Air Mata Mbah Mus Pecah, Pisangnya Diborong Demonstran Buruh di Depan Kantor Gubernur Jateng

BETANEWS.ID, SEMARANG – Perempuan paruh baya dengan tertatih menawarkan pisang godog kepada massa aksi demonstrasi buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jawa Tengah di depan Kantor Gubernur, Senin (29/11/2021).

Dia adalah Mustofiah (65) warga Wonosalam, Kabupaten Demak. Dia menawarkan pisang godog dari satu sudut ke sudut massa aksi yang lain.

Tak jarang, Mustofiah ditolak mentah, barang jualannya pun tak laku. Namun, dia tetap gigih hingga usahanya itu berhasil. Ternyata benar, akhirnya pisang godog yang dia bawa itu diborong oleh salah satu peserta aksi buruh.

-Advertisement-

Baca juga : Buruh di Jateng Ancam Mogok Kerja, Matikan Mesin Pabrik Selama Tiga Hari jika Tuntutan Tak Dipenuhi

Senyum sumringah terpancar dari raut wajah Mustofiah. Bibirnya mengembang, pertanda bahwa usahanya menawarkan pisang godog yang dia jual itu tak sia-sia.

“Alhamdulillah, akhirnya ada yang memborong tadi,” katanya sambil mengusap air matanya, Senin (29/11/201).

Air mata yang tumpah itu bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan lantaran pisang itulah harapan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Dia hidup sebatang kara, hal itulah yang membuatnya begitu tegak tak termakan usia. Setelah pisang godognya itu habis, dia duduk di trotoar tepat di belakang massa aksi buruh yang meneriakan aspirasinya.

Dengan teliti, dia menghitung uang hasil dagangannya. Kini dia bisa pulang dengan lebih ringan. Selama dia jualan pisang, baru hari ini jualannya itu bisa habis dalam satu hari.

“Biasanya tak pernah habis,” keluhnya.

Mutofiah ternyata baru memulai jualan pisang satu minggu yang lalu. Awalnya, dia adalah petani namun lahan pertaniannya hancur ditenggelamkan oleh banjir di Wonosalam.

Hal itu membuat tanamannya gagal panen. Akhirnya, dia memilih untuk jualan pisang karena kebetulan dia mempunyai pohon pisang yang sudah berubah.

Baca juga : Demo di Kantor Gubernur, Buruh Tantang Ganjar Abaikan SE Menaker Dalam Penetapan UMP

“Baru satu minggu ini saya jualan tapi sepi terus,” katanya terheran-heran.

Setiap hari dia bolak-balik dari Demak ke Semarang menggunakan bus dan angkot. Lokasinya juga berbeda-beda, kadang di pasar dan Masjid Baiturrahman kadang juga di tempat yang lain.

“Pas lewat kok ada kerumunan, akhirnya saya coba,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER