31 C
Kudus
Jumat, Februari 13, 2026

Tempat Produksi Dibangun Rumah, Mantan Pengusaha Genting Ini Tak Canggung Jadi Kuli Lagi

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Di dalam bangunan di Dukuh Ngetuk, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, tampak ribuan hasil cetakan genting yang tersusun rapi di rak kayu. Di antara samping rak tersebut terlihat seorang pria berkaus lengan pendek sedang mencetak genting menggunakan alat pres. Pria tersebut bernama Misran (66), perajin genting yang tak canggung kerja jadi kuli lagi, meski dulu pernah merasakan menjadi juragan.

Tempat produksi genting di Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus 2017_4_5
Tempat produksi genting di Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mencetak genting, Misran sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, tentang pekerjaannya membuat genting. Dia mengungkapkan, sebelum menjadi kuli lagi membuat genting, selama 22 tahun memiliki usaha sendiri pembuatan genting. Namun usahanya tersebut berhenti sejak pekarangan yang dibuat untuk produksi, dibangun rumah untuk anaknya.

-Advertisement-

“Pekarangan yang aku buat produksi genting itu masih satu wilayah dengan rumahku. Karena anakku ingin punya rumah, sebagai orang tua aku hanya mampu mengiyakan, karena aku juga tidak ingin mengecewakannya,” ungkapnya saat di temui, belum lama ini.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu mengatakan, saat itu dirinya sudah mampu produksi genting yang hasilnya terbilang bagus. Saat itu dia juga sudah memiliki tiga pekerja pencetak genting. Setelah usahanya tutup, sejak lima tahun lalu dirinya terpaksa menjadi kuli lagi membuat genting dengan sistem bagi hasil. Setiap 1.000 genting yang dia buat, hasilnya menjadi hak pemilik pekarangan dan alat pres.

“Tapi penyetorannya berupa uang dan berdasarkan harga pasaran. Misal saat ini harga genting rata-rata Rp 130 untuk setiap genting yang terjual, hasil penjualannya berarti Rp 130 ribu. Setiap kali produksi, aku mampu membuat 10 ribu genting. Itu berarti aku setor ke pemilik tanah sekitar Rp 1,3 juta,” ungkap Misran yang kerjabersama lebih dari lima orang.

Warga Ngetuk, Ngembalrejo, Bae, Kudus itu mengatakan, sehari dirinya mampu mencetak genting sekitar 300 pcs saat musim hujan. Dalam sebulan dirinya mampu membakar genting sekali saja. Sedangkan musim kemarau dirinya mengaku mampu membakar genting dua kali, dengan jumlah 15 ribu genting. Untuk bahan genting dia membeli tanah liat dari daerah Jepara dengan harga Rp 280 ribu tiap satu truk yang bisa dijadikan 2.000 genteng.

“Berbeda dengan musim hujan, meski harga sama, tanah yang dikirim saat kemarau bisa diproses menjadi 3000 genteng. Menurut si pengirim saat kemarau bisa membawa lebih banyak karena jalannya tidak ambles,” kata Misran.

Dia menambahkan, untuk pembakaran genting dirinya menggunakan daun tebu kering. Untuk membakar 10 ribu genting basah, dirinya menghabiskan sekitar 100 hingga 200 ikat daun tebu yang dibeli dengan harga Rp 10 ribu per ikat. Menurutnya, membuat genteng dengan sistemnya tersebut keuntungannya mepet saat musim hujan.

“Sebenarnya tetap masih enak punya usaha sendiri, hasilnya juga tidak usah dibagi lagi. Namun semua sudah terlanjur, semua anakku juga sudah berkeluarga dan sudah bekerja. Kini aku bekerja membuat genting hanya untuk mengisi hari tua dan hasilnya untuk makan aku dan istriku. kalau ada sisa ya bisa buat memberi uang saku cucu,” kata Misran yang memiliki 11 cucu itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER