Seniman Kota Semarang Kritik Gedung Ki Narto Sabdo Baru: ‘Lebih Mirip Gedung Pertemuan’

BETANEWS.ID, SEMARANG – Menyusul setelah ritual slup-slupan penanda dibukanya Gedung Ki Narto Sabdo baru pada Kamis (3/8/2023), beberapa seniman Kota Semarang angkat bicara.

Mereka mengkritisi kelayakan Gedung Ki Narto Sabdo baru sebagai gedung pertunjukan kesenian. Seperti yang dikatakan Daniel Hakiki, seniman teater yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Semarang (Dekase).

Baca Juga: Resmikan Gedung Ki Narto Sabdo Baru, Disbudpar Semarang Adakan Ritual

-Advertisement-

Menurut Daniel, tata ruang Gedung Ki Narto Sabdo baru lebih cenderung mengutamakan kebutuhan sekunder dalam fungsinya sebagai gedung pertunjukan. Ia pun berkelakar bahwa Gedung Ki Narto Sabdo baru lebih mirip dengan gedung pertemuan, dengan barisan kursi yang tertata rapi berjenjang dan kondisi gedung yang nampak mewah saja.

Sebaliknya di konsep panggung pertunjukan sebagai kebutuhan primer pertunjukan, menurut Daniel, sangat tidak representatif bagi penampil kesenian. Ia pun mengkritisi sempitnya panggung yang tidak akan leluasa digunakan penampil.

“Panggung kecil, yang dibesar-besarkan kursi tribun, sama kondisi gedung yang kayaknya mewah. Padahal pertunjukan tidak butuh yang terlalu hebat itu, tapi sarana dan prasarana,” kritik Daniel.

Daniel menambahkan, gedung pertunjukan kesenian semestinya lebih mengutamakan sarana dan prasarana untuk pertunjukan. Kendati Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho telah menerangkan bahwa kekurangan sarana dan prasarana akan dilengkapi di kemudian hari, menurut Daniel, pembukaan gedung Ki Narto Sabdo belum semestinya dilakukan.

Sementara menilik konsep tata ruang lainnya, Daniel berujar, Gedung Ki Narto Sabdo baru tidak memiliki pintu masuk bagi penampil yang representatif. Ia mencontohkan pada panggung pertunjukan wayang orang atau seni tari yang biasanya terdapat pintu masuk di sisi kanan dan kirinya agar lebih leluasa. Bagi Daniel, konsep tata panggung tersebut secara umum kurang representatif untuk semua pertunjukan kesenian, seperti teater, tari, wayang orang, maupun kesenian lainnya. Ia kembali berkelakar bahwa pertunjukan yang lebih memungkinkan ditampilkan adalah pemutaran film, sebagaimana bioskop.

Sebelumnya, Ketua kelompok kesenian Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo, Djoko Muljono, juga pernah menyampaikan bahwa luasan panggung Gedung Ki Narto Sabdo baru tidak memadahi untuk menata peralatan yang mereka gunakan. Bahkan, baik Djoko dan Daniel, sempat memperkirakan mahalnya harga sewa gedung yang nantinya akan diterapkan. Ini terutama melihat dari kemewahan gedung yang diperkirakan berbiaya operasional tinggi.

Baca Juga: Berjasa di Bidang Pemasaran dan Entrepreneurship, Ganjar Dapat Penghargaan Gubernur Punakawan

Seniman lainnya, pemusik Congrock (keroncong rock) 17, Marco Manardi yang juga ketua Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kota Semarang berujar senada. Untuk pertunjukan musik misalnya, luasan panggung Gedung Ki Narto Sabdo baru tetap bisa dimanfaatkan, kendati harus dipaksakan. Itu sebagaimana pula ia mencontohkan grup musiknya yang tediri dari banyak pemain.

Namun Marco yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Dekase setidaknya merasa lega bahwa Pemerintah Kota Semarang sudah mulai berpikir untuk memperhatikan kebutuhan pertunjukan kesenian, kendati masih banyak kekurangan.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER