Kisah Pengamen Angklung di Magelang yang Bertahan Hidup dengan Musik

BETANEWS.ID, MAGELANG – Alunan musik dari angklung yang berpadu dengan ketipung terus menghibur pengguna jalan di Pertigaan Semen, Magelang. Dari beberapa pengendara itu, ada yang merogoh kocek untuk dimasukkan ke wadah sumbangan, tapi ada juga yang melewatkannya.

Sehari-hari, pemusik jalanan itu memang biasa mangkal di Jalan Lintas Yogyakarta-Semarang itu. Dengan peralatan musik lengkap, mereka terus menghibur pengguna jalan hampir sepanjang hari.

Pemain angklung Rian Kurniawan menjelaskan, musik angklung jalanan biasa juga disebut calung. Selain angklung, alat musik yang digunakan mengamen Rian dan kawan-kawan adalah set ketipung dan bas beduk.

-Advertisement-

Baca juga: Mengenal Kesenian Topeng Kawedar, Tarian Khas dari Desa Tuksongo Magelang

“Set ketipung namanya tripok dan beduk bas dari drum,” ujar Rian, Kamis (30/6/2022).

Ia mengaku, sudah lima tahun menekuni dunia permusikan tradisional angklung. Pada awalnya, Ia belajar angklung dari temannya. Dari situ, ia ikut belajar bermain angklung.

“Belajar agklung sudah lima tahun, tapi mengamen di pertigaan semen, baru tiga tahun. Musik tradisioal angklung asalnya dari Purwokerto, tapi ini orang-orang sini semua, orang Magelang,” jelas Rian.

Baca juga: Kerajinan Pahat Batu Muntilan Pikat Pasar Eropa, Rodin: ‘Dulu Setiap Tahun Minimal Kirim Satu Kontainer’

Tiga tahun lamanya menjadi pengamen jalanan, tentu banyak suka dan duka yang dialami. Rian mengaku suka dukanya tak beda dengan pengamen lainnya. Untuk penghasilan pun tak bisa dipastikan.

“Sehari tergantung kendaraanya. Kalau weekend atau liburan kadang-kadang sampai Rp100 ribuan,” tandas Rian.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER