Belajar dari Wisma Atlet, Bergas Terapkan Manajemen Isolasi Terpusat di Rusunawa Bakalankrapyak

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus dipercaya menjadi leading sector dalam mengelola tempat isolasi terpusat di Rusunawa Bakalankrapyak. Sejak awal bulan Juni 2021, Kepala Disbudpar Kudus, Bergas Catursasi Penanggungan, mulai sibuk menerima dan mengurus orang tanpa gejala (OTG) pasien Covid-19 yang akan menjalani isolasi mandiri terpusat.

Tidak hanya sendiri, dalam mengurus segala sesuatu yang diperlukan, Disbudpar juga dibantu oleh organisasi perangkat daerah (OPD) dari semua lini. Mulai dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) yang bertanggung jawab atas nakes dan obat-obatan, hingga Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) yang bertanggung jawab untuk kebersihan tempat, ketersediaan ruangan, dan lainnya.

Tak hanya itu, Bergas juga menjelaskan, untuk suplai makanan bagi pasien yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di Rusunawa, mendapatkan dari Kodim 0722/Kudus.

-Advertisement-
Bergas Catursasi Penanggungan, Kepala Disbudpar Kudus. Foto: Nila Rustiyani.

Baca juga : Pemkab Persiapkan Isolasi Terpusat di Kudus Sendiri

Belajar dari Wisma Atlet Jakarta, Bergas menjelaskan, untuk pengelolaan tempat isolasi terpusat ini disesuaikan dengan standar yang diterapkan di sana. Mulai dari sistem manajemen, standar operasional prosedur yang diberlakukan hingga membedakan zona yang bisa diterapkan di Rusunawa Kudus.

“Kita belajar tentang aktivitas dari sisi manajemen yang bisa dipenuhi, sarana prasarana kesehatan yang bisa dilengkapi,” ungkap Bergas saat ditemui di depan Rusunawa Bakalankrapyak, Selasa (29/6/2021).

Manajemen yang diterapkan di Rusunawa sendiri, jelas Bergas, dimulai dengan proses kelengkapan administrasi. Pihaknya menjelaskan, saat pasien dibawa ke Rusunawa, di luar sudah ada petugas yang akan mengecek kelengkapan administrasi. Jika dinyatakan sesuai, pasien akan diarahkan menuju tempat skrining. Sepanjang jalan menuju tempat skrining, pasien harus melewati jalur khusus. Di mana jalurnya ini dibatasi dengan police line berwarna kuning. Membedakan mana yang diperuntukkan pasien, dan mana yang boleh digunakan orang noncovid.

Di tempat skrining, pasien akan dicek bagaimana kondisi kesehatannya. Lalu akan berlanjut ke meja house keeping yang dikelola oleh PKPLH. Di sini, pasien akan mendapatkan kunci kamar dan ditunjukkan di kamar untuk ditempati.

Selama isman, Bergas menjamin semuanya telah dipersiapkan dengan baik. Berbagai fasilitas disiapkan demi membuat nyaman peserta isman.

“Kita sediakan televisi, air minum cukup dan per lantai kita juga sediakan WiFi yang bisa diakses secara gratis,” terangnya.

Selain itu, para pasien isman juga difasilitasi dengan asupan makanan yang gizinya sudah diperhitungkan. Dengan tiga kali makan dalam sehari, snack, buah-buahan, hingga vitamin.

Ada 7 tenaga kesehatan yang disiapkan setiap shift untuk melakukan pengawasan di Rusunawa. Di mana selama 24 jam, nakes selalu standby dan dibagi atas 3 shift. Dengan rincian, 3 tenaga dari puskesmas atau klinik, 4 orang sisanya dari relawan yang memiliki keahlian di bidang kesehatan.

Di sisi lain, setiap pagi, para pasien juga akan diajak untuk melakukan senam pagi. Setelah itu, para pasien juga akan dilakukan skrining untuk mengetahui bagaimana keadaannya. Sambil menunggu antrean skrining, para pasien akan berjemur di bawah terik matahari.

“Setelah itu mereka kembali melakukan aktivitas di dalam kamar masing-masing,” lanjutnya.

Baca juga : Kurangnya Nakes Jadi Kendala Utama Isolasi Terpusat di Desa

Sampai saat ini, Bergas mengatakan masih ada 50 orang yang melakukan isolasi mandiri terpusat di Rusunawa. Sedangkan untuk keterisian tempat tidur, sejauh ini paling banyak terisi di angka 122 tempat tidur dari 180 tempat tidur yang disiapkan.

Sejauh ini pula, lanjutnya, ada beberapa pasien yang bukan asli Kudus, namun berdomisili Kudus melakukan isolasi di Rusunawa. Sekitar 4 orang juga pernah dirujuk ke rumah sakit sebab mengalami gejala covid yang semakin parah dan perlu perawatan lebih lanjut oleh dokter rumah sakit.

“Kita selalu ada tenaga kesehatan yang jaga. Kalau ada yang tiba-tiba malam hari ada yang gejalanya bertambah dan berisiko, kita akan mengubungi 119. Karena sudah tersambung untuk mengetahui ketersediaan bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER