BETANEWS.ID, KUDUS – Fosil gajar purba dari spesies Stegodon Trigonocephalus tampak terpajang di bagian depan di dekat pintu masuk sebuah bangunan. Pun demikian, di beberapa bagian ruangan tersebut juga terpajang aneka fosil purba yang berusia jutaan tahun. Tempat tersebut adalah Museum Patiayam, yakni tempat yang mengoleksi ragam Situs Patiayam.
Salah seorang petugas sekaligus perawat fosil di Museum Situs Patiayam, Arif Mustaqim (34) mengatakan, bahwa bangunan museum berdiri pada tahun 2014. Sebelumnya, benda-benda purba itu sempat berpindah-pindah tempat. Sampai akhirnya dibangun Museum Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.
Baca juga : Semua Destinasi Wisata Milik Pemda Kudus Sudah Dibuka Kembali
“Museum ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus. Sejak tahun 2005 sudah ada. Tapi dulunya tidak di sini. Di rumah Alm Pak Mustofa, dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Dulu namanya Rumah Fosil. Lalu pindah ke Gedung PKK dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Lalu museum ini dibangun dan pindah ke sini,” papar lelaki yang akrab disapa Taqim itu, Selasa (11/8/2020).
Selanjutnya, Taqim menjelaskan jika di dalam Museum Patiayam terdapat sekitar 17 spesies fosil purba. Terdiri dari fosil hewan laut dan darat. Sedangkan jumlah fragmennya sendiri mencapai 7.772 fragmen yang kebanyakan adalah fragmen gajah purba. Sedangkan untuk penemuan fosil terbaru yang belum selesai dikonservasi, ada sekitar 8.000 fragmen fosil.
“Untuk yang sudah dikonservasi dan diletakkan di display lantai 1, ini ada sekitar 7.772 fragmen fosil. Itu mencakup 17 spesies dari hewan laut dan darat. Sedangkan yang belum selesai dikonservasi, ada sekitar 8.000 fragmen fosil dan masih kita simpan di lantai 2,” ungkap dia.
Untuk menentukan umur sebuah fosil, dikatakan Taqim, bisa melalui beberapa macam metode. Yakni bisa melalui metode benang sari jika fosil adalah tumbuhan dan metode karbon jika fosil selain tumbuhan. Akan tetapi, hal itu harus dilakukan di dalam laboratorium oleh para ahli. Sedangkan metode lainnya adalah berdasarkan metode formasi. Seperti formasi Kancilan dan formasi Slumprit.
“Dari berbagai metode itu harus dilakukan oleh para ahli atau peneliti. Sebenarnya penemuan Situs Patiayam ini dari sejak zaman kolonial. Hingga saat ini masih ada. Namun karena kami tidak punya tim ahli dan peneliti, biasanya untuk penelitian dan penyelamatan atau penggalian kita tunggu dari Tim BPSMP (Balai Pelestarian Situs Manusia Purba) Sangiran atau Tim Balai Arkeologi Jogja,” papar dia.
Dalam perjalanannya, Taqim dan petugas lain yang sudah bersertifikasi sebagai perawat fosil mengatakan, jika situs yang ditemukan dan telah dikonservasi selanjutnya dirawat. Perawatannya sendiri dilakukan setiap satu bulan sekali. Yakni meliputi membersihkan fosil dari debu dan jamur, perekatan kembali hingga coating.
Baca juga : Wayang Klithik, Warisan Budaya Penanda Berdirinya Desa Wonosoco
“Kalau perawatan kami rutin melakukannya. Karena fosil purba memang harus dibersihkan rutin. Biasanya untuk membersihkan debu atau jamur kami gunakan alkohol. Lalu untuk perekatan kembali kami gunakan gypsum dicampur lem poxy. Serta untuk coating kami memakai larutan paraloid,” ungkap dia.
Museum yang sempat tutup hampir 4 bulan sejak pandemi itu, dikatakan Taqim kini mulai dibuka kembali untuk umum. Sebagai salah satu wahana wisata edukasi, Museum Patiayam mulai buka sejak pertengahan Juli dari pukul 07.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB setiap hari. Untuk harga tiketnya, ia katakan belum ada patokan alias menggunakan metode kas seikhlasnya.
Editor : Kholistiono

