BETANEWS.ID, KUDUS – Camilan makaroni goreng selalu identik dengan teksturnya yang renyah serta berbagai tambahan bumbu yang bercitarasa gurih dan pedas. Namun, bagaimana jika makaroni itu dicampur dengan bumbu manis seperti cokelat, vanila, dan keju? Ya, resep inilah yang dipopulerkan Khusnul Khotimah (25) di usaha Makaroni Wahiki miliknya.
Makaroni bercita rasa manis ini rupanya banyak digemari oleh anak-anak. Bahkan, varian ini menjadi yang paling laris diburu pembeli.

“Sengaja saya menghadirkan rasa yang nabrak, makaroni yang gurih dan bubuk manis seperti cokelat, vanila, dan keju manis. Dan rasanya pun malah jadi unik, perpaduan manis gurih,” jelasnya, Sabtu (01/01/2021).
Baca juga: Makaroni Wahiki yang Empuk dan Renyah Ini Banyak Digemari Anak-Anak
Diakuinya, ide bisnis tersebut ia dapatkan saat sedang nganggur usai lulus kuliah 2020 lalu. Usaha itu dirintis di rumahnya yang berada di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
“Dulu awalnya usaha ini saya bangun untuk mengisi waktu luang saya ketika lulus kuliah. Karena ramai, akhirnya saya kembangkan meski sudah bekerja,” ujarnya.
Mengenai inspirasi, Khusnul mendapatkannya dari produk keripik singkong di sosial media yang mempunyai varian rasa cokelat. Kemudian dirinya pun mencoba mengaplikasikan pada makaroninya, dan ternyata rasanya enak. Akhirnya ia pun berani memasarkan secara luas.
“Pas dipasarkan malah banyak yang tertarik dengan rasa cokelatnya, terutama anak-anak,” ceritanya.
Seperti varian rasa pada umumnya, Khusnul pun juga menghadirkan rasa gurih seperti, original, ayam bawang, berbeque, balado, jagung manis, keju manis, keju pedas, dan pedas. Produknya itu ia jual Rp12 ribu saja dengan ukuran 100 gram.
Baca juga: Dari Ketidaksengajaan, Kini Rija Raup Cuan dari Bisnis Mangga Kiojay
“Saya juga menyediakan kemasan kecil dengan harga Rp5 ribu ukuran 80gram,” ucap Khusnul.
Untuk penjualannya, Khusnul mengaku sudah pernah mengirim ke daerah Rembang, Pati, Jepara, dan sekitar Kudus.
“Kalau ramai saya bisa menjual 50-60 kemasan dalam sebulan. Dan untuk proses produksinya saya lakukan 2 sampai 3 kali dalam seminggu,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

