31 C
Kudus
Jumat, Februari 13, 2026

Ricky Berteriak Saat Melihat Jarum Suntik, Setelah Darah Mengalir Dia Justru Merasa Geli

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO –  Suara teriakan terdengar dari ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bae, Kudus, Rabu (8/3/2017), pagi. Di dalam ruangan sejumlah siswa terbaring di atas rangjang. Suara teriakan itu datang dari seorang siswa yang akan ditransfusi dalam kegiatan donor darah. Setelah jarum suntik masuk ke pembuluh darahnya, siswa itu berhenti berteriak. Dia adalah Muhammad Ricky (17), mengaku takut dan berteriak karena melihat jarum transfusi yang berukuran besar.

Donor darah SMA 1 Bae Kudus 2017_3_9
Donor darah SMA 1 Bae Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Ricky, begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalaman pertamanya melakukan donor darah. Meski sempat takut melihat jarum yang besar, dia tidak merasakan sakit. Ricky justru merasa geli setelah jarum menusuk pembuluh darahnya.

-Advertisement-

“Ini pengalaman pertama saya, karena penasaran jadi saya ikut donor darah. Awalnya tadi takut melihat jarum yang besar, ternyata malah geli. Badan saya menjadi terasa lebih ringan, meski sedikit lemas tapi saya senang sudah pernah donor darah,” terang warga Desa Kaliputu, Kota Kudus itu.

Meski tidak sakit, Ricky mengaku belum ingin donor lagi. Dia cukup tau saja rasanya donor darah untuk memenuhi rasa penasarannya itu. Menurutnya, berat badannya menjadi turun seusai donor darah, karena tubuhnya menjadi terasa lebih ringan.

Di dekat tempat siswa berbaring, nampak seorang perempuan berbaju batik biru dengan jilbab biru sedang mengamati proses donor darah. Dia tak lain adalah Munadhiroh (30), guru pelajaran Biologi SMA 1 Bae Kudus. Dia Mengungkapkan, sebelum kegiatan ada sosialisasi selama satu pekan kepada siswanya.

“Selain melakukan sosialisasi, guru Biologi juga menjelaskan manfaat donor darah untuk kesehatan saat mata pelajaran. Ini kami lakukan agar siswa antusias untuk mendonorkan darah. Ini menjadi kegiatan rutin kami, sekitar tiga hingga enam bulan sekali,” jelas warga Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu itu.

Dia menjelaskan, kegiatan donor darah yang dimulai pukul 8.00 WIB hingga 12.00 WIB itu hanya ditujukan pada siswa kelas XII. Ketentuan ini diberlakukan, karena ada syarat untuk donor darah minimal berusia 17 tahun. Munadhiroh juga merasa senang karena antusiasme siswa cukup tinggi. Setiap kegiatan donor darah di SMA 1 Bae, ada sekitar kurang lebih 50 hingga 60 siswa yang berminat untuk mendonorkan darah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER