BETANEWS.ID, KUDUS – Budi Wicaksono (40) siang itu tampak dibantu karyawannya melayani beberapa pembeli yang memadati toko Al-Hazmi, di Kelurahan Purwosari, Kecamatan/Kabupaten Kudus. Terlihat di toko tersebut banyak tersedia sarung batik yang tertata rapi di sebuah rak maupun di etalase gantung.
Sembari melayani, Budi begitu ia akrab disapa bersedia berbagi kisahnya hingga mencapai kesuksesan. Dia mengaku awalnya justru tak menyukai batik. Namun, pada akhirnya jalan hidup menuntunya punya usaha sarung batik yang kini makin moncer.

“Dulu ada pameran saat hari ulang tahun PT Djarum, termasuk ada stand yang menampilkan batik. Dari awalnya saya tidak suka dengan batik, kemudian mulai tertantang untuk membuat produksi batik sendiri,” beber Budi kepada Betanews.id, Jumat (7/4/2023).
Baca juga: Jelang Lebaran Ini, Permintaan Sarung Batik Al Hazmi Meningkat Hingga 300 Persen
Budi juga merasa kasihan dengan orang tuanya yang juga berkecimpung dalam proses pembuatan batik. Melihat kerumitan dalam proses pembuatan, akhirnya ia bantu penjualan batik milik orang tuanya. Beberapa hari kemudian ia pun mulai tertarik untuk memproduksi batik tulis sendiri dengan desain sendiri.
“Sekitar 2011 saya terjun untuk membuat batik sendiri. Setelah batik jadi, kemudian saya mendapat kendala. Biaya produksi mahal, harga jual tinggi, konsumen terbatas, daya beli masyarakat terbatas, dan lakunya juga lama. Kemudian saya berpikir ingin membalikkan keadaan dengan kendala yang saya alami,” ungkapnya.
Setelah lama memikirkan inovasi usaha, Budi akhirnya menemukan formula tepat yang sesuai dengan prinsipnya. Formula itu dengan batik handprint yang menurutnya, biaya tidak terlalu mahal, harga jualnya tidak mahal, daya beli masyarakat tinggi, dan cepat laku.
“Akhirnya 2019 itu saya memulai dengan batik handprint dengan produksi sarung batik. Awalnya saat rintis produk sarung batik itu dengan motif yang bernuansakan Kudus. Dari produk itu ternyata banyak peminatnya,” ucapnya.
Lebih lanjut ia bercerita, setelah produknya laku dan banyak peminat, kemudian ia mengembangkan produknya itu dengan beraneka motif. Secara keseluruhan, 50 persennya motif kudusan dan sisanya motif klasik Jawa.
Baca juga: Sarung Batik Al-Hazmi Punya 80 Agen di Indonesia, Pernah Tembus Pasar Mancanegara
Ia menuturkan, hingga saat ini total ada 60 motif, dengan total ada 120 sering sarung batik. Pemasaran hingga saat ini, pihaknya sudah tidak repot lagi karena ada puluhan agen yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan, pemasaran Sarung Batik Al-Hazmi, pernah tembus pasar mancanegara.
“Kalau pemasaran saat ini dari dalam kota, antar kota, antar provinsi, bahkan antar pulau. Untuk kelebihan produk kami ini menggunakan bahan premium yang biasa dipakai batik tulis. Sementara untuk harganya sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp105 ribu hingga Rp200 ribu,” katanya.
Editor: Ahmad Muhlisin

