BETANEWS.ID, JEPARA – Warga Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara menggelar Tradisi Baratan untuk menyambut Ramadan. Tradisi yang digelar selama sepekan itu selalu dinanti-nanti oleh warga setempat. Hal itu terlihat dari ramainya warga yang memadati Masjid Al-Makmur yang jadi pusat kegiatan, sejak habis magrib.
Tokoh Masyarakat Kriyan, Muhammad, menjelaskan, Baratan merupakan tradisi yang sudah turun-temurun ada dalam masyarakat Desa Kriyan. Baratan berasal dari kata Bara’ah yang memiliki makna malam pembebasan, karena masyarakat kesulitan mengucapkan kata tersebut, sehingga akhirnya disebut Baratan.
Tradisi Baratan digelar setengah bulan sebelum Ramadan dan puncaknya pada malam 15 Sya’ban. Menurut Muhammad, malam tersebut penuh ampunan bagi orang-orang yang ingin bertaubat sebelum memasuki Ramadan.
Baca juga: Bodo Contong, Tradisi Ruwahan di Desa Rahtawu yang Menampilkan Kuatnya Kerukunan Umat Beragama
“Kalau sejarahnya semenjak saya kecil ini sudah ada. Tradisi turun temurunlah yang masih tetap dijaga oleh masyarakat,” kata pengasuh Pondok Pesantren Nailin Najah Kriyan itu, Minggu (12/03/2023).
Rangkaian Tradisi Baratan sudah dimulai pada Senin (6/3/2023), yang diawali dengan selawat dan pembacaan Surat Yasin sebanyak 313 kali. Kemudian disusul dengan selametan Baratan atau ‘bancaan puli’ pada Kamis yang menjadi ciri khas dari tradisi tersebut. Sabtunya diadakan khataman Alquran di dua masjid dan sebelas musala.
Puncaknya dilaksanakan pada Minggu yang diawali dengan tahlil dan doa bersama, kemudian dilakukan kirab sosok Ratu Kalinyamat. Tidak hanya sosok Ratu Kalinyamat, dalam rombongan kirab terdiri dari dari beberapa pasukan. Di barisan terdepan ada pasukan sapu jagat yang melecutkan sapu lidi ke jalan sebagai simbol pengusir roh jahat serta memberi jalan bagi Ratu Kalinyamat.
Baca juga: Usai Buka Tradisi Dandangan, Hartopo dan Masan Pilih Makan Mi Ayam Sambil Lesehan di Trotoar
Dibelakangnya terdapat dayang yang membawa kendi berisi tirta kahuripan. Kemudian disusul kereta kencana yang membawa sosok Ratu Kalinyamat. Setelah kereta kencana, terdapat barisan para perempuan yang membawa nampan berisi hasil bumi serta puli dan rombongan para lelaki yang memanggul gunungan. Rombongan tersebut berangkat dari Masjid Al-Makmur mengelilingi Desa Kriyan.
Pemeran Ratu Kalinyamat, Anggita Yesania Nirwana (20), berbagi cerita bahwa tidak semua orang bisa memerankan sosok sang ratu. Terdapat seleksi berupa tes tertulis dan lisan yang dilakukan oleh panitia. Materi yang diujikan berkisar tentang asal-usul dari Baratan, sejarah Ratu Kalinyamat, serta pengatahuan tentang sunan-sunan.
“Pastinya bangga dan senang bisa terpilih memerankan sosok Ratu Kalinyamat, karena tidak semua bisa memerankan sosok tersebut,” ujar mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Kudus tersebut.
Editor: Ahmad Muhlisin

