BETANEWS.ID, SOLO – Bisnis milik putra Presiden Joko Widodo kembali disorot publik. Kali ini, es doger milik Gibran Rakabuming Raka dicurigai lantaran mendapatkan dana sekitar Rp71 miliar.
Kecurigaan tersebut dilontarkan oleh salah seorang Pakar Teknologi Informasi (IT), Sammy Notasliboy yang ia unggah di akun twitternya, @NATASLIMBOY pada Rabu (12/1/2022). Dalam cuitan itu dia menulis,
“Bisnis ginian yang terhitung baru, dapat suntikan dana 71 M, sepertinya janggal dan orang-orang hanya males masalahin aja. Jadi kalau ada yg gerak laporin KPK, yg gak ujug-ujug juga. Kebanyakan orang, ya males repot,” cuit Sammy.
Cuitan itu juga menampilkan judul artikel berjudul “Bisnis Es Doger Gibran Rakabuming Raka Dapat Suntikan Dana Rp71 M”.
Baca juga: Digoyang Isu Korupsi dan Cuci Uang, Gibran Tak Berniat Laporkan Balik Dosen UNJ
Ketika dikonfirmasi, Gibran mengatakan bahwa hal tersebut meruapakan urusan yang sudah lama. Uang itu digunakan untuk pembukaan cabang.
“La itu kan sudah lama, kok lagi diributkan saiki (sekarang). Apa yang dipermasalahkan? Kalau cari-cari kesalahan untuk alat politik ya gak ada habisnya,” ujar Gibran saat ditemui di Balai Kota Solo, Selasa (18/1/2022).
Kakak dari Kaesang Panngarep itu justru mempertanyakan alasan hal tersebut dinilai janggal. Menurutnya, hal tersebut juga umum dilakukan oleh bisnis-bisnis milik pengusaha lain.
“Yang lain juga bukane kaya gitu to ketoke (kayaknya), itu satu grup karo (sama) Kopi Kenangan kae (itu) lho, podo (sama),” ujarnya.
Baca juga: Dilaporkan ke KPK Terkait KKN-Cuci Uang, Gibran: ‘Salahe Apa, Ya Dibuktikan’
Dirinya menegaskan, dana yang dikucurkan tersebut masuk ke pemasukan perusahaan dan tidak masuk ke peghasilan pribadinya.
Meskipun kucuran dana dari Alpha JWC Ventures tersebut dirasa sudah sangat besar, menurut Gibran, jumlah tersebut masih kalah jika dibandingkan dengan kucuran dana ke bisnis lainnya, salah satunya yang ia sebut adalah Mangkokku.
“Mangkokku bedo meneh. Mangkokku duite luwih gede meneh (uangnya lebih besar lagi). Berapanya, mengko kaget? Lha do kagetan kabeh (nanti kaget? lha kagetan semua),” selorohnya mengakhiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

