31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Disbudpar Semarang Minta Penjual Kuliner Tak Mark-up Harga Saat Nataru, Khususnya di Simpang Lima

BETANEWS.ID, SEMARANG – Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Wing Wiyarso berpesan kepada seluruh pengelola kuliner di Kota Semarang agar tidak melakukan mark-up harga. Menurutnya, selama ini banyak wisatawan yang mengeluh dengan kenaikan gila-gilaan saat hari-hari besar, seperti Lebaran dan Nataru.

“Kami sudah menerima beberapa pengaduan terkait mark-up harga makanan. Khawatirnya, permasalahan ini terjadi lagi di Kota Semarang. Jangan sampai istilah para wisatawan datang ke Semarang menjadi korban mark-up harga, “ujar Wing Wiyarso kepada wartawan, Rabu (21/12/2022).

Dari berbagai pusat kuliner di Semarang, pihaknya menyoroti para penjual di di Kawasan Simpang Lima karena beberapa kali ada laporan terjadi mark-up harga.

-Advertisement-

Baca juga: Pastikan Harga Bahan Pokok Aman saat Nataru, Ganjar Intruksikan Seluruh Daerah Gelar Operasi Pasar

“Jangan terpancing mengikuti hal serupa ketika ada wisatawan. Berikan harga yang wajar dan normal. Jika naik pun jangan kebangetan,” ungkapnya.

Wing menegaskan akan menindaklanjuti untuk memberikan sosialisasi, hingga pembinaan ketika ada yang melanggar.

“Pengadu itu kita hubungi minta buktinya, yang bersangkutan tidak diberikan nota. Nah, ini salah satu kelemahannya para pengunjung ketika membayar itu harus meminta hak mendapatkan nota. Jadi mengerti apa yang dibayar,” imbuhnya.

Makanya, ia mengingatkan kepada pengelola resto, kafe, maupun PKL agar bisa transparan dengan memberikan daftar harga menu.

“Jadi daftar menu ataupun nanti di spanduk MMT yang mereka sampaikan ada daftar harganya. Sehingga, para pengunjung tidak merasa dibohongi ketika harus bayar mahal,” jelasnya.

Baca juga: Pantauan Jelang Nataru, Ita: ‘Stok dan Harga Bahan Pokok Aman’

“Jadi saya ingatkan kepada  teman- teman wisatawan yang datang ke Semarang, kalau ada hal-hal seumpama datang ke kafe, resto yang tidak ada harganya, tolong ditegur para pengelolanya. Sampaikan kepada kami agar bisa mengingatkan kepada pengelola, ” tuturnya.

Menurutnya, jika sudah tahu harga dari awal, wisatawan yang masuk dan mengetahui mahal bakal tidak menjadi masalah. Sebaliknya, jika tidak ada daftar harga di menu akan ada yang berpikiran para pedagang memanfaatkan momen liburan untuk menaikkan harga seenaknya sendiri.

“Kalau sudah tahu dari awal mahal, dia masuk ke situ ya salah wisatawan sendiri sudah tahu menunya mahal, tidak ada harganya, kok pengunjung masuk,” ucapnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER