BETANEWS.ID, SOLO – Isak tangis mewarnai pemakaman istri penyair dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Widji Widodo atau Wiji Thukul, Dyah Sujirah atau Sipon. Jenazah dimakamkan di TPU Puroloyo, Pucangsawit, Solo, Jumat (6/1/2023).
Kepergian Sipon membuat banyak orang merasa kehilangan. Itu Dibuktikan dengan banyaknya sahabat yang tergabung dari berbagai organisasai dan komunitas yang mengantarkan istri penyair itu ke tempat peristirahatan terkhirnya.
Anggota keluarga Sipon dan Wiji tak tahan membendung air mata yang terus saja mnegalir. Seperti kedua anak mereka, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, termasuk juga adik Wiji, Wahyu Susilo.
Baca juga: Sipon, Istri Aktivis HAM Wiji Thukul Meninggal Dunia
Sebagai bentuk kasih sayangnya terhadap kakak ipar, Wahyu membacakan sebuah puisi yang berjudul ‘Jangan Lupa Kekasihku’. Puisi tersebut merupakan karya dari Wiji Thukul yang dipersembahkan ketika meminang Sipon kala itu. Menurut Wahyu, puisi tersebut merupakan salah satu karya yang bersejarah bagi mendiang sang kakak.
“Karena puisi ini lah yang kemudian mentautkan Mbak Sipon dan Tukul hingga membentuk keluarga. Mereka adalah orang-orang yang tak berpunya, mereka anak supir becak, mereka buruh, mereka orang yang mungkin setiap hari dihantui oleh banjir,” ujarnya.
Menurut Wahyu, puisi tersebut merupakan sebuah refleksi dari kisah yang dilalui oleh Wiji Thukul dan Sipon. Seperti pada puisi tersebut, terdapat bait yang menceritakan kondisi mereka saat keadaan banjir.
Baca juga: Catatan Akhir Tahun LBH Semarang Didominasi Kasus Pelanggaran HAM Isu Lingkungan, Terbanyak di Kudus
“Saya kira itu refleksi sehari-hari saja. Kalau tadi di kampung dulu ya tiap banjir, musim penghujan ini dan lingkungan sekelilingnya juga lingkungan orang orang yang bersahaja jadi itu lingkungan refleksi Mas Thukul mengingatkan bahwa kita dari kelompok ini dan dari sini lah cinta ini bertumbuh,” tuturnya.
Adapun puisi dengan tajuk ‘Jangan Lupa, Kekasihku’ adalah sebagai berikut:
Jangan lupa, kekasihku
Jangan lupa, kekasihku
Jika terang bulan kita jalan-jalan
Yang tidur di depan rumah, di pinggir selokan itu tetangga kita, kekasihku
Jangan lupa, kekasihku
Jika pukul 5.00, buruh-buruh perempuan yang matanya letih
Jalan sama-sama denganmu, berbondong-bondong itu kawan-kawanmu, kekasihku
Jangan lupa, kekasihku
Jika kau ditanya siapa mertuamu, jawablah yang menarik becak itu, itu bapakmu, itu bapakku, kekasihku
Jangan lupa, kekasihku,
Pada siapapun yang bertanya, sebutkkan namamu
Jangan malu, itu namamu, kekasihku
Kalangan, 14 Maret 1988.
Editor: Ahmad Muhlisin

