Memahami Tapa Wuda Sinjang Rikma Ratu Kalinyamat yang Sering Disalahpahami

Runtuhnya Kerajaan Demak menyebabkan terjadinya konflik perebutan kekuasaan. Konfil tersebut menyebabkan suami Ratu Kalinyamat, Sunan Hadlirin dibunuh oleh Arya Penangsang. Karena kejadian tersebut Ratu Kalinyamat kemudian pergi bertapa ke sebuah gua yang saat ini berada di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo.

Disana sang ratu melakukan tapa yang dikenal dengan nama Tapa Wuda Sinjang Rikma. Namun banyak masyarakat yang memaknai bahwa Ratu Kalinyamat melakukan kegiatan bertapa dengan melepaskan semua pakaiannya.

Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah, Gus Muhammad menjelaskan, bahwa sejatinya hal tersebut tidaklah seperti yang dipahami masyarakat selama ini. Tapa wuda yang dilakukan sang ratu menurutnya merupakan sebuah lelaku atau tirakat yang dilakukan oleh Ratu Kalinyamat untuk melepaskan semua hal duniawi yang melekat dalam dirinya sebagai seorang ratu.

-Advertisement-

Baca juga: Tirta Kahuripan, Situs Peninggalan Ratu Kalinyamat yang Manfaatnya Terus Mengalir hingga Kini

Sinjang rikma ia maknai dengan melepas mahkotanya sebagai seorang ratu untuk menjadi rakyat biasa. Sebelumnya, saat menjadi ratu ia banyak dihormati dan disegani oleh masyarakat.

Tapa itu merupakan lelakunya nyi ratu, itu merupaka riyadhah atau tirakat. Selama ini dimaknai bugil. Padahal dia melepaskan jati dirinya menjadi seorang ratu yang disegani banyak orang dengan menjadi orang biasa. Sinjang rikma itu melepaskan mahkotanya,” jelasnya pada Betanews.id, Kamis (23/03/2023).

Hal tersebut ia simpulkan dari peninggalan Ratu kalinyamat berupa batu atau reca yang memiliki ukiran nama Muhammad dengan bentuk saling berhadapan. Ketika ditelusuri lukisan tersebut merupakan simbol dari Thariqah Sattariyah. Hal yang menurutnya belum banyak orang tau bahwa Ratu Kalinyamat juga mempelajari ilmu spiritual. Habib Luthfi dari Pekalongan bahkan mengatakan bahwa Ratu Kalinyamat merupakan walinya orang Jepara.

Sedangkan bentuk tapa yang dilakukan Ratu Kalinyamat merupakan ajaran dari Thariqah Akmaliyyah. Thariqah yang digagas oleh Syaikh Siti Jenar. Seorang tokoh sufi yang banyak dianggap sesat oleh masyarakat karena ajaran Manunggaling Kawula Gusti.

Ajaran tersebut dipahami masyarakat karena Syeikh Siti Jenar menganggap dirinya sebagai Tuhan. Sehingga dianggap sesat oleh masyarakat. Thariqah Akmaliyah dikenal dengan ajaran Malamatiyah atau ngasorke awak untuk menutupi kesalahan dan kefitrahan dari manusia itu sendiri.

Baca juga: Meriahnya Tradisi Baratan untuk Sambut Bulan Puasa di Kriyan Jepara

Sehingga, Gus Muhammad menyimpulkan, bahwa Ratu Kalinyamat kemungkinan mengikuti ajaran Syeikh Siti Jenar. Ia mengungkap di literasi buku memang belum banyak yang menjelaskan hal tersebut. Analisa tersebut ia dapatkan dari peninggalan Ratu Kalinyamat berupa batu reca.

“Setelah Ratu Kalinyamat tidak memimpin pemerintahan lagi beliau kan menjadi sufi dengan mempelajari ilmu tarikat. Itu yang banyak masyarakat belum tau,” imbuhnya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER