Resmikan Gedung Ki Narto Sabdo Baru, Disbudpar Semarang Adakan Ritual

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pembangunan gedung kesenian Ki Narto Sabdo Baru yang berlokasi di eks Wonderia Semarang telah rampung dan resmi dibuka pada Kamis (3/8/2023). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang mengadakan ritual Slup-slupan untuk menandai dibukanya gedung tersebut.

Alasan Kepala Disbudpar Kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho memilih Slup-slupan sebagai penanda dibukanya gedung tersebut adalah untuk nguri-uri Budaya Jawa.

Baca Juga: Berjasa di Bidang Pemasaran dan Entrepreneurship, Ganjar Dapat Penghargaan Gubernur Punakawan

-Advertisement-

“Ini tradisi Jawa, kita jangan lupa nguri-uri budaya. Kegiatan ini kita tandai, sebelumnya di gedung ini sudah diuji coba lewat kegiatan peringatan Hari Anak Nasional. Namun tentunya kita akan lebih afdhol lagi, lebih ideal lagi, kita yang ditunjuk mengelola gedung di TBRS ini untuk memulai kegiatan dengan slup-slupan,” jelas Wing.

Wing mengaku pemanfaatan gedung Ki Narto Sabdo Baru ini masih harus dilakukan secara bertahap. Hal ini karena masih banyak sarana dan prasarana gedung yang belum lengkap, seperti giant LED, rigging untuk lighting, sound, dan monitor, serta beberapa kelengkapan lainnya.

Sementara tentang mekanisme penggunaan gedung, pihaknya belum bisa memperinci tata caranya, termasuk harga sewa gedung.

Pembangunan Gedung Ki Narto Sabdo Baru ini sendiri merupakan salah satu dari grand design penataan kompleks TBRS. Di antaranya pembangunan gedung pertemuan yang sedianya menggantikan gedung Ki Narto Sabdo lama. Rencananya Gedung Ki Narto Sabdo lama akan dibongkar pada tahun depan.

Di kompleks TBRS ini rencananya juga akan dibangun kantor Disbudpar yang akan hijrah dari Gedung Pemerintah Kota Semarang di Jalan Pemuda.

Ki Narto Sabdo Baru yang masih dalam satu kompleks TBRS rencananya akan dibuat wisata religi. Hal ini mengingat adanya makam tokoh Semarang, Mbah Genuk yang terletak di belakang Wonderia.

Ritual Slup-slupan

Ritual Slup-slupan pada pembukaan gedung kesenian itu diawali dengan seremoni potong tumpeng. Seremoni slup-slupan diawali dengan pembacaan doa dan pemotongan tumpeng putih dan kuning dan ingkung ayam.

Tumpeng putih diberikan kepada Sekretaris Dewan Kesenian Kota Semarang (Dekase), Heru Prasetyo. Sedangkan tumpeng putih diberikan kepada Budi Lhe dari Tirang Community.

Selanjutnya, Wing dan para pendampingnya melakukan ritual slup-slupan dengan berkeliling Gedung Ki Narto Sabdo baru, dengan membawa ubo rampe (peranti tradisi). Wing membawa teplok, atau alat penerangan tradisional berbentuk botol bercorong kaca dengan sumbu yang dibakar. Sementara salah satu peserta rombongan berjalan mendahului Wing dengan menyapu lantai dengan menggunakan sapu lidi.

Baca Juga: Penulis Okky Madasari: Sastra Sebagai Alat Kritik yang “Aman”

Usai berkeliling, Wing dan rombongan beranjak menaiki tangga pintu masuk gedung. Di depan pintu masuk, rombongan slup-slupan menggelar tikar pandan, sebelum masuk ke dalam gedung pertunjukan. Di dalam gedung telah digelar gamelan di depan panggung pertunjukan. Gamelan tersebut digunakan untuk pertunjukan wayang orang Ngesti Pandowo Semarang malam harinya.

Rombongan slup-slupan selanjutnya meletakkan sesajian berupa tumpeng dan buah-buahan di beberapa sudut. Wing sendiri meletakkan sesajian di ruang bawah panggung. Ia pun menyempatkan diri untuk berdoa.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER