
*Catatan Edy Supratno di Malaysia
Di sela kegiatan resminya di kampus USIM dan Unisza di Malaysia (16-20 Maret), Edy Supratno, ketua STAI Syekh Jangkung mengamati hal-hal unik di sana. Berikut catatannya.
Sebenarnya malam itu sudah hampir pukul 24.00. Dari lantai 10, tempat kami menginap, saya melihat ke bawah, jalanan masih tampak ramai. Tiba-tiba hati saya tergerak untuk turun dan melihat langsung kehidupan di Petaling Street tersebut. Saya merasa perlu mengobservasinya karena bagi saya unik. Apalagi besok pagi-pagi kami harus check out lalu pulang ke tanah air.
Ini bukan kali pertama kami menginap di hotel tersebut. Pada hari pertama tiba di Kuala Lumpur, oleh pihak penyelenggara kami diinapkan di kawasan Chinatown ini. Hanya satu malam, besoknya harus check out karena kami berkegiatan di Provinsi Negeri Sembilan. Saya tidak sempat observasi.
Malam itu sesungguhnya kami semua sudah sangat lelah setelah berkegiatan di Universiti Sultan Zainal Abidin (Unisza). Kami baru saja menempuh perjalanan darat dengan bus dari Kuala Lumpur ke Kuala Terengganu lalu kembali ke Kuala Lumpur yang total perjalanan hampir 1.000 km lebih. Biar mudah jarak sekali perjalanannya setara dari kota Kudus ke Jakarta. Memang perjalanan lancar karena melalui highway (tol). Namun tetap saja lelah sekali, sehingga malam itu banyak yang memilih langsung tidur. Apalagi pemandangan sepanjang jalan monoton sehingga membosankan, hanya kebun sawit.
Saat sampai di bawah saya masih melihat beberapa teman masih melek. Mereka terbagi dua kelompok sesuai kelompok umur. Yang lebih muda memilih di depan hotel atau lebih pas di pinggir jalan, kelompok satunya duduk-duduk di warung kaki lima yang tidak jauh dari hotel. Mereka sedang menjalankan keahliannya sebagai ‘ahli hisap’.
Kelompok ini memang khas, setiap ada kesempatan selalu menggunakan sebaik-baiknya, meskipun di tengah kesempitan. Mereka benar-benar tidak berani merokok di dalam hotel, dendanya besar, 300 Ringgit Malaysia atau setara Rp 1 juta.
Sebelumnya, ketika di Terengganu, mereka pun sudah ditegur keras oleh pemilik warung. Gara-garanya mereka “berpraktik” di dalam warung. Padahal warungnya di pedesaan.
“Kalau merokok di luar,” tegur pemilik warung melalui petugas biro perjalanan.
Tapi malam itu di Petaling Street, ahli hisap dari Indonesia ini tampaknya cukup nyaman.





