Festival HAM di Kota Semarang Disebut Tak Efektif

BETANEWS.ID, SEMARANG – Aktivis Kota Semarang menilai, Festival HAM 2021 yang digelar di Kota Semarang pada 16-19 November ini tidak efektif. Karena sampai saat ini, permasalahan HAM di Kota Semarang ada yang belum terselesaikan.

Menyikapi penyelenggarakan Festival HAM tersebut, sejumlah aktivis membuat Aksi Kamisan dengan membuat gerakan rakyat berhenti kooperatif terhadap rezim kapitalisme oligarki.

Baca juga : Kartunis Rusia Menangi Lomba Kartun Festival HAM Semarang

-Advertisement-

“Aksi Kamisan Semarang menuntut kepada pemerintah untuk segera berhenti melakukan perampasan ruang hidup warga,” jelas Juru Bicara Aksi Kamisan Cornel Gea, Jumat (19/11/2021).

Aktivis perempuan dari perwakilan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Kabupaten Demak, Masnuah juga menilai, acara Festival HAM 2021 yang digelar di Kota Semarang dinilai tidak efektif.

“Karena sampai saat ini masalah di pesisir Semarang belum terselesaikan,” ujarnya.

Menurutnya, acara Festival HAM di Kota Semarang menyakiti para korban pelanggaran HAM. Kabupaten Demak yang lokasi tak jauh dari Kota Semarang juga mempunyai permasalahan yang sama, seperti reklamasi, tambang pasir.

“Salah satunya di Demak, yaitu desa-desa yang tenggelam yang dimana sudah puluhan tahun di tempati masyarakat,” katanya.

Sikap pemerintah yang tidak memberikan upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM menyebabkan masyarakat di pesisir sampai saat ini menderita karena rumahnya banyak yang tenggelam.

“Padahal sebelumnya lahan tersebut adalah sawah dan ladang. Sekarang itu sudah hilang,” ujarnya.

Karena hal itu, saat ini mereka terpaksa menjadi buruh dan karyawan yang diwajibkan mempunyai ijazah. Selain itu, akses perjalanan bagi warga yang ada di pesisir juga banyak yang tenggelam.

Baca juga : Anak Muda Jadi Target Paham Radikalisme, Unwahas Luncurkan Pusat Moderasi Beragama

“Selain itu, kerugian besar dari akses masyarakat ikut tenggelam yang menyebabkan banyak korban jiwa akibat akses itu,” paparnya.

Bahkan, lanjutnya, ketika berobat ke rumah sakit, masyarakat yang berada di pesisir Demak beberapa kali pernah menerjag rob yang tingginya hingga 1 meter. Tak jarang mereka harus berobat ke Semarang dan terhambat oleh rob.

“Pemerintah juga belum memerhatikan nasib para warga,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER