BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan rintik-rintik mengguyur Kudus sejak pagi. Di bawah guyuran hujan yang tak begitu deras, di tepi Jalan Kiai Mojo, tampak Ismail penjual gorengan yang tak sepi oleh pembeli. Meski bajunya agak basah karena terkena tampias air hujan, tapi wajahnya terlihat semringah melayani pelanggan. Bagi Ismail (39), hujan adalah berkah, karena gorengannya laris manis.
Sembari melayani pelanggan, Ismail pun sudi berbagi penjelasan tentang pendapatnya. Dia mengatakan, bahwa kata-kata hujan adalah berkah itu memang benar. Sebab setiap musim hujan, penjualan gorengannya naik.
Baca juga : Supaya Dekat Anak, Ismail Rela Tinggalkan Pelanggan di Semarang dan Pilih Jualan Gorengan di Kudus
“Setiap musim hujan, atau saat hujan rintik-rintik begini, gorengan saya laris manis. Penjualan meningkat drastis dibanding musim kemarau,” ujar Ismail kepada Betanews.id, Senin (31/1/2022).
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengatakan, di setiap musim hujan, ia mampu menjual lebih dari 500 gorengan setiap harinya. Namun, di musim kemarau, penjualan gorengannya selalu kurang dari 500 biji.
“Saat musim hujan, apalagi hujan rintik-rintik begini, banyak orang yang beli gorengan sebagai camilan,” beber ayah dua anak tersebut.
Baca juga : Lapak Nasi Kuning di Undaan Ini Ludes Hanya dalam Sejam
Dia menuturkan, menjual aneka gorengan. Di antaranya, mendoan, bakwan, tahu kemul, ubi goreng, singkong goreng, cireng, timus serta tahu isi. Untuk harganya relatif terjangkau, selain tahu isi ia jual dengan harga Rp 600 per biji, sedangkan tahu isi per bijinya dijual Rp 1 ribu.
“Selain harganya yang murah. Gorengan saya itu khas Cirebon, sesuai daerah asal saya. Sehingga gorengan yang saya jual ini lebih kering dan kriuk. Beda dengan gorengan Kudus yang agak basah,” terangnya.
Editor : Kholistiono

