BETANEWS.ID, SEMARANG – ‘Sudah jatuh tertimpa tangga’ itulah peribahasa yang menggambarkan nasib produsen perlengkapan rumah tangga berbahan logam di bantaran Banjir Kanal Timur, Kota Semarang.
Salah satu produsen logam, Rina mengatakan, penjualan produk rumahan menurun hingga 50 persen. Selain mengalami penurunan, harga bahan baku logam juga ikut naik.
“Bahan baku untuk logam ini naik, padahal penjualannya susah,” jelasnya saat ditemui di tokonya, Selasa (7/9/2021).
Baca juga: Dulu Masyhur, Begini Nasib Pasar Logam Terbesar di Jateng Era 70an
Sebelum pandemi, banyak pedagang-pedagang dari luar kota seperi Demak, Purwodadi datang untuk belanja produk rumahan berbahan logam di tempatnya. Namun karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) banyak pembeli yang kesulitan datang.
“Sejak ada PPKM, banyak yang nggak bisa ke Semarang. Jadinya penjualan berkurang,” katanya.
Hal yang sama juga dirasakan penjual logam lain, Kusmiati. Sejak pandemi, penjualan barang-barang rumahan di tokonya terjun bebas. Jika dia hitung, penurunan pembeli hingga 90 persen.
“Pembelinya memang sepi sejak pandemi,” ujarnya.
Selain pandemi, yang membuat pembeli sepi adalah tidak adanya PKL yang ada di dekat sungai. Beberapa ruko yang didiami oleh PKL dipindah ke Pasar Johar Baru dan Pasar Penggaron.
Baca juga: Meski Sudah Dilonggarkan, Pelaku Wisata di Kota Lama Masih Kesulitan Jualan
“Banyak pembeli yang bingung, soalnya tempatnya dibagi dua. Dulu kan terpusat,” paparnya.
Bahkan untuk bertahan hidup, dia hanya mengandalkan sisa tabungan selama pandemi. Lantaran, pembeli di tokonya benar-benar sepi. Meski demikian, dia bersyukur karena masih bisa makan.
“Saya hanya mengandalkan uang tabungan, penghasilan dari produksi logam ini belum bisa diandalkan,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

