31 C
Kudus
Rabu, Februari 28, 2024

Sambut Ramadan, Warga Tlogorejo Pati Gelar Kirab Seribu Apem

BETANEWS.ID, PATI – Tradisi unik digelar oleh warga Desa Tlogorejo, Kecamatan Tlogowungu, Pati, dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi yang disebut dengan Ngruwahi Sewu Apem ini, dilakukan dengan mengarak seribu apem dari Belik Bunton menuju telaga yang berada di kompleks Balai Desa Tlogorejo, pada Minggu (19/3/2023) malam.

Ketua Karang Taruna Wira Utama Desa Tlogorejo, Syamsul Huda, menjelaskan, dalam kirab itu apem juga ditempelkan di sebuah replika Ular Naga, sebagai perlambang lestarinya budaya di Desa Tlogorejo.

“Menurut legenda Desa Tlogorejo, Belik Bunton ini merupakan tempat kepala Naga berada. Di mana ekornya ada di telaga yang ada di Balai Desa Tlogorejo. Berangkat dari legenda itulah rute kirab seribu apem itu berlangsung,” ujar Huda dalam rilis yang diterima Betanews.id, Senin (20/3/2023).

Baca juga: Dugderan, Tradisi Semarangan yang Melegenda

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Ia pun menuturkan, kata apem sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab yaitu “Afuan” atau “Afuwwun” yang berarti pengampunan, di mana dalam kirab apem ini mengandung permintaan pengampunan sebelum memasuki Ramadan.

Dalam prosesi Ngruwahi Sewu Apem ini, masyarakat tumpah ruah dan berebut apem yang telah didoakan dan dibacakan selawat bersama.

“Selain itu juga, rute arakan 1.000 apem ini disinergiskan dengan kebudayaan desa dalam Festival Banyu Tlaga 2023 sebagai wujud revitaliasi desa dengan memahami asal mulanya,” ungkapnya.

Maka  kemudian menurutnya, rute yang diambil sama dengan legenda yang berkembang di masyarakat Desa Tlogorejo.

Rangkaian kegiatan Festival Banyu Tlaga sendiri, selain Ngruwahi 1000 Apem juga dilaksanakan kegiatan Bedah Telaga, Dhudah (Bedah) Sejarah Tlogowungu, dan Panggung Seni Ruwahan yang diisi oleh pelajar, seniman lokal desa, dan seniman-seniman dari Pati.

Baca juga: Meriahnya Tradisi Baratan untuk Sambut Bulan Puasa di Kriyan Jepara

“Rangkaian Festival Banyu Tlaga ini memiliki tujuan untuk memberikan kesadaran kembali tentang awal mula Desa Tlogorejo terkait keberadaan Telaga-telaga di kawasan ini dan pohon wungu. Di mana dengan hal tersebut untuk mempertegas identitas daerah sebagai modal untuk melakukan pembangunan ke depannya yang sesuai dengan potensi dan karakter dari masyarakat Desa Tlogorejo,” sebutnya.

Spirit pembangunan dengan kesadaran tersebut, menurutnya akan menjadi wujud cinta yang menjadi modal penting untuk melakukan penataan pembangunan Desa Tlogorejo.

“Keberadaan kegiatan-kegiatan budaya seperti Festival Banyu Tlaga akan membawa manfaat penting terutama untuk menyambung tali silaturahmi warga masyarakat Tlogorejo. Yakni, untuk nyengkuyung bareng desa  menuju kesejahteraan dan kemakmuran bersama,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
6,574PengikutMengikuti
129,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER