BETANEWS.ID, KUDUS – Tes seleksi pengisian perangkat desa menyimpan banyak kejanggalan terutama yang bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad). Dengan berbagai temuan itu, sudah ada puluhan peserta yang melakukan sanggahan ke panitia di masing-masing desa penyelenggara. Salah satunya adalah peserta dari Desa Kaliwungu, Heri.
Heri mengungkapkan, sampai saat ini baru ada tiga orang peserta yang berani melakukan sanggahan ke panitia desa. Saat ini surat sanggah dari ketiga peserta termasuk dirinya sudah diberikan kepada panitia desa.
“Sementara ditampung oleh panitia desa dan akan disampaikan ke pihak ketiga selaku penyelenggara,” beber dia melalui pesan singkat Whatsapp, Sabtu (18/2/2023) sore.
Baca juga: Tak Puas dengan Hasil Tes, Puluhan Peserta Seleksi Perangkat Desa Kesambi Lakukan Sanggah
Dia menempuh jalur itu lantaran menemukan banyak kejanggalan saat mengikuti tes seleksi. Hal itu diduga mempengaruhi penilaian yang akhirnya membuat dirinya gagal terpilih.
“Ada beberapa poin keberatan karena pelaksanaan tidak sesuai petunjuk teknis atau tidak sesuai aturan Perbup dan perjanjian kerja sama antara panitia desa dan pihak ketiga,” bebernya.
Baca juga: Istrinya Gagal jadi Perangkat Desa Gegara Nilai Tes Berubah Hingga Tiga Kali, Huda Lakukan Sanggah
Adapun poin keberatan atau kejanggalan yang disampaikan itu di antaranya, penilaian tes tidak real time meski menggunakan metode CAT, tidak adanya fasilitas tampilan layar secara real time, jeda waktu munculnya nilai, nilai berubah dua kali, dan peserta yang tidak hadir muncul nilainya.
“Pada intinya kami merasa dirugikan dengan penyelengaraan tes seleksi ini,” terang pria yang daftar formasi Sekretaris Desa (Sekdes) Kaliwungu tersebut.
Ia menjelaskan, Desa Kaliwungu yang hanya membuka formasi Sekdes itu diikuti 35 orang. 29 orang lolos administrasi dan kemudian yang mengikuti tes ada 28 orang.
Editor: Ahmad Muhlisin

