BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan mengenakan hijab terlihat sibuk di ruang tamu rumah RT 11 RW 2, Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Ia terlihat terampil merangkai kain sisa menjadi taplak meja yang cantik. Perempuan tersebut yakni Dewi Murniasih (50) owner dari Faza Craft.
Di sela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Dewi itu menjelaskan beberapa produk yang ia buat dari kain perca. Produk itu seperti mukena, sajadah anak, ikat rambut, dompet, sarung bantal dan guling, cempal, korden, dan taplak meja. Harganya pun bervariasi mulai dari Rp5 ribu untuk ikat rambut dan yang termahal itu Rp200 ribu untuk taplak meja.
“Harga tergantung lama dan kerumitan pembuatan, serta banyaknya bahan yang digunakan. Contoh taplak dan korden proses pembutaannya butuh waktu sepekan,” jelasnya, Rabu (27/4/2022).
Baca juga: Peci Beludru dari Limbah Garmen Buatan Nunung yang Lagi Digandrungi Banyak Orang
Dia mengatakan, selama ini untuk memasarkan produk faza Craft selain menggunakan media sosial Facebook dan Instagram, juga dari mulut ke mulut. Sedangkan untuk pemesanan via WhatsApp di nomor 0813 1102 3971.
“Dalam sebulan, saya mampu menjual antara 100 sampai 200 kerajinan dari limbah kain perca. Peminatnya, selain orang Kudus juga ada dari lain daerah, seperti Semarang, Ungaran, Solo, Jakarta, Kalimantan dan Riau,” rincinya.
Ia menjelaskan, awal merintis usaha tersebut karena dia banyak menganggur di rumah. Dari situ, ia mengikuti pelatihan menjahit di Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus.
“Kebetulan tetanggaku banyak yang punya usaha konveksi dan banyak limbah kain yang dibuang. Dari pada dibuang begitu saja, saya pun meminta limbah kain tersebut untuk mengasah kemampuan menjahit,” bebernya.
Baca juga: Ide Kreatif Yanti Manfaatkan Limbah Kulit Nanas jadi Sirop Kini Datangkan Banyak Cuan
Dari limbah kain perca tersebut, lanjut Dewi, dirangkainya menjadi mukena dan sajadah anak-anak yang lucu. Kemudian, ia pun iseng untuk mempostingnya di Facebook.
“Ternyata banyak yang berminat. Terutama teman dari luar daerah. Saat itu ada teman dari Jakarta, Bandung dan Jakarta yang memesannya, dan akhirnya berlanjut hingga sekarang,” pungkas ibu tiga anak tersebut.
Editor: Ahmad Muhlisin

