BETANEWS.ID, KUDUS – Seperti mendapatkan durian runtuh. Pepatah itulah yang dirasakan Sri Wahyuni dalam lima tahun terakhir ini. Warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu tak lagi membeli elpiji untuk memasak karena dapat aliran biogas dari Pabrik Tahu Mulyo Sari.
Saat ditemui di rumahnya, Sri mengaku senang menggunakan biogas tersebut, lantaran sejak limbah tahu diolah jadi biogas, ia lebih hemat karena tak lagi membeli elpiji.

“Alhamdulillah biogasnya bagus, bisa menghemat pengeluaran keluarga. Sekitar lima tahun lalu saya menggunakan biogas ini, tanpa membeli elpiji sekalipun,” bebernya, Sabtu (12/8/2023).
Baca juga: Pabrik Tahu di Kudus Ini Ubah Limbah Jadi Biogas, Warga Tak Perlu Bayar untuk Memanfaatkannya
Ia menuturkan, meski sudah memanfaatkan selama bertahun-tahun, dia tak pernah ditarik untuk biaya penggunaan biogas tersebut.
Sementara pengelola pabrik Mulyo Sari, Suripno menyampaikan, adanya pemanfaatan limbah tahu yang diubah menjadi biogas tersebut murni ditujukan untuk warga sekitar pabrik.
“Dulu pernah ditarik. Dalam satu bulan setiap warga yang menggunakan dibebani membayar Rp5 ribu untuk biaya perawatan. Namun saat ini sudah tidak ada penarikan dan perawatan seperti misalnya ada peralon yang bocor dibebankan warga,” tuturnya.
Baca juga:
Setidaknya, kata Suripno, biogas yang dihasilkan dari limbah tahu itu bisa digunakan untuk 15 rumah yang berada dekat dengan pabrik. Menurutnya, hal itu sangat bagus karena satu bermanfaat untuk lingkungan, keduanya bisa meringankan pengeluaran warga.
Ia menjelaskan, proses limbah tahu agar bisa menjadi biogas dengan sempurna membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Saat ini inovasi yang sudah berjalan kurang lebih 10 tahun itu bermanfaat untuk warga.
Editor: Ahmad Muhlisin

