Tutup Tahun, Sekda Sebut Inflasi di Kabupaten Kudus Relatif Aman

BETANEWS.ID, KUDUS – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kudus selama tahun 2021 pada Bulan November 2021 sebanyak 105,79. Laju inflasi di Kabupaten Kudus di tahun 2021 pun fluktuatif, hingga pernah minus 0,10 pada Bulan Juli. Sampai di Bulan November, inflasi Kabupaten Kudus tercatat 0,31 persen.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus Sam’ani Intakoris menyebut, bahwa inflasi yang terjadi ini masih aman. Inflasi Year on Year atau antara tahun 2020 dengan 2021 pun dikatakannya juga aman.

Salah satu penyumbang inflasi ini, menurut Sam’ani berasal dari sektor kesehatan. Di samping juga berasal dari sektor makanan dan minuman, serta rekreasi, olahraga, dan budaya.

-Advertisement-

Baca juga : 5 Komoditas Ini Beri Andil Inflasi di Kudus pada Februari 2021

“Inflasi ini masih aman. Meski sekarang di bulan Desember harga barang pokok agak naik saat Natal dan tahun baru, diakumulasi dari semua masyarakat. Tapi, masih kondisi aman. Artinya daya beli masyarakat masih mampu untuk membeli,” kata Sam’ani, Kamis (30/12/2021).

Apalagi, di akhir tahun ini, banyak warga Kudus yang menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk buruh rokok yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Hal itu, membuat transaksi jual beli di pasar atau pusat perbelanjaan lainnya semakin meningkat dan harga barang mulai dinaikkan. Seperti yang terjadi saat ini, harga telur dan cabai yang terus meroket. Kendati demikian, menurut Sam’ani meskipun akan terjadi inflasi, hal itu tidak apa-apa.

“Uang itu berputar di Kabupaten Kudus. Berarti mendongkrak daya beli masyarakat. Ekonomi naik, ya tidak apa-apa,” ungkapnya.

Hanya saja yang menjadi sorotan inflasi di Kabupaten Kudus bisa naik adalah sektor pinjaman. Bahwa ada sebagian warga Kudus yang mengambil pinjaman dan kesulitan mengembalikan dan sampai harus ditagih oleh debt colector.

“Yang menjadi catatan kan soal pinjaman. Makanya seharusnya ada inovasi membantu mereka (peminjam) dalam pemodalan. Contohnya modal tanpa bunga,” sarannya.

Meski demikian, dalam triwulan ketiga tahun 2021 ini, Sam’ani mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kudus mengalami kenaikan cukup baik. Yakni naik 2,77 persen dari target awal 3,1 persen.

Di sisi lain, pendapatan daerah mampu terealisasi 94 persen. Yakni sebanyak Rp 1,876 triliun dari target sebesar Rp 1,986 triliun. Serta belanja daerah yang terealisasi sudah 56,71 persen dari total target sebesar Rp 2,268 triliun.

Pihaknya akan terus menggenjot laju pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 mendatang. Di samping tetap mawas diri terhadap penyebaran virus Covid-19 varian Omicron.

Baca juga : Ini Lima Daerah di Jawa Tengah yang Alami Inflasi Bulan April 2021

“Pertumbuhan ekonomi kita prediksi nanti masih 3,2 persen. Karena setelah pandemi dua tahun ini, aktivitas jual beli masyarakat mulai naik,” katanya.

Dalam upaya tetap menjaga laju perekonomian terus naik, terutama bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang biasanya jualan di sekolah-sekolah, serta Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) seragam sekolah, tas dan lainnya yang sangat terdampak pandemi, menurutnya ikut serta pemerintah sangat dibutuhkan.

“Kita membantu bupati untuk mengembalikan laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kudus. Ada kepedulian pemerintah dan masyarakat membeli barang dagangan para PKL maupun UMKM yang terdampak oleh pandemi virus Covid-19,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER