BETANEWS.ID, JEPARA – Stunting menjadi salah satu kasus yang mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Penjabat (Pj) Bupati Jepara, Edy Supriyanta, selalu menekankan kepada seluruh pihak untuk menurunkan kasus stunting.
Ahli Gizi Puskesmas Kedung II, Nursiana Puspitaningtyas menjelaskan, dampak dari kasus stunting ini bisa merugikan anak ketika menginjak dewasa. Dia menjelaskan, anak yang mengalami stunting memiliki risiko sulit dalam mengejar pendidikan. Hal ini lantaran stunting dapat mempengaruhi perkembangan otak pada anak-anak.
Selain itu, anak yang stunting juga memiliki tinggi badan yang rendah. Di mana pada saat sekarang, tinggi badan juga turut menjadi salah satu syarat dalam melamar pekerjaan.
Baca juga: 747 Balita di Kedung Alami Stunting, Jadi yang Tertinggi di Jepara
“Akibat jangka panjang bisa mempengaruhi anak dalam mencari pekerjaan. Karena anak yang pendek, sekarang ini kan banyak pekerjaan dengan syarat tinggi badan yang harus sekian. Sehingga pendapatannya bisa berkurang sekitar 20 persen. Kalau misal target Rp2 juta dia hanya mendapat Rp1,8 juta,” jelas warga Desa Kaliwungu, Kudus tersebut.
Untuk mengatasi tingginya kasus stunting, Puskesmas bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) membuat program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsyat). Program tersebut diadakan untuk memberikan penyuluhan kepada para ibu agar memberikan gizi yang seimbang terhadap para balitanya.
Dari program tersebut sudah menghasilkan dua produk yaitu Busiti (bubur sehat tinggi protein hewani) dan Bujaik (bubur jagung ikan) yang juga sudah dijual di area Kedung sendiri. Harapannya agar balita tidak hanya diberikan bubur yang tinggi karbohidrat saja tetapi mendapat bubur yang tinggi protein hewani.
Editor: Ahmad Muhlisin

