Akses Jalan Terputus Karena Banjir, Soimah Terpaksa Harus Ngekos di Kudus dan Jauh dari 2 Anaknya

BETANEWS.ID, KUDUS – Sudah sebulan Khuzaimah (37) seorang buruh rokok di brak Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus harus berpisah dengan dua buah hatinya. Sebab, warga Desa Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo tersebut harus ngekos di Kudus agar tetap bisa bekerja, karena akses jalan alternatif Kudus-Pati lumpuh akibat banjir.

Jam menunjukan pukul 6.00 WIB, di dalam kamar rumah yang berada di Dukuh Karangrowo, Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, seorang perempuan sedang memasukkan berbagai pakaian ke dalam kantong plastik besar. Setelah itu ia bersolek ala kadarnya.

“Hari ini Sabtu, jadi juga harus mempersiapkan berbagai barang yang akan saya bawa pulang ke rumah di Cengkalsewu,” ujar perempuan yang akrab disapa Soimah kepada Betanews.id, Sabtu (11/3/2023).

-Advertisement-

Baca juga: Banjir Bikin Macet Jalan Tanjungkarang, Ketua DPRD Kudus Usulkan Bangun 2 Jalur Alternatif

Soimah mengatakan, sudah bekerja jadi buruh rokok sejak 2002 atau sudah 21 tahun. Dulu ia bekerja di brak Besito, tapi sejak menikah dengan orang Cengkalsewu dan tinggal bersama suami, pada tahun 2015 ia meminta pindah ke brak yang ada di Desa Bulungcangkring.

“Ya, biar lebih dekat jika perjalanan saya tempuh dari Desa Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo, Pati,” beber perempuan yang bekerja pada bagian paking di pabrik rokok tersebut.

Hari-hari, Soimah lalui dengan senang hati sebagai buruh rokok. Perjalanan dari rumahnya ke pabrik rokok ditempuh dengan 20 menit perjalanan mengendarai sepeda motor. melewati Desa Kasiyan, Gadudero, kemudian Bulungcangkring. Dan, ia laju pulang-pergi setiap hari.

“Saya biasanya berangkat dari rumah pukul 6.00 WIB dan sampai pabrik 6.20 WIB. Sementara masuk kerja itu pukul 7.30 WIB. Saya sengaja berangkat lebih awal karena punya sampingan jualan pakaian kepada teman buruh dengan cara mindring (angsur),” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, sejak pertengahan Desember 2022, jalan alternatif Pati-Kudus terendam banjir, terutama yang berada di Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, Pati. Ketika debit air belum tinggi ia masih ngelaju dengan menerjang banjir setiap hari.

“Namun pada awal Januari 2023, banjir di jalan Kasiyan meninggi sampai satu meter. Sehingga akses terputus dan tak bisa dilalui,” bebernya.

Pernah agar bisa lewat untuk berangkat kerja, Soimah mengojekkan motornya naik gerobak untuk melewati banjir. Tapi ongkosnya Rp 20 ribu sekali menyeberang. Jadi pulang pergi ia harus mengeluarkan uang Rp 40 ribu.

“Pengeluaran itu cukup besar dan tak sebanding dengan pendapatan saya yang hanya buruh rokok,” tandasnya.

Oleh sebab itu, ia pun memutuskan untuk ngekos di Kudus. Hal itu dilakukan agar bisa tetap bekerja meski harus jauh dari keluarga, termasuk dua anaknya.

“Saya punya dua anak, yang anak pertama usai 11 tahun dan yang kedua usia tujuh tahun. Saat ini anak saya tinggal bersama ayahnya saja,” ungkapnya.

Pada awal ngekos memang berat, terutama bagi anak bungsunya yang masih kecil. Namun, sekarang anaknya sudah terbiasa dan ia pulang ke rumah sepekan sekali, setiap hari Sabtu.

“Sebenarnya pernah mencoba ngelaju lewat Jalan Pantura dan diantar jemput oleh suami. Namun, jarak tempuh terlalu jauh karena harus memutar. Kasihan juga suami harus mengantar pagi dan pulangnya harus menjemput, hal itu malah mengganggu kerja suami,” terangnya.

Baca juga: Tol Semarang-Demak Tak Lintasi Desanya, Sayidi Harap Dibuatkan Tanggul Laut (5/6)

Pihak pabrik, tutur Soimah, juga mengetahui keadaanya dan pernah memberikan bantuan. Dulu ada kelonggaran bagi buruh pabrik yang terdampak banjir, dengan pemberian izin untuk tidak masuk kerja. Namun, sekarang tidak bisa lagi karena orderan lagi banyak.

“Banjir yang menggenangi jalan alternatif Pati-Kudus di Desa Kasiyan hingga saat ini masih tinggi dan belum surut. Saat ini ketinggian banjir masih seperut orang dewasa,” bebernya.

Menurutnya, banjir saat ini merupakan paling parah dan paling lama, karena sudah tiga bulan belum juga surut. Ia berharap, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bisa cari solusi agar wilayah Kudus dan Pati tak banjir lagi.

“Harapannya, banjir cepat surut agar saya bisa berangkat dan pulang kerja ke rumah. Bisa ketemu keluarga setiap hari. Serta semoga pemerintah ini dapat solusi untuk menangani banjir agar tak terjadi lagi,” harapnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER