BETANEWS.ID, KUDUS – Kosnan, adalah satu diantara beberapa orang pandai besi yang ada di Kabupaten Kudus. Keahliannya menempa besi dan logam tersebut didapatnya dari proses yang panjang, sejak usia 8 tahun dia sudah akrab dengan kobaran api dan panasnya lempengan besi.
Profesi pandai besi sudah dikenal sejak dulu dan tercatat di banyak prasasti Jawa Kuno. Namun kini keberadaan pandai besi nyaris terlupakan seiring dengan banyaknya perkakas pabrik.
Baca Juga: Jelang Kurban, Pengrajin Pandai Besi Kudus Kebanjiran Pesanan
Di Kudus, keahlian dan ketrampilan menempa besi secara tradisional ini masih ditekuni segelintir orang. Bahkan diwariskan turun temurun ke generasinya dan bertahan hingga kini.
Api di tungku pembakaran yang dibakar dengan arang itu semakin membesar setelah mesin peniup angin dinyalakan. Sedemikian besar hingga nyaris menjilat atap di bengkel besi tempa di Desa Hadipolo RT 4 RW 1, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Setelah besi terlihat berwarna merah kekuningan kemudian ditempa sedemikian rupa seperti permintaan pelanggan.
Setiap harinya, dia memproduksi alat pertanian seperti bendo, arit, gunting, pisau, berang, dan lain sebagainya. Pria paruh baya berusia 52 tahun itu dibantu anaknya untuk memproduksi pesanan pelanggan di bengkel besi tempa miliknya.
“Mulai menjadi perajin pandai besi ini sudah sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD), sekitar usia menginjak 8 tahun. Dulu langsung bekerja ikut orang, karena orang tua dulu tidak berkecimpung yg di sini,” beber Kosnan kepada Betanews.id usai membuat bendo, Senin (19/6/2023).
Keinginannya untuk menjadi perajin pandai besi muncul karena desanya dari dulu memang menjadi pusat produksi pandai besi. Motivasinya tergugah sedari kecil, Kosnan kecil memulai proses menempa mulai dari ikut bekerja orang lain.
Meski begitu, ada kalanya pekerjaan sebagai pandai besi menjenuhkan. Di tengah perjalanannya menempa besi, Ia sempat juga merantau sebagai penambang emas dan kuli bangunan di daerah Kalimantan.
Namun, akhirnya, kecintaan masa kecilnya akan menempa besi dan logam membuatnya kembali lagi ke daerah asal, dan kembali bergulat dengan panasnya besi.
“Namun setelah krisis moneter tahun 1998, kemudian fokus di pandai besi saja hingga saat ini,” ungkapnya.
Tentunya, memproduksi beraneka ragam alat pertanian maupun dapur itu memang berat dan harus tahan banting, karenanya dibutuhkan kondisi tubuh yang mau tidak mau harus fit dan prima.
“Kalau badan tidak fit mending dibuat istirahat terlebih dulu, karena pekerjaan sangat beresiko dan berat,” tutur bapak tiga anak tersebut.
Sebelum ini Kosnan hanya melayani jasa pembuatan pisau, arit, bendo. Namun kini, Ia mulai merambah memproduksi gunting yang tidak banyak dibuat oleh pandai besi lainnya.
“Proses pembuatan gunting itu lebih ribet dan lebih sulit daripada pembuatan produk lainnya. Jadi memang sedikit yang memproduksi, salah satunya adalah saya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pelanggannya kini datang dari berbagai daerah, di antaranya Kudus, Jepara, Pati, Demak, Semarang, dan Jogjakarta.
“Saya memang mengutamakan kualitas barang. Untuk harga poduksi sini memang beda, agak mahal. Tapi untuk hasilnya bagus dan pelanggan banyak yang berlangganan,” imbuhnya.
Baca Juga: Tak Hanya Murah, Begel dan Cakar Ayam Buatan Umam Gunakan Besi Baru
Pihaknya juga memberikan garansi untuk barang yang diproduksinya selama tiga bulan. Menurutnya, jika alat atau barang yang diproduksi tidak tajam dan cepat tumpul bisa langsung ditukarkan dan mendapat barang yang baru lagi.
“Harga pisau Rp 70 ribu, berang Rp 360 ribu, gunting mulai dari Rp 70 ribu sampai Rp 230 ribu,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

