Tata Ruang Kota Solo Ternyata Jadi Salah Satu Penyebab Banjir

BETANEWS.ID, SUKOHARJO – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo mengeluarkan hasil kajian penyebab banjir yang menggenangi 17 kelurahan di Solo, pekan lalu. Dalam kajian itu, salah satu penyebab banjir adalah masifnya pembangunan yang mengubah tata ruang kota.

Kepala BBWS BS, Maryadi Utama, memaparkan, penyebab banjir pekan lalu karena banyak perubahan tata guna lahan, climate change (perubahan iklim), dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan seperti, membuang sampah sembarangan.

Jumpa pers penanganan banjir di Kantor BBWS BS, Pabelan, Sukoharjo, Senin (20/2/2023). Foto: Khalim Mahfur

“Selain itu banyak petani kita yang menanam tanaman semusim sehingga menyababkan erosi, yang jadi pendangkalan sungai kita. Selain karena hujan,” kata Maryadi dalam jumpa pers di Kantor BBWS BS, Pabelan, Sukoharjo, Senin (20/2/2023).

-Advertisement-

Baca juga: Ketua Komisi III DPRD Solo Sebut Ada Potensi Banjir Lebih Besar di Solo

Tata ruang ini memang jadi catatan khusus karena menyebabkan terus berkurangnya resapan air hujan di Kota Solo. Hal itu mengakibatkan air yang harusnya masuk ke tanah, beralih menjadi aliran permukaan.

“Untuk mengatasi ini, kami sebenarnya sudah membangun skema pengendalian banjir di Sungai Bengawan Solo. Seperti di antaranya di WGM, Waduk Pidekso, dan ke depannya akan melanjutkan pembangunan bendungan berikutnya,” tambah dia.

PLH PJT Perum Jasa Tirta 1, Miflan Rantawi, memaparkan, pada saat itu, pintu air WGM terpaksa harus dibuka lantaran tingginya volume air. Akibat hujan deras yang terjadi di wilayah Wonogiri pada 13 hingga 17 Februari membuat 176 meter kubik air masuk ke WGM.

“Yang kita keluarkan 51 juta meter kubik. Kalau dilepas 20 juta meter kubik, efeknya di bendungan akan lebih besar. Kalau 100 juta meter kubik kita lepas, hitungan kami dihilirnya ceritanya akan lebih ramai lagi. Yang tadinya genangannya 20 sentimeter bisa jadi setengah meter. Sehingga kita cari yang paling optimal,” papar dia.

Baca juga: Pemerintah Optimis Indonesia Tak Akan Alami Resesi di 2023, Rhenald Kasali: ‘Jangan Jemawa’

Menurutnya, pada waktu itu elevasi tinggi muka air bendungan WGM sudah mencapai 137 pada 16 Februari dengan volume air tampung sekira 425,3 juta meter kubik. Dengan angka tersebut, Miflan menerangkan bahwa sudah mendekati siaga merah sehingga sebanyak 99 juta meter kubik harus dikeluarkan dari WGM.

Lebih lanjut, ketika membuka pintu air Bendungan WGM,  Miflan mengatakan bahwa pihaknya berkoordinasi dengan BBWS, dan memberitau BPBD wilayah yang dilalui Sungai Bengawam Solo. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah.

“Bendungan Waduk Gajah Mungkur ini dibangun untuk pengendalian banjir, sekaligus untuk irigasi, sekaligus untuk ketahanan air PDAM, sekaligus untuk pembangkit listrik. Dalam rangka itu kami melakukan penyeimbangan, bagaimana air bisa optimal, tetapi tidak merusak,” kata Miflan.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER