BETANEWS.ID, SOLO – Penumbuhan rasa cinta tanah air menjadi penting untuk digencarkan di kalangan pelajar maupun mahasiswa, seperti dalam acara Dialog Kebangsaan bersama pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman yang digelar di Pendhapi Balai Kota Solo, Kamis (3/8/2023).
Pada acara tersebut, siswa dan mahasiswa sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Bukan hanya pelajar beragama Islam saja yang aktif, namun juga mereka yang non-muslim juga aktif berdialog dengan Gus Miftah seputar isu-isu kebangsaan dan radikalisme.
Menurut Gus Miftah, ada beberapa poin penting yang ingin ia sampaikan dalam Dialog Kebangsaan ini. Pertama, saat ini ada paham-paham radikalisme yang mencoba memprovokasi anak bangsa untuk membenci pemimpinnya. Sehingga, adanya paham tersebut akan berpengaruh pada proses pembangunan bangsa yang terkendala akibat kurang pahamnya masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
Baca juga: Titah Presiden Jokowi, Gus Miftah Akan Gelar Kajian Kebangsaan di Solo
“Bukan berarti saya menjadi corongnya pemerintah, tapi kita mendudukkan perkara sesuai dengan proporsinya, berlaku mekanisme check and balance. Pemahaman itulah yang hari ini pengen saya sampaikan ke anak-anak. Jangan sampai kebencian kita kepada pemimpin, kepada orang lain, sehingga justru kontra produktif,” ujarnya.
“Ada empat hal yang harus mereka pahami, Pancasila sebagai ideologi, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945,” sambung dia.
Lebih lanjut, Gus Miftah juga mengatakan bahwa dampak dari radikalisme salah satunya adalah munculnya teroris. Menurutya, mereka merasa bahwa paham merekalah yang paling benar dan mereka tidak menjunjung dan mengakui Pancasila sebagai ideologi Warga Negara Indonesia.
“Lha ini sebagai salah satu cegah tangkal untuk itu, dengan memberikan pemahaman ya,” katanya.
Gus Mifah juga menyinggung soal toleransi yang kini sangat digencarkan. Ia mengaku senang bahwa Kota Solo menduduki peringkat keempat sebagai kota paling toleran di Indoensia. Selama dialog berlangsung, anak-anak yang beragama non muslim juga mengaku tidak pernah mendapatkan perlakuan intoleran selama di institusi pendidikan maupun di dalam lingkungan masyarakat.
Baca juga: Dinilai Punya Toleransi Tinggi, Solo Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Festival Budaya Spiritual
“Tentu kita bisa lihat di panggung, orang-orang Nasrani, orang Katolik berani untuk tampil ke depan untuk menyampaikan aspirasi dan luar biasanya saya tanya pernah nggak kamu di sekolah di masyarakat ada perlakuan rasis terhadap orang non-Islam, dia menjawab tidak ada,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Solo, Gibran Rakabumiug Raka menyambut baik dengan digelarnya Dialog Kebangsaan ini untuk kalangan pelajar di Kota Solo.
“Ya terima kasih sekali ini Gus kedatangannya untuk memberikan masukan-masukan dan share ilmu ke anak-anak kami. Semoga bisa lebih diramaikan lagi, kalau rutin kan beliau lebih sibuk mungkin nanti bisa buat yang lebih besar lagi di lain kesempatan di venue yang lain yang lebih besar,” ujar Gibran.
Editor: Ahmad Muhlisin

