31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Kemarau, Petani Desa Lambangan Kudus Tanam Bawang Merah Dengan Air Pamsimas

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemandangan tak lazim terjadi di area persawahan Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Beberapa lahan di sana ditanami bawang merah, meskipun diketahui saat ini sedang kemarau dan butuh suplai air yang tak sedikit.

Para petani yang berani menanam bbawang merah tersebut menggunakan suplai air dari Pamsimas milik desa yang tidak digunakan oleh warga.

Baca Juga: Beras 3,5 Ton Ludes dalam Sejam di Gerakan Pangan Murah Kudus, Ternyata Harganya Segini

-Advertisement-

Salah satu petani, Hariyono, mengatakan, sawah tersebut dapat aliran air dari Pamsimas Desa Lambangan yang saat ini tidak digunakan oleh warga.Kondisi air Pamsimas desa merupakan air payau (air asin). Sehingga warga sekitar tidak mengambil air tersebut.

“Air ini dari sumur bor atau Pamsimas Desa Lambangan. Lah ini digunakan dari pada nganggur tidak terpakai. Sebab, warga tidak mengambil karena airnya asin,” ungkapnya saat ditemui sembari menyiram tanaman, Jumat (8/9/2023).

Warga Lambangan mempunyai sumur sendiri-sendiri, yang hingga saat ini masih mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Sehingga warga tidak mangambil air Pamsimas tersebut.

Hariyono menjelaskan, pihak pemilik sawah sangat diuntungkan dengan keberadaan Pamsimas tersebut. Dengan air yang tidak digunakan atau dipakai warga untuk kebutuhan sehari-hari, air itu bermanfaat untuk lahan persawahan milik bosnya yang ditanami bawang merah, meski kemarau.

“Saat ini dimanfaatkan untuk pertanian. Dari pada air Pamsimas nganggur tidak digunakan malah bisa macet (rusak). Ini yang menggunakan hanya sawah ini saja, karena kalau digunakan yang lainnya juga tidak cukup airnya,” jelas warga Desa Lambangan RT 2 RW 1, Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus itu.

Lahan persawahan yang ditanami bawang merah dengan luas satu bau itu, hingga saat ini mengeluarkan biaya untuk aliran air sekitar Rp 500 ribu dari mulai tanam hingga saat ini yang sudah berumur 10 hari. Biaya mengaliri air dari Pamsimas hingga ke sawah itu menurutnya hanya membayar pulsa atau saat menghidupkan air untuk dialirkan ke sawah saja.

Baca Juga: Pembentukan Tim Persiku Belum Jelas, Suporter Mengeluh Permintaan Audensi Tak Direspon Bupati

“Biaya mengambil air untuk pertanian ini membayar pulsa sendiri. Setiap dua hari sekali mengeluarkan Rp 100 ribu. Saat ini sudah berjalan 10 hari. Kalau dihitung semuanya biaya untuk aliran air sampai saat ini ya sekitar Rp 500 ribu,” tuturnya.

Ia menambahkan, jika air untuk kebutuhan tanaman sudah cukup, tak perlu lagi membayar pulsa Pamsimas milik desa. Apalagi menurutnya, sekitar tanggal 15 September 2023 ada kiriman air dari Kedung Ombo yang biasanya digunakan pertanian.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER