Penggunaan Bahasa untuk Matematika SD Masih Jadi Problematika

BETANEWS.ID, SOLO – Matematika menjadi salah satu pelajaran yang disenangi oleh para siswa. Namun, tak jarang dari mereka yang kesulitan untuk memecahkan masalah dalam soal karena terkendala bahasa yang susah untuk dipahami. Oleh karena itu, literasi menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk dikuasai dalam menjawab pertanyaan, khususnya pada soal cerita.

Fenomena itu hingga saat ini masih terjadi dan banyak dirasakan oleh pelajar saat ini. Hal tersebut dikatakan oleh Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sumarwanti.

Baca Juga: Waduk Seloromo Gembong, Destinasi Wisata Pati yang Lagi Hits Banget

-Advertisement-

Sumarwanti menyebut, ada kontribusi bahasa dalam pendidikan literasi matematika, terutama untuk siswa sekolah dasar (SD), mislanya soal cerita. Namun, soal dengan jenis cerita tersebut juga perlu deisesuaikan dengan kompetensi berbahasa siswa. Jika tidak, maka siswa yang pandai ilmu matematika pun akan kesulitan dalam mengerjakan soal tersebut.

“Karena dari PISA (Program for Internastional Student Assessment) kita 2015-2018 itu kan dudukan kita tetap sama rendahnya, tidak ada peningkatan. Nah itulah mungkin kita harus sekarang bersama-sama bagaimana mengatasi permasalahan siswa dalam literasi Matematika itu, baik dari para ilmuwan bidang matematika, pengajaran matematika, ditambah dengan ilmu bahasa. Karena nyatanya bahasa itu menjadi salah satu kendala siswa untuk memecahkan soal,” ujarnya saat ditemui usai jumpa pers Pegukuhan Guru Besar UNS, Senin (3/7/2023).

Menurutnya, para guru pun juga merasa kesulitan dalam membuat soal cerita, sehingga mereka menggunakan soal yang berada di buku teks, Lembara Kerja Siswa (LKS), atau bahkan terkadang juga menggunakan buku-buku lama.

“Misalnya sekarang itu masih pakai buku yang KTSP, ada juga yang seperti itu. Nah karena guru merasa kesulitan membuat soal, apa yang ada di buku itu diambil dan apa yang diambil itu kan belum tentu baik, karena guru tidak tahu kriteria soal yang baik itu seperti apa, itu fenomenanya,” katanya.

Dengan kesulitan yang dialami oleh siswa dalam memahami soal, maka hal itu akan berpengaruh pula dalam membuat persamaan matematika.

“Jadi ada empat langkah dalam mengerjakan soal matematika harus membaca intensif. Setelah itu dia paham membuat persamaan matematika. Kalau dia gagal memahami dengan benar maka persamaan matematikanya ia tidak benar persamaan matematika yang salah hasilnya juga pasti salah. Itu rentetannya seperti itu,” kata dia.

Menurutnya, penyesuaian soal cerita harus disesuaikan dengan kompetensi tingkatan kelas siswa. Ia mencontohkan, pertayaan untuk siswa kelas I tidak boleh menggunakan kalimat yang terlalu panjang, misalnya kalimat majemuk.

“Misalnya ‘Ani berumur 9 tahun dan Ina berumur 2 tahun lebih tua dari Ani’, itu kalau dijadikan satu kalimat kan akhirnya menjadi kalimat majemuk, nah kelas II itu belum bisa mengakses kalimat seperti itu. Nah ini yang tidak disadari oleh para pembuat soal termasuk oleh gurunya. Harusnya kalau para siswa mudah memahami kalimatnya dibuat tunggal tunggal gitu loh. Nah itu yang sederhana,” katanya.

“Kemudian kadang-kadang tidak hanya dua bagian kalimat jadi satu. Mungkin tiga kalimat itu diajukan satu,” lanjutnya.

Karena fenoemna yang masih sering terjadi ini, Sumarwanti melakukan penelitian yang akan dipaparkan pada pidatonya pada saat pengukuhan guru besar UNS, Selasa (4/7/2023). Ia menerangkan, ada 4 teknik penyusunan soal cerita yang dapat diterapkan, yaitu teknik parafrasa, analogi, generalisasi, dan modifikasi.

Dijelaskannya, teknik parafrasa adalah mengubah atau membuat teks soal cerita berdasarkan soal non-cerita. Teknik analogi adalah menyusun soal cerita yang baru pada materi tertentu dengan mengacu pada contoh soal yang ada pada materi lain.

Teknik generalisasi adalah membuat teks soal cerita baru dengan mengacu pada soal yang ada pada materi yang sama, dengan cara mengganti besaran angka, simbol, atau perangkat matematika lainnya. Teknik modifikasi adalah mengubah soal cerita dengan bahasa verbal yang lebih baik meski tidak mengubah esensi masalah pada soal sebelumnya.

“Untuk membantu siswa dalam memahami soal cerita, terutama untuk soal-soal yang dirasa sulit oleh siswa, guru dapat menggunakan 4 metode, yaitu Teknik menerjemahkan, memfokuskan, ‘membahasakan ulang, dan menceritakan,” paparnya.

Dengan formulasi yang ia cetuskan ini, Sumarwanti berharap dapat menjadi sebuah solusi bagi guru maupun murid. Sehingga, guru sebagai pengajara diajari untuk membuat soal cerita dengan rambu-rambu dan kompetensi sesuai dengan tingkatan kelas siswa.

Baca Juga: Kukuhkan Predikat Kota Ukir, Pemkab Jepara Bakal Adakan Festival Ukir

“Harapan saya kemudian dengan guru diajari cara membuatnya rambu-rambu dia tahu itu akan menjadikan guru membuat soal sesuai dengan tingkat kelas siswa, dengan konteks siswa,” tutupnya.

Selain Prof. Dr. Sumarwati, M.Pd. , UNS akan meengukuhkan 3 guru besar lainnya, yakni Prof. Dr. Mohammad Jamin, S.H.,M.Hum., C.M.C. dari Fakultas Hukum (FH) UNS, Prof. Dr. Niken Silmi Surjandari, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik (FT), dan Prof. Dr. Sarwono, M. Sn dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Acara pengukuhan ak.an digelar pada Selasa (4/7/2023) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER