BETANEWS.ID, KUDUS – Kepala Desa Karangrowo, Heri Darwanto, meminta pemerintah serius tangani banjir tahunan yang terjadi di Kabupaten Kudus, khususnya di desanya. Mengingat, banjir tersebut sudah merendam wilayahnya selama dua bulan lebih dan kondisi itu terjadi setiap tahun.
“Kami berharap ada langkah konkrit untuk penanganan banjir, khususnya di Desa Karangrowo. Jika begini terus, warga kami menjerit dan menderita,” ujar Heri kepada Betanews.id, Rabu (1/3/2023).

Menurut Heri, pemerintah harus menjalankan program reboisasi atau penanaman pohon secara besar-besaran di dua pegunungan, yakni Gunung Muria dan Gunung Kendeng. Pasalnya, kedua gunung tersebut saat ini tingkat kegundulannya sangat parah dan memprihatinkan.
Baca juga: Nelangsanya Juriyah, 2 Bulan Ngungsi dan Jualan Keliling di Tengah Banjir untuk Cukupi Kebutuhan
“Jadi harus ada program reboisasi yang masif dan serius. Karena, jika sungainya dinormalisasi tapi gunungnya gundul, tidak lama juga sungainya akan dangkal lagi karena kiriman material dari gunung,” jelasnya.
Terkait sungai, ia meminta pemerintah berkaca pada zaman penjajahan Belanda yang membuat sungai lebar-lebar di Kudus. Tak hanya sungai utama, tapi dibuatkan anak sungai yang lebar juga.
“Karena sungai-sungai yang ada ini sudah mengalami pendangkalan dan menyempit, jadi harus ada normalisasi, ada pengerukan. Tanggul sungai juga dibuat yang tinggi dan besar agar air tak melimpas ke pemukiman dan area persawahan,” bebernya.
Baca juga: 400 Hektare Sawah Kebanjiran di Karangrowo Kudus Alami Puso, Kerugian Ditaksir Capai Rp8 Miliar
Ia pun meminta agar setiap pertemuan sungai diberi pintu serta disediakan pompa polder. Tujuannya, ketika tanggulnya besar dan ada pompa polder besar, saat ada genangan langsung bisa langsung disedot dan dibuang ke sungai.
“Saya yakin jika dilakukan semua, baniir akan teratasi. Memang butuh biaya yang banyak, tapi negara harus mampu melakukan itu. Jika tidak masyarakat bawah yang akan menderita. Selain rumahnya kebanjiran, lahan pertanian yang notabene untuk sumber kehidupan juga terendam tak bisa ditanami. Giliran sudah ditanami terkena banjir jadi puso dan kerugian makin banyak,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

