BETANEWS.ID, PATI – Sejumlah anak tampak piawai bermain leang-leong pada acara Festival Megengan yang digelar Sanggar Bayuning Mataram Pati, Minggu (19/03/2023). Tak hanya panggung seni, gelaran festival tersebut juga dimeriahkan dengan lomba dan pasar gratis untuk masyarakat. Acara yang sudah ada sejak tahun lalu itu, kini menjadi even tahunan khas Desa Cengkalsewu, Sukolilo, Pati, dalam menyambut Ramadan.
Muh Syafik, Kepala Yayasan Sanggar Bayuning Mataram, mengungkapkan, agar menambah kemeriahan, pihaknya menggandeng sejumlah seniman dan komunitas dari Pati. Tak hanya panggung seni, dalam rangkaian acara Festival Megengan itu juga menyediakan doorprize dan pasar gratis.
“Tempat pelaksanaan acaranya masih seperti tahun lalu yaitu di halaman Yayasan Pendidikan Sanggar Bayuning Mataram. Alhamdulillah antusias masyarakat sangat luar biasa. Tidak hanya dari dari kalangan orang dewasa saja, tetapi anak-anak semangat untuk ikut lomba dan pentas seni,” ungkapnya.
Baca juga: Gebyuran Bustaman, Tradisi Unik Jelang Ramadan, Syaratnya Tak Boleh Marah
Ia menjelaskan, tujuan digelarnya acara Festival Megengan adalah sebagai bentuk upaya melestarikan budaya Jawa dalam menyambut Ramadan. Wujud rasa syukur akan datangnya Ramadan itu mereka aplikasikan dengan tradisi saling berbagi.
“Salah satu nilai yang terkandung dalam acara ini yaitu sebagai bentuk rasa syukur yang mengandung nilai ajaran untuk saling berbagi satu sama lain. Acara tahun ini diselenggarakan H-3 hari sebelum puasa tepatnya pada tanggal 16-19 Maret 2023M atau 23 Syaban 1444H,” terangnya.

Syafik, begitu dia akrab disapa, merinci sejumlah kegiatan pada acara Festival Megengan, di antaranya, pentas seni, wayang kulit, bedah film, lomba anak-anak bernuansa Islami dan kebudayaan. Selain itu juga ada bazar UMKM, ngempyak gunungan, pasar gratis dan pembagian hadiah.
Baca juga: Sambut Ramadan, Warga Tlogorejo Pati Gelar Kirab Seribu Apem
Menurutnya, dalam rangkaian acara itu, ngempyak gunungan dan pasar gratis merupakan acara yang paling ditunggu. Syafik mengibaratkan, ngempyak gunungan merupakan momen untuk berlomba-lomba mendapatkan kebaikan dan pahala di bulan Ramadan. Sementara pasar gratis mengajarkan untuk saling berbagi, karena siapa saja boleh mengambil dan memberi.
“Di penghujung acara ini, kami tutup dengan pengajian umum sekaligus doa bersama untuk menyambut bulan suci Ramadan. Pada dasarnya acara ini sebagai bentuk upaya pelestarian budaya dan mengenalkan adat Jawa kepada generasi muda,” tambahnya.
Editor: Suwoko

