BETANEWS.ID, KUDUS – Outlet penjualan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamina Shop (Pertashop) yang ada di tepi Jalan R Agil Kusumadya, Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati Kudus tampak sepi pembeli. Petugasnya pun tampak bersantai sembari memainkan gawainya untuk mengusir jenuh. Sekitar selang 30 menit, baru ada pengendara motor yang datang untuk membeli Pertamax.
“Sejak harga Pertamax naik jadi Rp 14.500, pembeli turun drastis. Penurunan penjualan sekitar 50 persen,” ujar penjaga Pertashop Saniul Hisol kepada Betanews.id, Kamis (15/9/2022).
Pria yang akrab disapa Hisol mengatakan, ketika harga Pertamax Rp 12.500, dalam sehari Pertashop yang dijaganya mampu menjual Pertamax sekitar 500 liter. Terdiri dari pembeli sepeda motor dan pembeli jeriken.

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Warga Kudus Berbondong-bondong Pindah Pertalite
“Namun, sejak harganya naik jadi Rp 14.500, penjualan Pertamax hanya sekitar 200 liter. Itu sudah termasuk pembeli motor dan jeriken,” beber Hisol.
Pemandangan sepi pembeli pun terpampang di Pertashop Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus. Menurut penjaganya, yakni Abdullah Afif, sejak harga Pertamax naik, pelanggan Pertashop itu turun drastis. Penjualan Pertamax turun lebih dari 50 persen.
“Dampak harga Pertamax naik pembeli jadi sepi dan penjualan turun drsatis. Penjualan Pertamax di Pertashop ini turun lebih dari 50 persen,” ujar Afif.
Afif mengatakan, sebelum ada kenaikan harga, ia masih menjual sekitar 500 hingga 600 liter setiap harinya. Namun, sejak harganya naik, ia pun hanya mampu menjual Pertamax kurang dari 200 liter.
“Mungkin para pelanggan beralih ke Pertalite. Sedangkan Pertashop kan tidak menjual BBM bersubsidi,” jelasnya.
Afif mengira, seandainya kenaikan harga BBM beberapa pekan lalu hanya terjadi pada BBM bersubsidi saja, kemungkinan Pertashop tak terkena dampaknya. Sebab selisih harga antara Pertalite dan Pertamax tak terlalu banyak.
“Tadinya harga Pertamax Rp 12.500, sedangkan harga Pertalite naik jadi Rp 10 ribu. Jika harga Pertamax tidak naik, pasti masyarakat banyak yang memilih beralih ke Pertamax, minimal penjualan tetap. Karena harga Pertamax juga ikut naik, pembelinya turun drastis,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu pembeli Pertamax yakni Doovan Aldianto mengatakan, dengan naiknya harga Pertamax ini, jelas berpengaruh pada operasional warga, termasuk dirinya. Sebab, untuk sebuah bahan bakar ia harus merogoh kocek lebih dalam.
“Ya sebenarnya agak memberatkan. Namun, karena butuh jadi harus membelinya. Sebab motor saya ini kan harus menggunakan Pertamax,” ujarnya.
Dia menuturkan, bahwa keberadaan Pertashop ini bagus dan sangat membantu. Pasalnya warga yang BBMnya terurama jenis Pertamax akan habis tidak perlu ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk antre atau jauh dari tempat tinggal.
Baca juga: Ganjar Akan Perjuangkan Kemudahan Distribusi Solar untuk Petani yang Dibatasi Sejak Harga BBM Naik
“Sangat membantu, apalagi yang rumahnya jauh dari SPBU. Selain itu di Pertashop kan bisa menghindari antrean,” ucapnya.
Pertashop sendiri adalah outlet penjualan Pertamina berskala tertentu yang dipersiapkan untuk melayani kebutuhan konsumen BBM nonsubsidi, LPG nonsubsidi, dan produk ritel Pertamina lainnya dengan mengutamakan lokasi pelayanannya di desa atau di kota yang membutuhkan pelayanan produk ritel Pertamina.
Editor : Kholistiono

