BETANEWS.ID, SOLO – Di sebuah rumah yang berada di Jalan Parangkusumo Gentan Baki No 19a, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, beberapa orang terlihat sedang membuat batik. Sesekali, mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.
Meski tampak sunyi, tapi aktivitas produksi membatik di sana terlihat sama seperti lain. Ada yang sedang menggoreskan malam di kain putih, ada juga yang kebagian mewarnai, hingga pengemasan.

Di tempat bernama Batik Toeli Laweyan itu, semua pekerjanya memang tuli. Hal itulah yang menurut sang pemilik, Muhammad Taufan Wicaksono (28), menjadi insipirasi untuk menamai brandnya dengan memakai kata toeli.
Baca juga: Batik Toeli Laweyan Solo Ciptakan Motif MotoGP Mandalika
Taufan menceritakan, usaha yang dirintis 2019 lalu itu bermula dari ide temannya yang bernama Dian untuk menyediakan pekerjaan bagi penyandang tuli. Karena sesama tuli, Dian punya akses ke banyak temannya yang punya kekurangan serupa.
“Waktu itu, kami rundingan dengan pemilik Batik Mahkota, bahwasanya kita ingin mengembangkan atau memberdayakan orang-orang disabilitas tuna rungu itu,” papar Taufan, Kamis (10/3/2022).
“Setelah kita pikir bersama, awal 2020, bulan Maret kalau nggak salah, kita mendirikan Batik Toeli Laweyan ini,” kata dia.
Saat ini, Taufan mengembangkan Batik Toeli bersama tiga orang rekannya yang merupakan penyandang tuna rungu. Bahkan, dengan mereka, Taufan bisa mencitakan batik dengan motif yang terinspirasi dari Sirkuit Moto GP di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Baca juga: Kerennya Kerajinan Ukir Kayu Buatan Disabilitas Kudus yang Sudah Kirim Hingga Batam
Karena bekerja dengan penyandang tuli, dirinya selama ini mengalami kesulitan dalam hal komunikasi yang mengharuskan pakai bahasa isyarat. Namun, perlahan-lahan kendala itu sudah bisa teratasi.
“Kalau kesulitan ya paling nanti pas membuat motif awalnya ya, tapi untuk dalam tahap membatik pewarnaan nanti, kita sudah mahir dalam proses terebut,” ujarnya.
Untuk pennjualan, Taufan mengatakan bahwa saat ini hasil produksinya dijual secara online dan juga dijual di outlet Batik Mahkota.
“Karena kan Batik Toeli ini kan anak perusahaan dari Batik Mahkota,” ucapnya.
Taufan mengatakan, saat ini penjualann Batik Toeli masih stagnan. Jika dikalkulasikan dengan sebelum pandemi, menurutnya sangat jauh berbeda.
“Rata-rata dulu bisa sampai Rp5 jutaan ya, sekarang paling Rp1 jutaan (per bulan),” tansdas dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

