Sejarah Pura Tanah Lot di Bali, Tercipta dari Ilmu Spiritual Resi Sakti dari Jawa

BETANEWS.ID, KUDUS – Pesona keindahan Pulau Dewata Bali selalu memikat khalayak Dunia. Tak hanya Keindahan alam, Bali juga menawarkan keindahan arsitektur serta keunikan budaya. Satu di antaranya adalah Pura Tanah Lot. Konon, Pura agung di Tanah Lot tersebut dibangun oleh seorang Maharesi suci dari Pulau Jawa yang ingin menyebarkan agama Hindu di Pulau Bali.

Hai traveler, perjalanan kali ini adalah menuju ke salah satu ikon wisata di Bali yakni Tanah Lot. Di perjalanan di dalam bus, Tour guide dari Bintang Bali yakni Nanang Nawawi bercerita tentang sejarah Tanah Lot. Menurutnya, Tanah Lot berarti tanah yang berada di tengah laut, yang sekarang bisa dilihat di atasnya terdapat Pura Agung.

Baca juga : Berkunjung ke Tanah Lot, Satu di antara Ikon Destinasi Wisata di Bali yang Mempesona

-Advertisement-

“Tanah Lot ini berada di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Letaknya berada di sebelah barat 13 kilometer dari pusat kota,” ujar pria yang akrab disapa Bli Nawawi kepada Betanews.id, beberapa hari yang lalu.

Asal usul adanya Pura Tanah Lot, lanjut Nawawi, dikisahkan pada zaman dulu ada seorang Maharesi dari Pulau Jawa bernama Bhagawan Dang Hyang Niratha yang datang ke Bali untuk menyebarkan agama Hindu. Di Pulau Dewata, Sang Resi memilih Desa Beraban untuk dijadikannya pusat berdakwah.

“Namun, pada saat itu Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti yang menentang ajaran dari Dang Hyang Niratha dalam menyebarkan agama Hindu. Sebab Sang Bendesa menganut monotheisme,” bebernya.

Menurutnya, Bendesa Beraban Sakti dengan berbagai cara untuk mengusir keberadaan Dang Hyang Niratha dari Beraban. Namun, Dang Hyang Niratha yang saat itu meditasi di batu karang dengan kekuatan spiritualnya memindah batu karang ke tengah pantai.

Baca juga : Menikmati Senja di GWK Sembari Menyaksikan Joget Bumbung, Tari Pergaulan Masyarakat Bali

“Tak hanya itu, untuk melindungi keberadaannya, Dang Hyang Niratha melempar selendangnya dan menjadi ular berbisa. Keberadaan ular berbisa itu hingga sekarang masih ada,” ungkapnya.

Setelah peristiwa tersebut, konon, seluruh warga Desa Beraban termasuk Bendesa Beraban Sakti menjadi pengikut Dang Hyang Niratha dan memeluk agama Hindu. Kini di tempat meditasi Dang Hyang Niratha merupakan Pura Agung yang dianggap suci oleh umat Hindu di Bali.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER