
Penulis: Meiliana dan Eugenius Tintus Reinaldi
Dosen Program Nutrisi dan Teknologi Kuliner dan Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata
Asupan makanan yang bergizi, seimbang, dan beragam adalah faktor penting kesehatan fisik maupun mental kita. Memperbanyak konsumsi sayur dan buah adalah salah satu anjuran yang direkomendasi Badan Kesehatan Dunia untuk mencapai asupan gizi yang baik dan seimbang.
Sayangnya, konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia masih belum mencapai separuh dari yang direkomendasikan. Dalam sepuluh tahun terakhir, belum ada perbaikan asupan sayur dan buah yang berarti. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, 2013, dan 2018 mencatat lebih dari 90% penduduk Indonesia dengan usia lebih dari 10 tahun kurang makan sayur dan buah.
Upaya sosialisasi untuk perbaikan pola makan sering dilakukan melalui metode ceramah karena mudah dilakukan dan dapat menjangkau banyak peserta. Banyak dijumpai akun instagram yang giat melakukan acara bincang-bincang maupun mengunggah konten mengenai gizi dan pangan, seperti akun instagram Fakultas Teknologi Pertanian (@ftpunika) maupun akun terkait gizi lainnya seperti @sportpsych.id, @gizipedia.id, @hansboling, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun, nyatanya masih banyak orang yang tidak menerapkan kebiasaan makan yang sehat.
Hal ini merupakan salah satu kelemahan dari metode ceramah. Karena pengajarannya cenderung satu arah, peserta yang mendengar hanya mendapatkan pengetahuan, namun tidak mendapatkan pengalaman nyata yang dapat mengubah kebiasaan. Peserta mungkin mendapatkan insight saat mendengarkan, tapi saat ingin mulai mempraktekkan ilmu yang baru didapatkan, mereka kesulitan. Akhirnya orang-orang hanya sebatas tahu pentingnya makanan yang sehat dan bergizi, namun karena tidak mengalami secara langsung, mereka cenderung mengalami kegagalan di tengah jalan.
Inilah sebabnya ceramah saja tidak cukup untuk mengubah suatu kebiasaan. Karena merubah kebiasaan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, maka perlu dilanjutkan dengan metode lain untuk merubah kebiasaan yang lama menjadi kebiasaan baru. Setelah mengetahui teori melalui ceramah, seseorang perlu mencoba langsung (praktik). Akan baik apabila orang tersebut juga memiliki support group (misal keluarga yang suportif) yang dapat membantu untuk menguatkan dalam proses perubahan kebiasaan.
Satu setengah tahun sudah kita melalui masa pandemi. Keterbatasan mobilitas di masa pandemi sebaiknya jangan hanya dilihat sebagai suatu masalah. Pandemi sukses memunculkan hobi dan aktivitas baru di dalam rumah, salah satunya memasak. Selain itu, kesadaran untuk hidup sehat makin meningkat demi ketahanan tubuh melawan serangan virus. Kondisi ini dapat digunakan sebagai peluang untuk memperbaiki pola makan masyarakat Indonesia.
Berbagai ceramah mengenai makanan sehat sangat banyak ditemui di berbagai webinar dalam 18 bulan terakhir. Akan tetapi, perbaikan perilaku tidak akan dengan mudah dicapai tanpa pertemuan dengan komunitas lain yang memiliki goal yang sama. Saatnya komunitas-komunitas yang peduli dengan pola makan sehat turut aktif mendorong anggotanya (atau follower-nya)untuk mempraktikkan pola makan sehat.
Mulai dari yang sederhana, misalnya dengan memberikan challenge melalui sosial media dimana mereka harus membuat makanan dengan bahan-bahan sehat dan mem-posting foto makanan tersebut di sosial medianya. Interaksi yang didapat dari anggota atau follower lainnya akan menjadi penguatan supaya perilaku baru dapat terbentuk.





