BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak menunggu di sebuah lapak yang menjual dawet. Sedangkan sang penjual dawet, Muhammad Furqon (28) terlihat sibuk menyelesaikan pesanan dari pembeli yang jumlahnya cukup banyak.
Lapak dawet yang berada di depan Masjid Darurrohmah, Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kudus itu, berbeda dengan kuliner dawet pada umumnya. Sebab, dawet yang dijual Furqon yaitu dawet kuno yang memiliki keunikan rasa dan bahan campurannya.

Baca juga : Es Dawet Kliwon Moro Seneng yang Melegenda di Kudus, Sehari Bisa Jual 1.500 Gelas
Menurut Furqon, dawet yang dijualnya tersebut resepnya merupakan warisan turun temurun dari keluarganya. Ia sendiri merupakan generasi ke empat yang berjualan dawet.
“Jadi yang membedakan antara dawet ini dengan yang lain adalah warna dawet di sini berwarna coklat. Kemudian ada bubur cetilnya juga. Alhamdulillah respon masyarakat bagus dan mereka pada cocok dengan rasa dawet ini,” beber Furqon, kepada betanews.id, Kamis (27/1/2022).
Setidaknya, dalam sehari katanya ia bisa menjual sekitar 300 hingga 400 porsi. Ia pun juga menerima pesanan untuk kegiatan hajatan dan lain sebagainya.
Ia menjelaskan, ia menjual dawet kuno tersebut dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp 3 ribu per porsinya.
Usaha yang dimulai sejak adanya pandemi itu, kini sudah memiliki pelanggan tetap. Rasa enak dan harga yang terjangkau, menjadi salah satu alasan pembeli datang ke sana lagi.
Baca juga : Dawet Kemayu Tanpa Santan di Sego Sambel Surabaya Iwak Pe Ini Diklaim Lebih Sehat
Ia menambahkan, awal mula merintis usaha tersebut lantaran terimbas pandemi. Kesehariannya yang jadi fotografer di Menara Kudus, mengubah nasibnya sejak pandemi. Area menara yang sepi pengunjung yang mengakibatkan ia tak mendapatkan uang lagi.
“Ya termasuk terimbas karena pandemi lah mas, karena sejak itu pengunjung dilarang masuk area Menara Kudus. Jadi saya berpikir supaya bisa memenuhi kebutuhan dan kebetulan ayah mertua yang biasanya berjualan dawet ini, menjadi inspirasi saya untuk mempertahankan supaya asap dapur tetap mengepul,” kata warga Desa Singocandi RT 3 RW 1, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu.
Editor : Kholistiono

