Hal itu dikarenakan ibunya yakni Calon Arang memiki ilmu hitam dan menghantui warga desa dengan santetnya,” ujar perempuan yang akrab disapa Oi kepada Betanews.id saat ditemui usai pentas.

Calon Arang lanjut Oi, mempelajari ilmu hitam termasuk santet kepada Dewi Durga. Sebenarnya Calon Arang mempelajari ilmu hitam untuk melindungi anaknya, karena dulu suaminya meninggal gegara disantet orang.

“Namun, anaknya yang masih muda dan tidak bisa memahami maksut ibunya, sehingga terjadi perseteruan antara keduanya. Calon Arang juga terus menghantui desa dengan santetnya,” bebernya.

Pada akhirnya, kata Oi, Dyah Ayu Ratna Manggali marah dan meminta Calon Arang untuk menyetop santet yang ditebarkan kepada warga desa. Karena rasa cintanya pada anaknya, Calon Arang pun menuruti dan harus melanggar sumpah dan perjanjian dengan Dewi Durga yakni mencabut santet yang sudah ditebarkan.

“Pada akhirnya warga desa yang terkena santet terselamatkan. Dan Calon Arang mengorbankan diri untuk anaknya. Begitu kurang lebih kisah singkatnya,” ungkap Oi.

Menurutnya, Musikal Calon Arang ini kisah tentang ibu dan anak. Perjuangan seorang ibu untuk ananya yang tak terbatas, walaupun terkadang harus dengan jalan yang menyimpang.

“Tapi, tetaplah hati ibu itu murni buat seorang anak,” tandasnya.

Dia mengungkapkan, memilih Musikal Calon Arang karena kesesuaian. Menurutnya, Teater Kiling yang lahir pada tahun 1974 dan akan menginjak usia 50 tahun memang mencoba membuat pertunjukan yang sesuai dengan minat anak muda.

“Karena target kita itu anak muda. Makanya kita coba cari kisah-kisah yang bisa realet sama mereka. Karena penonton anak muda maka kita carilah, kisah rakyat Calon arang. Jadi hubungan antara anak dan ibu,” jelasnya.

Oi juga sangat berterima kasih kepada para penonton di Kudus. Meski pertunjukan sempat terhenti karena hujan deras, tapi para penonton tetap setia menunggu hingga hujan reda dan melihat pertunjukan Musikal Calon Arang sampai selesai.

“Inilah asyiknya Teater Keliling, terkadang ada saja kendalanya. Tapi kita selalu punya prinsip. Bahwa apa pun kendalanya kita harus punya solusinya. Begitu juga tadi, kita bisa menunggu hujan reda dan drama musikal dilanjutkan, ternyata penonton masih mau menunggu. Sampai akhirnya kita bisa menyelesaikan pertunjukan,” kata Oi.

Sementara itu Pengelola RKBBR, Asa Jatmiko mengatakan, sangat mengapresiasi penampilan Musikal Calon Arang oleh Teater Keliling yang berkolaborasi dengan grup teater lokal yakni Teater Kuncup Mekar. Menurutnya, Teater Keliling adalah salah satu kelompok teater legendaris di Indonesia.

“Teater Keliling itu lahir sejak tahun 1974. Menginjak usianya yang ke-50 tahun, mereka tetap terus berkarya, dengan berkeliling dari satu kota ke kota lainnya,” ujar pria yang akrab disapa Asa tersebut.

Baca Juga: Belum Niat untuk Dijual, Lukisan 7 Presiden RI dengan Teknik Tipografi Ini Didaftarkan ke MURI

Dengan adanya penampilan Teater Keliling di Kudus, ungkap Asa, ia ingin pelaku teater di Kota Kretek bisa meneladani militansi para anggota Teater Keliling. Ada atau tidaknya fasilitas, serta banyaknya kendala tak menyurutkan mereka untuk tetap berkarya.

“Hingga militansi berteater itulah yang membuahkan karya-karya yang Teater Keliling miliki. Dan, itu dipetik dalam jangka waktu lama. Teater Keliling adalah legenda dan juga membuat kita terinspirasi,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER