BETANEWS.ID, SEMARANG – Jumlah Kampung Tematik di Kota Semarang hingga saat ini mencapai 260 kampung. Rinciannya, 30 kampung termasuk dalam kategori bagus dan sisanya masih dikategorikan menengah. Program tersebut, telah berjalan sekitar 7 tahun dari tahun 2016 hingga tahun 2022.
Program Kampung Tematik ini, merupakan salah satu inovasi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam upaya mengentaskan kemiskinan melalui peningkatan potensi ekonomi lokal.
Slamet Budi Utomo Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Kebudayaan Bappeda Semarang mengatakan, bahwa program tersebut terbilang cukup sukses. Ia mengaku, jumlah Kampung Tematik yang berhasil meningkat menjadi destinasi wisata selalu bertambah setiap tahunnya.
Baca juga: Kampung Jawi Semarang Raih Penghargaan Trisakti Tourism Award 2021
“Program ini bisa dikatakan berhasil ya, seperti kemarin itu ada 10 yang kita angkat untuk bisa naik, artinya itu lebih ke destinasi wisata. Tahun ini kita dorong lagi 10, 10 kemarin, terus 10 ini nanti, terus tahun besok kami berharap 10 lagi. Itu kita endorse terus, kalau misalnya nanti kok bisa lebih dari 10, ya kita seneng,” ujar Slamet, saat ditemui di Kantor Bappeda Kota Semarang.
Sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kesuksesan Kampung Tematik, Bappeda Kota Semarang menggelontorkan dana sejumlah Rp 200 juta ke masing-masing Kampung Tematik. Bappeda berharap, peningkatan jumlah Kampung Tematik yang berhasil bertranformasi menjadi destinasi wisata bisa konsisten setiap tahun.
“Kunci kesuksesan Kampung Tematik itu justru dari SDM. Karena SDM di situ harus ada kelompoknya, penggiatnya, pengelolanya, dan mereka-mereka yang penggiat di situ. Harus mampu merangkul kiri kanannya yang rajin komunikasi, menjaga jejaring, justru di SDM. Kunci yang lain tentu yang namanya modal, sumber daya alamnya, sumber daya budayanya, itu harus ada dulu. Tapi kunci utamanya justru ada di SDM. Dengan SDM yang kuat, tercipta itu,” terangnya.
Di sisi lain, Luwijanto, Penggerak Kampung Djadhoel yang merupakan salah satu Kampung Tematik Kota Semarang berlokasi di Kampung Batik Tengah RT 04 RW II Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur mengatakan, dengan adanya keberhasilan adanya Program Kampung Tematik ini.
Luwijanto bercerita, sebelum dikelola menjadi Kampung Batik Djadoel, dahulunya kawasan tersebut merupakan kawasan pemukiman kumuh dan rawan banjir. Kemudian, pada 18 Desember 2016, masyarakat mulai berbenah dan bertekad untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan mengoptimalkan potensi yang ada di sekitar.
Adapun 3 kunci keberhasilan yang dipegang teguh oleh masyarakat Kampung Batik Djadoel, yakni Kepedulian, Perubahan, dan Kebersamaan (KPK).
“Kunci kesuksesan untuk memajukan suatu kampung itu dengan adanya dalang atau konseptor, dukungan dari elemen masyarakat dan dana. Tapi dana sendiri tidak menjadi hal yang utama, justru rasa kebersamaan dan saling memiliki yang harus dimiliki oleh masing-masing individu,” akunya.
Baca juga: Kampung Jamu Wonolopo Wakili Semarang dalam Kompetisi Desa Wisata Nasional
Tidak hanya menjadi ikon pusat batik di Kota Semarang, Kampung Batik Djadoel juga menjadi ikon toleransi di Kota Semarang. Masyarakat Kampung Batik Djadoel juga menyambut baik kepada seluruh tamu yang datang di kampung tersebut, bahkan siap menjadi wadah bagi siapaun yang ingin belajar tentang batik kapanpun.
“Di sini itu tidak pandang bulu etnisnya apa, agamamu apa, ndak urusan, yang penting sini adalah warg, ini warga Indonesia, ini saudara. Karena saudara terdekat kita adalah tetangga. Tapi kita juga tidak menutup kalau ada tamu yang datang, akan kami sambut dengan baik,” tutupnya.
Editor: Kholistiono

